Ilmuwan Universitas Oxford: Vaksin Malaria Baru Mengubah Dunia

Siswanto | BBC | Suara.com

Jum'at, 09 September 2022 | 11:48 WIB
Ilmuwan Universitas Oxford: Vaksin Malaria Baru Mengubah Dunia
BBC

Suara.com - James Gallager Koresponden kesehatan dan sains

Vaksin malaria yang berpotensi "mengubah dunia" kini sedang dikembangkan oleh para ilmuwan di Universitas Oxford, Inggris.

Tim ilmuwan berharap vaksin tersebut bisa mulai digunakan tahun depan, setelah uji coba baru-baru ini menunjukkan perlindungan hingga 80% terhadap penyakit yang mematikan itu. 

Yang paling penting, menurut para ilmuwan, vaksin itu akan dijual dengan harga murah dan mereka telah memiliki kesepakatan untuk memproduksi lebih dari 100 juta dosis per tahun. 

Badan amal Malaria No More berkata, kemajuan tentang vaksin malaria baru-baru ini berarti anak-anak yang meninggal karena malaria dapat berakhir “dalam hidup kita”.

Baca juga:

Diperlukan lebih dari satu abad untuk mengembangkan vaksin yang efektif melawan parasit malaria—yang disebarkan oleh nyamuk—yang sangat kompleks dan sulit dipahami. 

Parasit ini adalah target yang terus bergerak, mengubah bentuk di dalam tubuh, yang membuatnya sulit untuk diimunisasi.

Tahun lalu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memberikan lampu hijau untuk vaksin malaria pertama—aksi yang bersejarah—yang dikembangkan oleh perusahaan farmasi raksasa GSK untuk digunakan di Afrika.

Namun, tim ilmuwan Oxford mengeklaim pendekatan mereka lebih efektif dan dapat diproduksi dalam skala yang jauh lebih besar.

Hasil uji coba vaksin yang dikembangkan tim ilmuwan Oxford terhadap 409 anak di Nanoro, Burkina Faso, telah dipublikasikan di Lancet Infectious Diseases.

Hasil uji coba itu menunjukkan tiga dosis awal diikuti oleh booster setahun kemudian memberikan perlindungan hingga 80%.

"Kami pikir data ini adalah data terbaik di lapangan dibanding vaksin malaria apa pun," kata Profesor Adrian Hill, direktur Jenner Institute di universitas tersebut.

Tim ilmuwan akan memulai proses agar vaksin mereka disetujui dalam beberapa pekan ke depan, tetapi keputusan akhir akan bergantung pada hasil uji coba terhadap 4.800 anak sebelum akhir tahun.

Produsen vaksin terbesar di dunia—Serum Institute of India—sudah bersiap untuk memproduksi lebih dari 100 juta dosis per tahun.

Profesor Hill mengatakan vaksin malaria—yang disebut R21—dapat dijual dengan harga  "beberapa dolar" dan "kami sangat bisa melihat pengurangan yang sangat substansial terkait beban malaria yang menghebohkan itu".

Baca juga:

Dia menambahkan: "Kami berharap [vaksin] ini akan dikembangkan dan tersedia dan menyelamatkan nyawa, tentu saja pada akhir tahun depan.

Malaria telah menjadi salah satu momok terbesar bagi umat manusia selama ribuan tahun dan kebanyakan membunuh bayi dan balita. 

Saat ini, penyakit ini membunuh lebih dari 400.000 orang per tahun, bahkan setelah penemuan kelambu, insektisida, dan obat-obatan.

Menurut Badan Kesehatan Dunia, WHO, Indonesia masih menjadi satu dari sembilan negara endemi malaria di Asia Tenggara, dengan kasus terdiri dari 21% kasus dan 16% kematian akibat malaria. Angka melaria masih cukup tinggi, menurut WHO, walaupun banyak pencapaian Indonesia dalam eradikasi malaria.

Vaksin malaria ini adalah vaksin  ke-14 yang dikerjakan Profesor Katie Ewer di Oxford karena "ini tidak seperti Covid di mana kami memiliki tujuh vaksin yang akan langsung bekerja... ini jauh, jauh lebih sulit".

Dia mengatakan kepada BBC bahwa "sangat memuaskan" untuk mencapai sejauh ini dan "potensi pencapaian yang dapat dicapai oleh vaksin ini jika diluncurkan bisa sangat  mengubah dunia".

Mengapa begitu efektif?

Vaksin malaria yang saat ini telah disetujui—dibuat oleh GSK—memiliki kesamaan dengan vaksin yang dikembangkan di Oxford.

Keduanya menargetkan tahap pertama siklus hidup parasit dengan mencegatnya sebelum sampai ke hati dan membangun tumpuan di dalam tubuh.

