"Ini pertama kalinya banjir di tempat kami dan suami saya shock makanya dia sempat enggak percaya."
Selama dua hari terakhir, Wenny menumpang di rumah temannya di Merrigum, yang berjarak sekitar 24 kilometer dari tempat tinggalnya.
Di sana ia tinggal dengan tiga teman lainnya yang juga ikut mengungsi.
Saat meninjau rumahnya kemarin, Wenny mengatakan tamannya sempat terendam air namun bersyukur tidak ada air yang masuk ke dalam rumahnya.
"Di halaman belakang kan suami saya suka menanam dan ada balok-balok, itu runtuh semua baloknya kena hujan, dan tong sampah tumpah semua," kata Wenny.
Untuk bisa melihat kondisi rumhanya, ia harus berjalan kaki selama hampir satu jam karena banyaknya jalanan yang ditutup.
Pertama kali alami banjir
Kesulitan akses juga dialami warga Indonesia di Shepparton, Suyitno, atau akrab disapa Kintong yang mengatakan hujan turun selama berhari-hari pekan lalu.
"Saya bawa mobil saya jemput teman dari Griffith enam jam, enggak ada berhentinya hujan itu. Kenceng banget," katanya.
"Dan waktu saya pulang dari Seymour, biasa jarak saya tempuh satu jam, ini nyari jalan [yang dibuka] sampai 4-5 jam baru sampai rumah.
"Terendam banjir semua."
Kintong juga sempat menyaksikan mobil karavan tenggelam dalam perjalanan yang menurutnya "mengerikan".
"Ini yang pertama kalinya saya mengalami banjir ... yang paling parah," katanya.
"Dulu di tahun 2017 sempat ada hujan besar satu minggu, saya enggak kerja tapi cuma di farm-farm saja yang banyak air. Debit airnya tidak seperti ini."
Meski hingga Selasa pagi rumahnya tidak terendam air, ia tetap mengungsi ke Cobram, 51 kilometer dari Shepparton demi bisa bekerja di kebun, karena sudah minggu ia kehilangan pekerjaannya.
Kehilangan pekerjaan akibat banjir juga dialami Mohamad Darmadi, akrab disapa Darma.
"Saya agak khawatir kalau imbas banjir yang berkepanjangan terhadap ladang pertanian," ujarnya.
Darma hanya bisa menunggu sampai kondisi cuaca membaik, meski kini ia khawatir dengan biaya sewa rumah yang tetap harus dibayarnya.
"Setiap minggu harus bayar sewa rumah, sekarang ini saya bayar Rp1,3 juta per minggu, namun di tempat lain naik terus ada yang sudah Rp1,7 juta," katanya lagi.
"Sekarang tidak ada pekerjaan, ya otomatis tidak ada pemasukan."
Darma berharap akan ada bantuan dari pemerintah setempat untuk menolong para pekerja yang mengalami masalah keuangan.
"Kalau bisa dapat bantuan ya tidak terlalu khawatir, biasanya di sini ada bantuan dari pemerintah seperti ketika COVID, saya mendapat kabar dari mulut ke mulut adanya bantuan, dan saya mendaftar dan dapat," ujarnya.
"Menurut saya untuk tanggap darurat, pemerintah di sini lebih cepat."
Menurut situs Services Australia, warga yang terdampak banjir dan memenuhi syarat bisa mengklaim bantuan biaya Pemulihan Bencana Alam Darurat Pemerintah Australia.
Biaya bantuan ini ditujukan untuk warga yang tinggal di 14 daerah terdampak banjir Victoria di bulan Oktober 2022 hingga 17 April 2023.
Salah satu syarat untuk mendapat biaya bantuan ini adalah warga berstatus penduduk tetap atau memegang visa yang sah sesuai ketentuan yang tercantum.
Pemerintah Victoria juga mengumumkan akan menyediakan dana sebesar A$15 juta untuk dukungan rumah, kesehatan, konseling keuangan dan hukum bagi warga setempat.
Program dana bantuan darurat pembangunan juga akan memberikan bantuan bagi warga yang propertinya rusak parah karena banjir.