BMKG Belum Bisa Pastikan Asal Bongkahan Es 20 Cm yang Timpa Rumah di Bantul

Vania Rossa, Hiskia Andika Weadcaksana

Senin, 02 November 2026 | 18:32 WIB
BMKG Belum Bisa Pastikan Asal Bongkahan Es 20 Cm yang Timpa Rumah di Bantul
Atap rumah warga di Dusun Jodog, Kelurahan Gilangharjo, Kapanewon Pandak, Kabupaten Bantul, DIY, jebol usai tertimpa bongkahan es berukuran sekitar 20 sentimeter, Senin (2/11/2026) pagi. [Suara.com/istimewa]
baca 10 detik
  • BMKG menyatakan belum dapat memastikan asal bongkahan es berukuran 20 sentimeter yang menimpa rumah warga di Bantul pada Senin, 2 November 2026.
  • Pantauan radar cuaca tidak mendeteksi adanya cuaca ekstrem atau potensi hujan di lokasi kejadian sekitar pukul 08.00 WIB.
  • Hujan di wilayah Pandak baru terdeteksi radar pukul 09.00 WIB sehingga BMKG masih mempelajari data atmosfer untuk memastikan penyebabnya.

Suara.com - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) belum dapat memastikan asal-usul bongkahan es berukuran hingga 20 sentimeter yang menimpa sebuah rumah di Dusun Jodog, Kelurahan Gilangharjo, Kapanewon Pandak, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Berdasarkan pantauan radar cuaca saat kejadian, tidak terdeteksi indikasi cuaca ekstrem di sekitar lokasi. Radar justru menunjukkan potensi hujan ringan hingga sedang di wilayah lain yang cukup jauh dari titik kejadian.

Forecaster on Duty Stasiun Meteorologi Jogja, Heri, menjelaskan bahwa sekitar pukul 08.00 WIB, radar mendeteksi potensi hujan ringan hingga sedang di wilayah barat laut dan utara lokasi rumah yang tertimpa bongkahan es.

"Mungkin yang pertama tadi pagi itu dari radar kita jam 08.00 itu ada potensi hujan ringan hingga sedang, tapi di area sebelah barat laut dari (titik) kejadian," kata Heri saat dihubungi, Senin (2/11/2026).

Meski demikian, kondisi atmosfer secara umum di Pulau Jawa saat ini memang dipengaruhi gangguan fenomena Madden-Julian Oscillation (MJO) spasial.

Kelembapan udara di wilayah DIY pada lapisan 1,5 hingga 3 kilometer juga berkisar antara 50 hingga 90 persen. Kondisi tersebut mendukung pertumbuhan awan hujan, tetapi belum cukup untuk menjelaskan asal-usul bongkahan es yang menimpa rumah warga.

BMKG menegaskan, data radar yang tersedia belum memadai untuk menyimpulkan fenomena berskala kecil dan lokal seperti kejadian tersebut.

"Cuma untuk memastikan suatu fenomena yang skalanya kecil dan lokal seperti itu, ya itu analisisnya lebih dalam lagi. Perlu data yang lebih lanjut lagi," tuturnya.

Heri menerangkan, fenomena MJO sebenarnya rutin melintas setiap 20 hingga 40 hari. Namun, karena wilayah DIY baru memasuki masa transisi musim, awan yang terbentuk di atmosfer terpantau tidak terlalu besar.

baca juga

Bahkan, hujan di wilayah Pandak baru terdeteksi melalui radar sekitar satu jam setelah kejadian, yakni pukul 09.00 WIB.

"Jadi kami juga masih belum bisa memastikan itu (es) dari awan itu, karena dari data radar kita itu ya posisinya hujan baru di Pandak itu jam 09.00 WIB," ungkapnya.

Terkait ukuran bongkahan es yang diperkirakan mencapai 20 sentimeter, BMKG menjelaskan bahwa hujan es berukuran besar membutuhkan mekanisme atmosfer yang kompleks.

Fenomena tersebut memerlukan awan konvektif yang sangat tinggi dan besar. Di dalam awan, partikel es dapat terangkat dan turun berulang kali akibat dinamika udara yang kuat hingga membentuk butiran berukuran besar.

Namun, berdasarkan pengamatan BMKG pada pagi itu, tidak ditemukan indikasi cuaca ekstrem di sekitar lokasi kejadian. Heri juga menilai, jika bongkahan tersebut merupakan hujan es yang terbentuk secara alami dari awan, dampaknya semestinya tidak hanya terjadi di satu titik bangunan.