Vaksin dibuat menggunakan kombinasi protein dari parasit malaria dan virus hepatitis B, tetapi vaksin versi Oxford memiliki proporsi protein malaria yang lebih tinggi. 

Tim ilmuwan berpikir ini membantu sistem kekebalan untuk fokus pada malaria daripada hepatitis.

Keberhasilan vaksin GSK telah membuka jalan bagi Oxford untuk optimis mengeluarkan vaksin mereka tahun depan - seperti dengan menilai seberapa layak program vaksinasi digelar di Afrika.

Baca juga:

Betapapun, sulit untuk memberikan perbandingan langsung dari kedua vaksin.

GSK telah melalui uji coba di dunia nyata, sementara hasil uji coba vaksin Oxford tampak lebih efektif sebab diberikan tepat sebelum puncak musim malaria di Burkina Faso. 

Profesor Azra Ghani, ketua epidemiolog penyakit menular di Imperial College London, mengatakan hasil uji coba "sangat disambut", namun dia memperingatkan bahwa perlu dana untuk mendapatkan vaksin tersebut. 

"Tanpa investasi ini, kita berisiko kehilangan keuntungan yang telah dicapai selama beberapa dekade terakhir dan menyaksikan gelombang kebangkitan malaria," ujarnya.

Gareth Jenkins, dari badan amal Malaria No More UK mengatakan hasil vaksin R21 adalah “sinyal lain yang menggembirakan”.

“Dengan dukungan yang tepat, dunia dapat mengakhiri kematian anak akibat malaria dalam hidup kita."

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Terkini

Hakim Militer Minta Ahli Kimia Uji Campuran Air Keras dalam Kasus Andrie Yunus

Hakim Militer Minta Ahli Kimia Uji Campuran Air Keras dalam Kasus Andrie Yunus

News | Rabu, 06 Mei 2026 | 21:43 WIB

Ade Armando Pamit dari PSI: Tameng untuk Jokowi atau Sekadar Strategi 'Cuci Tangan' Politik?

Ade Armando Pamit dari PSI: Tameng untuk Jokowi atau Sekadar Strategi 'Cuci Tangan' Politik?

News | Rabu, 06 Mei 2026 | 21:01 WIB

Siasat Licin Teroris JAD di Sulteng: Jualan Buah di Siang Hari, Sebar Propaganda ISIS di Medsos

Siasat Licin Teroris JAD di Sulteng: Jualan Buah di Siang Hari, Sebar Propaganda ISIS di Medsos

News | Rabu, 06 Mei 2026 | 20:50 WIB

Waka DPR Soroti Darurat Kekerasan Seksual di Pendidikan: Harus Ada Efek Jera dan Sanksi Berat!

Waka DPR Soroti Darurat Kekerasan Seksual di Pendidikan: Harus Ada Efek Jera dan Sanksi Berat!

News | Rabu, 06 Mei 2026 | 20:37 WIB

Kata Pengamat Soal Rupiah Melemah: Jangan Panik, Tak Bakal Ganggu Daya Beli

Kata Pengamat Soal Rupiah Melemah: Jangan Panik, Tak Bakal Ganggu Daya Beli

News | Rabu, 06 Mei 2026 | 20:08 WIB

Kemensos Siapkan Skema Transisi Dapur Mandiri Siswa Sekolah Rakyat

Kemensos Siapkan Skema Transisi Dapur Mandiri Siswa Sekolah Rakyat

News | Rabu, 06 Mei 2026 | 20:07 WIB

Gus Ipul Pastikan Pengadaan Sepatu Sekolah Rakyat Transparan

Gus Ipul Pastikan Pengadaan Sepatu Sekolah Rakyat Transparan

News | Rabu, 06 Mei 2026 | 20:04 WIB

Tutup Program Magang Kemendagri Wamendagri Bima Arya Tekankan Pentingnya Penguatan Karakter

Tutup Program Magang Kemendagri Wamendagri Bima Arya Tekankan Pentingnya Penguatan Karakter

News | Rabu, 06 Mei 2026 | 20:04 WIB

Evaluasi Rekrutmen Polri: Hapus Kuota Khusus, Libatkan Multi-aktor

Evaluasi Rekrutmen Polri: Hapus Kuota Khusus, Libatkan Multi-aktor

News | Rabu, 06 Mei 2026 | 19:57 WIB

Revitalisasi 71.744 Sekolah Tahun 2026, Mendikdasmen Siapkan Dana Rp14 Triliun

Revitalisasi 71.744 Sekolah Tahun 2026, Mendikdasmen Siapkan Dana Rp14 Triliun

News | Rabu, 06 Mei 2026 | 19:49 WIB