Tapi ia pun sadar jika dirinya dihadapkan dengan risiko kematian setiap kali keluar rumah.
"Saya takut dengan nasib saya dan setiap kali keluar rumah tidak pernah tahu apakah akan kembali dengan selamat atau tidak," kata Donya.
"Harga kebebasan adalah darah kita sendiri."
Gahst-e-Ershad, istilah untuk polisi moralitas di Iran, bertugas untuk mengawasi aturan berpakaian yang ketat. Para perempuan di Iran di atas usia pubertas harus mengenakan penutup kepala dan pakaian longgar di depan umum.
Setiap kali keluar rumah, Donya harus mengendap-ngendap sehingga tidak ditangkap mereka.
"Rasanya seperti berada di zona perang. Kita tidak tahu kapan unjuk rasa akan terjadi dan jika pun kita ikut-ikutan, tetap harus siap dengan apapun yang akan terjadi," katanya.
"Saya membawa baju tambahan di dalam tas karena mereka [penjaga] menggunakan bola cat saat unjuk rasa, sehingga mereka bisa menandai dan menangkap kita."
Ia juga selalu berhati-hati dan tidak membawa ponselnya saat meninggalkan rumah.
"Kalau mereka menangkap kita, dan melihat ponsel kita, mereka akan menggeledah isinya untuk melihat apakah kita pernah mengunggah hal buruk tentang mereka," katanya.
"Mereka bisa menembak kita kalau memakai ponsel saat unjuk rasa."
Pernah ditangkap
Pada pukul 21:00 setiap harinya, warga di sekitar rumah Donya akan mematikan lampu rumah mereka dan meneriakan "matilah ditaktor" atau "perempuan, hidup, kebebasan."
"Mereka berdiri di belakang jendela yang terbuka sehingga kita bisa mendengar mereka dari luar rumah," kata Donya.
"Tapi mereka mematikan lampu sehingga tidak ada yang tahu suara itu datang dari rumah yang mana."
Teriakan itu menggelegar di sepanjang jalan dan menjadi simbol solidaritas feminisme.
"Ini menciptakan perasaan jika kita tidak sendiri dan [rezim] ini harus membayar atas apa yang sudah mereka lakukan pada negara ini."
Seperti Mahsa Amini, banyak perempuan lainnya di Iran, termasuk Donya pernah ditangkap polisi moralitas karena tidak mengenakan pakaian "layak".
ABC tidak mendeskripsikan detail dari kasus tersebut untuk melindungi identitas Donya.
"Mereka melemparkan saya dalam van, ini sangat menakutkan, kita bisa saja terbunuh dengan mudahnya," katanya.
"Waktu saya ditangkap, semua orang berteriak dan menangis. Kadang saya masih mimpi soal itu."
Donya hanya bisa meminta maaf saat ditangkap, namun tetap menerima pertanyaan 'apa motif Anda?'
"Pilihan jawabannya banyak, salah satunya 'Saya dibodohi agen berita di luar negara Iran'," katanya.
Komite yang melindungi wartawan di Iran mengatakan setidaknya 35 wartawan sudah ditangkap karena meliput unjuk rasa tersebut.
Iran 'hidup dengan harapan dan mimpi'
Kepala Negara Iran Ayatollah Ali Khamenei melarang apa yang disebutnya sebagai "pemberontakan" dan menuding Amerika dan Israel sebagai perencana di baliknya.
Ia mengatakan mereka yang menggelar unjuk rasa untuk "menyabotir" negara pantas mendapatkan "hukuman berat".
Donya sudah beberapa kali menangis ketika diwawancara ABC, tapi ia berharap akan ada revolusi di negaranya.
"Warga sudah tidak mau menaati lagi, orang-orang bukanlah 'warga negara baik' kalau sudah di dalam kediktatoran," katanya.
"Kita hidup dengan harapan dan mimpi."
"Kalau kita menang, kemenangan itu menjadi milik semua perempuan."
Diproduksi dan dirangkum oleh Natasya Salim dari laporan dalam bahasa Inggris