Kasus Covid di Indonesia Naik, Apakah Kebijakan Pelonggaran Perlu Direvisi?

Siswanto | BBC | Suara.com

Selasa, 14 Juni 2022 | 16:48 WIB
Kasus Covid di Indonesia Naik, Apakah Kebijakan Pelonggaran Perlu Direvisi?
BBC

Suara.com - Kenaikan kasus penularan Covid-19 di Indonesia dalam dua pekan terakhir tidak bisa diabaikan dan semua pihak diminta waspada, walaupun angkanya belum terlalu tinggi, kata ahli penyakit menular.

Tambahan kasus baru Covid-19 di Indonesia selalu menembus 500 per hari sejak awal bulan ini, dan Senin (13/06) kenaikan itu mencapai 591 kasus, menurut data resmi.

Untuk itulah, pemerintah Indonesia dituntut lebih serius menyadarkan masyarakat agar mengenali resiko terpapar infeksi di tengah kebijakan pelonggaran penanganan Covid-19.

Bagaimanapun, Kementerian Kesehatan menyatakan pertambahan kasus Covid-19 dalam dua pekan terakhir "masih terkendali", namun pihaknya tetap bersikap waspada.

Belum diketahui secara pasti penyebab kenaikan penularan, tetapi ini terjadi terutama setelah subvarian Omicron BA.4 dan BA.5 sudah teridentifikasi ada di Indonesia.

Baca juga:

Apa reaksi pemerintah atas kenaikan kasus?

Data Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 pada Senin (13/06) pukul 12.00 WIB, menunjukkan penambahan 591 kasus positif dalam 24 jam terakhir.

Angka terbaru ini menunjukkan bahwa kasus baru Covid-19 di Indonesia selalu menembus 500 per hari sejak awal bulan ini.

Namun, menurut juru bicara Kementerian Kesehatan, Mohammad Syahril, angka kenaikan itu "menurun dalam dua hari terakhir".

Pada Jumat (10/06), tercatat penambahan 627 kasus positif haruan secara nasional.

"Kemudian kemarin tidak diikuti dengan hospitalisasi yang meningkat. Jadi angka yang dirawat (di rumah sakit) tidak naik," kata Syahril kepada BBC News Indonesia, Senin (13/06).

"Kemudian angka yang meninggal juga tidak tinggi, bahkan di bawah standar dan positivity rate kita masih di bawah 1%," tambahnya.

Dengan demikian, Syahril menyimpulkan, laju kenaikan penularan Covid-19 dalam dua atau tiga pekan terakhir "masih terkendali".

Apalagi, menurutnya, situasi penularan Covid-19 masih berada di level satu dari standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Baca juga:

Mengapa subvarian Omicron BA.4 dan BA.5 'harus diwaspadai'

Walaupun demikian, tambahnya, pemerintah tetap mewaspadainya sebagai "bagian dinamika keadaan pandemi".

Kewaspadaan itu juga dilatari teridentifikasinya subvarian Omicron BA.4 dan BA.5 di Indonesia pada 9 Juni 2022 lalu.

"Walaupun BA.4 dan BA.5 ini dilaporkan lebih ringan tingkat keparahannya, tetapi kita tetap wasapada, apalagi terhadap orang-orang yang berisiko tinggi [terpapar]," paparnya.

Sejumlah laporan menyebutkan, Jumat (10/06), di Indonesia, ada satu kasus yang teridentifikasi subvarian BA.4 dan tiga kasus subvarian BA.5.

Kedua varian ini disebutkan memiliki tingkat transmisibilitas atau penyebaran lebih cepat ketimbang subvarian Omicron lainnya.

Namun demikian, varian ini tidak memiliki indikasi menimbulkan kesakitan lebih parah ketimbang varian Omicron lainnya.

"Masyarakat diharapkan tidak panik dan tetap beraktivitas seperti biasa sesuai yang disampaikan Presiden Jokowi dengan pelonggaran yang ada.

"Namun diharapkan segera melakukan booster untuk meningkatkan kembali imunitas kita," kata Syahril, Jumat.

Vaksinasi yang dipercepat sebelumnya sudah sering disuarakan para ahli penyakit menular.

Tren kenaikan kasus dan 'alarm agar lebih waspada'

Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara Profesor Tjandra Yoga, membenarkan kasus kenaikan penularan Covid-19 belakangan ini masih di bawah indikator Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Namun menurutnya, pemerintah "harus lebih waspada" dengan apa yang disebutnya sebagai "tren kenaikan kasus ini".

"Kita harus lihat ini ada tren. Di dalam ilmu kesehatan masyarakat, yang kita lihat bukan hanya kasus mutlak, tapi juga ada tren kenaikan," kata Tjandra kepada BBC News Indonesia, Senin (13/06).

Semula kenaikan itu sekitar 100 kasus per hari, kemudian naik 200-an, 300-an, hingga 500-an kasus. "Jelas ada tren," katanya.

Demikian pula, positivity rate yang semula di bawah 1%, kemudian naik menjadi 1% dan saat ini "satu koma sekian".

"Memang masih di bawah 5%, tetapi ada tren kenaikan. Jadi kenaikan tren ini tidak bisa diabaikan begitu saja.

"Saya setuju agar kita tidak panik, karena situasi masih terkendali sampai saat ini, tapi ada tren kenaikan dan itu bisa menjadi 'alarm' agar kita lebih waspada ke depan," ujar Tjandra.

Apakah kebijakan pelonggaran penanganan Covid-19 perlu direvisi?

