Gempa Cianjur Berulang Tiap 20 Tahun, Literasi Rendah Picu Banyak Korban

Siswanto, BBC

Rabu, 23 November 2022 | 04:58 WIB
Gempa Cianjur Berulang Tiap 20 Tahun, Literasi Rendah Picu Banyak Korban
BBC

Suara.com - Gempa Cianjur yang terjadi pada Senin (21/11) merupakan “gempa dengan siklus berulang setiap 20 tahun”, namun literasi kegempaan yang rendah dan mitigasi bencana yang buruk ditenggarai menyebabkan tewasnya ratusan jiwa dan kerusakan yang masif, kata pakar kegempaan dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Irwan Meilano.

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati mengatakan gempa serupa di wilayah Cianjur juga terjadi pada tahun 1982 dan 2000.

Sumber gempa diyakini berada di zona sesar Cimandiri, yang memiliki potensi gempa hingga magnitudo 6,7.

BMKG pun telah menyatakan wilayah Cianjur sebagai “kawasan rawan gempa permanen” dengan riwayat gempa bumi merusak yang telah tercatat setidaknya sejak 1844.

Lalu, mengapa guncangan gempa yang oleh Irwan disebut “berskala moderat” ini menyebabkan ratusan orang tewas dan kerusakan yang masif?

Baca juga:

Tiga faktor penyebab gempa

Menurut Irwan, ada tiga faktor yang memengaruhi mengapa gempa berkekuatan moderat di Cianjur bisa berdampak begitu fatal.

Pertama, gempa yang terjadi cukup dangkal pada kedalaman 10 kilometer.

Selain itu terjadi pula amplifikasi, yakni bertambahnya kekuatan dari guncangan gempa pada wilayah yang memiliki lapisan tanah lunak.

baca juga

Cianjur merupakan wilayah dengan karakter berbukit yang bergelombang hingga terjal karena berada di sisi tenggara Gunung Gede.

Ini pula yang menyebabkan terjadinya longsor di beberapa titik.

BNPB hingga Selasa malam menyatakan ada 12 kecamatan yang terdampak gempa, menyebabkan lebih dari 58.000 jiwa mengungsi.

Faktor kedua ialah penduduknya yang padat.

Gempa yang sama yang terjadi 20 tahun lalu, kata Irwan, dampaknya tidak akan sebesar saat ini.

Jumlah penduduk yang lebih padat membuat jumlah korban yang terdampak pun menjadi lebih besar.

Faktor ketiga adalah bangunan di wilayah terdampak memiliki struktur yang tidak tahan gempa.

“Banyak kerusakan terjadi karena stukturnya tidak disiapkan untuk itu,” kata Irwan kepada wartawan BBC News Indonesia, Nicky Aulia Widadio.

Menurut Irwan, hal itu terjadi karena pemerintah daerah dan masyarakat tidak memahami risiko gempa yang mengintai di wilayah mereka.

“Kalau pun paham, mereka tidak menjadikan itu sebagai prioritas," kata Irwan.

“Saya melihat ada ketiga kemungkinan tersebut yang menyebabkan dampaknya begitu signifikan, entah yang mana yang paling berkontribusi, atau mungkin kombinasi ketiganya,” lanjut dia.

Apa yang diketahui warga soal risiko bencana?

Sejumlah korban gempa yang kehilangan rumahnya di Desa Cibereum, Kecamatan Cugenang, Cianjur, mengaku “tidak tahu” bahwa kawasan tempat tinggalnya termasuk rawan bencana.

Rodiyah, 55, mengatakan gempa kali ini adalah “gempa paling besar” yang dia rasakan selama tinggal di Desa Cibereum.

“Dulu mah paling gempa biasa-biasa, kecil-kecil, enggak terasa. Tapi ini yang paling… Allahuakbar besar.. rumah juga roboh sampai tinggal di tenda darurat ini, baru sekarang terasa,” kata Rodiyah kepada wartawan BBC News Indonesia, Muhammad Irham.

“Enggak [tahu], dari dulu juga enggak. Dari dulu suka lihat di TV, di sana gempa, banjir kita mah alhamdulillah, bersyukur. Ternyata sekarang musibah begini,” tutur Rodiyah.

Warga Desa Cibereum lainnya, Yani Mulyani, 55 mengaku tidak pernah ada edukasi kepada warga terkait mitigasi dan evakuasi ketika gempa bumi terjadi.

“Belum ada (edukasi). Memang ada gempa udah dua malam, namanya musibah kan kita enggak tahu. Enggak ada aba-aba tau-tau besar begitu,” kata Yani.

Dari mana sumber gempa Cianjur?

BMKG sejauh ini menduga bahwa sumber gempa berasal dari bagian sistem sesar Cimandiri.

Sesar Cimandiri adalah sesar aktif yang membentang sekitar 100 kilometer dari Pelabuhan Ratu, Sukabumi, Cianjur, hingga Padalarang.

Sejarah gempa bumi yang tercatat terjadi di sesar ini pun cukup banyak.

“Itu masih dugaan, kami masih akan terus melakukan monitoring pengukuran di lapangan atau bisa dimungkinkan juga dari sesar Padalarang. Jadi antara keduanya tersebut,” kata Kepala BMKG Dwikorita Karnawati dalam konferensi pers di Cianjur, Selasa (22/11).

Sejumlah pakar, termasuk Irwan, juga meyakini bahwa gempa Cianjur “bersumber dari zona sesar Cimandiri”.

Tetapi pusat gempa kemudian diketahui terletak pada jarak sekitar 9 kilometer ke arah barat dari bidang yang sebelumnya didefinisikan sebagai sesar Cimandiri.

Temuan itu memicu diskusi di antara para pakar, apakah sumbernya benar-benar dari Cimandiri atau ada sesar baru lainnya yang selama ini belum teridentifikasi.

Irwan menduga ada beberapa kemungkinan, entah itu sesar Cimandiri yang selama ini didefinisikan dengan tepat atau dua sesar baru yang saling paralel.

Bagaimana riwayat gempa di Cianjur?

Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Daryono mengatakan wilayah Cianjur termasuk daerah jalur gempa yang cukup aktif. Begitu pula dengan wilayah Sukabumi, Lembang, Purwakarta dan Bandung.

Terdapat sejumlah sesar di wilayah itu yakni sesar Cimandiri, Padalarang, Lembang, Cirata, serta banyak sesar minor lainnya.

Karakter gempa yang mengancam wilayah ini pun tergolong dangkal, sehingga menurut Daryono, "tidak butuh kekuatan besar".

"Kekuatan 4, 5, 6 pun bisa memicu kerusakan," ujar Daryono.

Gempa pertama yang tercatat oleh BMKG di wilayah ini terjadi pada 1844.

Sebelum itu, gempa di wilayah Cianjur kemungkinan juga sering terjadi, namun belum tercatat.

Gempa yang merusak kembali terjadi di wilayah Cianjur dan sekitarnya pada 1910.

"Kemudian pada 21 Januari 1912 juga banyak terjadi kerusakan rumah di perbatasan Cianjur dan Sukabumi," tutur Daryono.

Gempa selanjutnya yang tercatat yakni pada 2 November 1968, di mana gempa berkekuatan 5,4 menyebabkan "banyak sekali rumah roboh".

Lalu pada 10 Februari 1982, gempa berkekuatan 5,5 menyebabkan kerusakan dan korban jiwa.

Gempa merusak terakhir yang tercatat sebelum gempa terbaru ini, yakni pada 12 Juli 2000 yang menyebabkan lebih dari 1.900 rumah rusak berat.

Sebelum gempa berkekuatan 5,6 pada Senin (21/11), BMKG pun mencatat terjadi tiga gempa berkekuatan 2,6 hingga 4,1 di Danau Cirata.

"Waktu itu masyarakat merasakan karena (gempa) terjadi pada dini hari, 4,1 itu cukup kuat," kata Daryono.

Dengan riwayat panjang gempa ini, Daryono mengatakan "penting untuk terus mengidentifikasi sumber gempa dan jalur sesar aktif".

https://twitter.com/DaryonoBMKG/status/1594883625040084993?s=20&t=n3_pIhZqsOcsDGqTcZ3l8w

Mitigasi apa yang perlu dilakukan?

Menurut Irwan, salah satu poin krusial yang harus dilakukan pasca-gempa ini adalah membangun kembali hunian masyarakat yang tahan gempa atau di kawasan yang lebih minim dampak guncangan.

Untuk melaksanakan itu, perlu dilakukan kajian yang mendalam.