Menanggapi penilaian sebagian ahli penyakit menular yang mengkritisi kebijakan pelonggaran pengenaan masker, Kemenkes menyatakan "kebijakan pelonggaran didasarkan penanganan kasus Covid-19 sudah terkendali."

"Sudah jelas apa yang disampaikan Presiden dengan pelonggaran, karena data kita menunjukkan ada kestabilan atau terkendali, tapi tetap ada pembatasan dengan kehati-hatian," kata juru bicara Kemenkes Mohammad Syahril, Senin (13/06)

"Ini bentuk dari kebijakan, kearifan seorang pemimpin atau kita semua bahwa kita tidak gegabah, tidak juga panik," tambahnya.

Ahli penyakit menular, Tjandra Yoga, mengatakan, kenaikan kasus Covid-19 belakangan ini tidak serta-merta dengan melakukan pengetatan.

Dia meminta agar pemerintah meneliti faktor penyebab pasti kenaikan kasus penularan ini dan "apakah bisa dikendalikan situasi yang ada sekarang".

Kesimpulan penelitian ini dapat dijadikan bahan untuk merevisi atau mempertahankan kebijakan pelonggaran yang ditempuh pemerintah.

"Sesudah kita mengetahui secara persis apa penyebab kenaikan ini, baru dilakukan review apakah kebijakan yang ada tetap diberlakukan atau perlu diperketat atau diperlonggar," jelasnya.

Hanya saja, Tjandra mengingatkan, masyarakat "agak kebablasan" dalam menerjemahkan kebijakan pelonggaran yang dilakukan pemerintah.

"Dalam ruangan tidak mengenakan masker, di luar banyak sekali yang tidak bermasker," ujar Tjandra. Dia kemudian meminta masyarakat untuk menahan diri.

Bagi ahli penyakit menular dari Universitas Udayana, Bali, Pande Januraga, pelonggaran pembatasan terkait Covid-19 membuat masyarakat "seperti euforia".

"Masyarakat cenderung abai bahkan untuk kondisi yang seharusnya masih dipandang beresiko tinggi, misalnya pengenaan di dalam ruangan, banyak yang sudah mulai mengabaikan resiko itu," kata Pande kepada BBC News Indonesia, Senin (13/06).

Di sinilah, Pande meminta agar pemerintah meningkatkan kampanye kepada masyarakat untuk mengenali resiko "kapan mereka bisa rileks dan kapan mereka lebih ketat".

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Terkini

KSPI Boikot May Day di Monas, Tagih Janji Presiden soal RUU PPRT

KSPI Boikot May Day di Monas, Tagih Janji Presiden soal RUU PPRT

News | Rabu, 15 April 2026 | 19:05 WIB

Gubernur Pramono Lantik Serentak 11 Pejabat DKI: Syafrin Liputo Resmi Jadi Wali Kota Jaksel

Gubernur Pramono Lantik Serentak 11 Pejabat DKI: Syafrin Liputo Resmi Jadi Wali Kota Jaksel

News | Rabu, 15 April 2026 | 19:03 WIB

Drama 13 Hari Siswi SMK Bekasi Hilang Usai Diusir Ibu, Berhasil Dilacak Lewat Sinyal HP

Drama 13 Hari Siswi SMK Bekasi Hilang Usai Diusir Ibu, Berhasil Dilacak Lewat Sinyal HP

News | Rabu, 15 April 2026 | 18:58 WIB

Bukan Cuma Fisik, Chat Mesum Termasuk Kekerasan Seksual: Pakar Soroti Kasus Mahasiswa UI

Bukan Cuma Fisik, Chat Mesum Termasuk Kekerasan Seksual: Pakar Soroti Kasus Mahasiswa UI

News | Rabu, 15 April 2026 | 18:44 WIB

Tuduh Jubir KPK Sebar Fitnah Soal Sitaan Barang, Faizal Assegaf Lapor ke Dewas

Tuduh Jubir KPK Sebar Fitnah Soal Sitaan Barang, Faizal Assegaf Lapor ke Dewas

News | Rabu, 15 April 2026 | 18:39 WIB

Aktivis Sambut Seruan Dasco: Persatuan Nasional Lebih Krusial daripada Opini Disharmoni

Aktivis Sambut Seruan Dasco: Persatuan Nasional Lebih Krusial daripada Opini Disharmoni

News | Rabu, 15 April 2026 | 18:35 WIB

Solusi Macet Jakarta? DKI Bangun Flyover Latumenten dan Bintaro Puspita Hingga 2030

Solusi Macet Jakarta? DKI Bangun Flyover Latumenten dan Bintaro Puspita Hingga 2030

News | Rabu, 15 April 2026 | 18:30 WIB

Pemprov DKI Siap Siaga Hadapi KLB Keracunan Pangan, Perketat Pengawasan MBG di Sekolah

Pemprov DKI Siap Siaga Hadapi KLB Keracunan Pangan, Perketat Pengawasan MBG di Sekolah

News | Rabu, 15 April 2026 | 18:30 WIB

Sandiaga Uno Sebut Ekonomi Hijau Kunci Utama Ciptakan Lapangan Kerja Masa Depan

Sandiaga Uno Sebut Ekonomi Hijau Kunci Utama Ciptakan Lapangan Kerja Masa Depan

News | Rabu, 15 April 2026 | 18:20 WIB

Ngaku Jadi Korban 'Deepfake' AI, Rismon Sianipar Bantah Fitnah Jusuf Kalla: Itu Video Rekayasa!

Ngaku Jadi Korban 'Deepfake' AI, Rismon Sianipar Bantah Fitnah Jusuf Kalla: Itu Video Rekayasa!

News | Rabu, 15 April 2026 | 18:20 WIB