“Penting untuk memastikan dimana lokasi bangunan tersebut? Apakah termasuk dalam zona sesar, atau bisa jadi (bangunan) yang rusak jauh dari sesar, tapi dibangun dengan kaidah tidak baik,” tutur Irwan.

“Kalau dibangun di tempat yang sama, pastikan tempat yang sama itu tidak di wilayah di mana sesar itu mungkin jadi sumber gempa lagi, jangan sampai baru dibangun, lalu beberapa puluh tahun kemudian rusak lagi dengan gempa berkekuatan sama,” lanjut dia.

Untuk bangunan yang berada di jalur sesar gempa, Irwan mengatakan penting merelokasi pembangunannya. Sebab pada area ini, struktur bangunan yang baik pun tidak cukup untuk menahan guncangan gempa.

Sistem zonasi seperti itu pascabencana, kata dia, telah dilakukan dengan cukup baik setelah gempa di Palu pada 2018.

Namun, Irwan mengatakan masih banyak masyarakat yang hidup di zona sesar aktif dan tidak menyadarinya.

Padahal zona sesar aktif sangat perlu dipertimbangkan dalam pembangunan.

“Perlu diterapkan area yang tidak boleh dibangun, suatu zona yang tidak terlalu luas koridornya, misalnya dijadikan sebagai kawasan hijau. Ini sangat mungkin dilakukan di kawasan sesar Cimandiri karena memang relatif banyak daerah belum dibangun di dekat sesar,” jelas Irwan.

Namun dalam konteks lebih luas, penerapan sistem zonasi rawan bencana ini tidak mudah dilakukan karena berbenturan dengan kepentingan lain.

Pada banyak kasus bencana di Indonesia, penetapannya baru dilakukan setelah bencana terjadi.

“Itu perlu komitmen, tidak mudah mendifinisikan, oke ini enggak boleh dibangun. Karena sering kali kepentingannya lebih kompleks dari sekedar kepentingan untuk pengurangan risiko bencana,” kata Irwan.

Terkait situs gempa di Cianjur yang berulang, Irwan mengatakan telah ada pemetaan soal kawasan rawan bencana yang menjadi acuan untuk memitigasi risiko gempa bumi berdasarkan konteks sumber gempa dan guncangannya.

“Tapi upaya yang lebih menyentuh pada aspek masyarakat, kita tidak melihat ada upaya sistematis ke arah sana. Menurut saya, kita harus lebih serius mengarusutamakan pengurangan risiko gempa bumi sebagai bagian dari perencanaan pembangunan,” ujarnya.

-

Muhammad Irham berkontribusi dalam laporan ini dari Cianjur, Jawa Barat

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Respons Kepala BMKG soal Munculnya Daratan Baru di Anak Krakatau dan Potensi Tsunami

Respons Kepala BMKG soal Munculnya Daratan Baru di Anak Krakatau dan Potensi Tsunami

Video | Minggu, 27 September 2026 | 19:15 WIB

Euforia Harvest Moon dan Ironi Warga Kota Besar yang Dijajah 'Polusi Cahaya'

Euforia Harvest Moon dan Ironi Warga Kota Besar yang Dijajah 'Polusi Cahaya'

Your Say | Minggu, 27 September 2026 | 16:05 WIB

Prakiraan Cuaca Jakarta Hari Ini: Cerah Berawan hingga Hujan Ringan

Prakiraan Cuaca Jakarta Hari Ini: Cerah Berawan hingga Hujan Ringan

News | Jum'at, 25 September 2026 | 07:59 WIB

Mengapa Musin Hujan Tahun Ini Telat? El Nino Kuat Jadi Dalang di Balik Kemarau Panjang

Mengapa Musin Hujan Tahun Ini Telat? El Nino Kuat Jadi Dalang di Balik Kemarau Panjang

News | Rabu, 23 September 2026 | 15:18 WIB

BMKG Sebut Hujan Turun Berangsur Guyur Area Karhutla hingga Bulan Oktober

BMKG Sebut Hujan Turun Berangsur Guyur Area Karhutla hingga Bulan Oktober

Video | Selasa, 22 September 2026 | 22:10 WIB

Jakarta Diguyur Hujan, Operasi Modifikasi Cuaca Akhirnya Berhasil

Jakarta Diguyur Hujan, Operasi Modifikasi Cuaca Akhirnya Berhasil

News | Selasa, 22 September 2026 | 20:41 WIB

BMKG Prediksi Musim Hujan 2026-2027 Mundur, 61 Persen Wilayah Indonesia Terdampak

BMKG Prediksi Musim Hujan 2026-2027 Mundur, 61 Persen Wilayah Indonesia Terdampak

Video | Selasa, 22 September 2026 | 20:05 WIB

BMKG Ungkap 2 Fenomena yang Bikin Musim Hujan Datang Terlambat

BMKG Ungkap 2 Fenomena yang Bikin Musim Hujan Datang Terlambat

News | Selasa, 22 September 2026 | 13:15 WIB

Musim Hujan Tahun Ini Diprediksi Mundur, BMKG: Durasi Bisa Lebih Panjang

Musim Hujan Tahun Ini Diprediksi Mundur, BMKG: Durasi Bisa Lebih Panjang

News | Selasa, 22 September 2026 | 10:55 WIB

Prakiraan Cuaca Hari Ini: Sebagian Besar Wilayan Indonesia Berawan dan Hujan Ringan

Prakiraan Cuaca Hari Ini: Sebagian Besar Wilayan Indonesia Berawan dan Hujan Ringan

News | Senin, 21 September 2026 | 07:22 WIB

Terkini

Suporter Malaysia Klaim Ditahan Lebih dari Sejam Usai Laga Lawan Timnas Indonesia

Suporter Malaysia Klaim Ditahan Lebih dari Sejam Usai Laga Lawan Timnas Indonesia

Bola | Senin, 28 September 2026 | 23:30 WIB

Tanggal Merah untuk Ibu: Bukan Sekadar Me Time tapi Waktu untuk Recovery

Tanggal Merah untuk Ibu: Bukan Sekadar Me Time tapi Waktu untuk Recovery

Lifestyle | Senin, 28 September 2026 | 23:23 WIB

Hari Pertambangan dan Energi, PTBA Perkuat Pasokan dan Hilirisasi untuk Kemandirian Energi

Hari Pertambangan dan Energi, PTBA Perkuat Pasokan dan Hilirisasi untuk Kemandirian Energi

Sumsel | Senin, 28 September 2026 | 23:16 WIB

Kata-kata John Herdman Usai Timnas Indonesia Ditahan Malaysia Tanpa Gol di GBK

Kata-kata John Herdman Usai Timnas Indonesia Ditahan Malaysia Tanpa Gol di GBK

Bola | Senin, 28 September 2026 | 23:05 WIB

Timnas Indonesia Tak Mampu Kalahkan Malaysia, Nama Shin Tae-yong Menggema di GBK

Timnas Indonesia Tak Mampu Kalahkan Malaysia, Nama Shin Tae-yong Menggema di GBK

Bola | Senin, 28 September 2026 | 23:05 WIB

Halloween di Singapura, Ada Rumah Hantu hingga Dunia Bawah Laut Penuh Cahaya

Halloween di Singapura, Ada Rumah Hantu hingga Dunia Bawah Laut Penuh Cahaya

Lifestyle | Senin, 28 September 2026 | 23:04 WIB

Tan Cheng Hoe Angkat Tangan: Pertahanan 10 Pemain Timnas Indonesia Sangat Sulit Ditembus

Tan Cheng Hoe Angkat Tangan: Pertahanan 10 Pemain Timnas Indonesia Sangat Sulit Ditembus

Bola | Senin, 28 September 2026 | 23:01 WIB

Guruh Soekarnoputra Berpulang, Mengapa Kepergiannya Begitu Berarti bagi Indonesia?

Guruh Soekarnoputra Berpulang, Mengapa Kepergiannya Begitu Berarti bagi Indonesia?

Sumsel | Senin, 28 September 2026 | 22:57 WIB

Aneh Tapi Nyata, John Herdman Malah Senang Thom Haye Dapat Kartu Merah

Aneh Tapi Nyata, John Herdman Malah Senang Thom Haye Dapat Kartu Merah

Bola | Senin, 28 September 2026 | 22:46 WIB

Prabowo Audit Keuangan Haji, Ada Rp12,98 Triliun Nilai Manfaat Jemaah 2027

Prabowo Audit Keuangan Haji, Ada Rp12,98 Triliun Nilai Manfaat Jemaah 2027

Sumsel | Senin, 28 September 2026 | 22:44 WIB

×