"Kondisi pagi ini tuh kok kami enggak melihat ada yang terlalu yang sangat ekstrem. Hanya kondisi umum. Kalau misalnya itu memang terjadi harusnya enggak cuma di situ gitu," tegasnya.

Hingga kini, BMKG masih mempelajari data atmosfer lebih lanjut untuk memastikan apakah bongkahan es tersebut merupakan fenomena alam atau berasal dari faktor penyebab lainnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

BPBD Bingung! Tak Ada Hujan, Bongkahan Es Seukuran Kepala Bocah Jatuh Jebol Atap Rumah di Bantul

BPBD Bingung! Tak Ada Hujan, Bongkahan Es Seukuran Kepala Bocah Jatuh Jebol Atap Rumah di Bantul

News | Senin, 02 November 2026 | 14:18 WIB

Gempa M 5,5 Guncang Laut Barat Laut Tanimbar, Getaran Terasa hingga Saumlaki

Gempa M 5,5 Guncang Laut Barat Laut Tanimbar, Getaran Terasa hingga Saumlaki

News | Senin, 02 November 2026 | 09:03 WIB

Jakarta Barat hingga Jakarta Timur Diprakirakan Turun Hujan Sore Ini

Jakarta Barat hingga Jakarta Timur Diprakirakan Turun Hujan Sore Ini

News | Senin, 02 November 2026 | 06:48 WIB

Terkini

Viva Milk Cleaner Spirulina untuk Kulit Apa? Cuma Rp9 ribu Ampuh Cegah Penuaan Dini

Viva Milk Cleaner Spirulina untuk Kulit Apa? Cuma Rp9 ribu Ampuh Cegah Penuaan Dini

Lifestyle | Senin, 02 November 2026 | 18:30 WIB

Hadapi Gejolak Pasar hingga 2027, Investor Diminta Disiplin dan Diversifikasi

Hadapi Gejolak Pasar hingga 2027, Investor Diminta Disiplin dan Diversifikasi

Bisnis | Senin, 02 November 2026 | 18:30 WIB

MBG untuk Cegah Stunting: Dapur Menumpuk di Jawa, Papua Tetap Tertinggal?

MBG untuk Cegah Stunting: Dapur Menumpuk di Jawa, Papua Tetap Tertinggal?

Your Say | Senin, 02 November 2026 | 18:30 WIB

Pemprov DKI Jakarta Gelar Pemutihan Denda Pajak Kendaraan Hingga Akhir Desember 2026

Pemprov DKI Jakarta Gelar Pemutihan Denda Pajak Kendaraan Hingga Akhir Desember 2026

Otomotif | Senin, 02 November 2026 | 18:25 WIB

Apakah Bulan November 2026 Ada Tanggal Merah? Ini Daftar Hari Libur Sesuai SKB 3 Menteri

Apakah Bulan November 2026 Ada Tanggal Merah? Ini Daftar Hari Libur Sesuai SKB 3 Menteri

News | Senin, 02 November 2026 | 18:22 WIB

Bayi 20 Bulan yang Dibunuh Orang Tua di Pasar Kebayoran Lama Kurang Gizi dan Penuh Luka

Bayi 20 Bulan yang Dibunuh Orang Tua di Pasar Kebayoran Lama Kurang Gizi dan Penuh Luka

News | Senin, 02 November 2026 | 18:19 WIB

Budaya Tutup Mulut soal Gaji: Menjaga Privasi atau Celah Eksploitasi?

Budaya Tutup Mulut soal Gaji: Menjaga Privasi atau Celah Eksploitasi?

Your Say | Senin, 02 November 2026 | 18:15 WIB

Bawa Laras Panjang dan Dobrak Pintu Saat Santriwati Belum Berhijab, DPR Minta Kapolda Jateng Dicopot

Bawa Laras Panjang dan Dobrak Pintu Saat Santriwati Belum Berhijab, DPR Minta Kapolda Jateng Dicopot

News | Senin, 02 November 2026 | 18:11 WIB

Pakar Hukum UMY: Putusan MA Tak Otomatis Kosongkan Jabatan Wapres, DPR Harus Gelar Impeachment

Pakar Hukum UMY: Putusan MA Tak Otomatis Kosongkan Jabatan Wapres, DPR Harus Gelar Impeachment

News | Senin, 02 November 2026 | 18:09 WIB

Bagaimana Cerita Rakyat Tengger Mengajarkan Perempuan Menjaga Alam?

Bagaimana Cerita Rakyat Tengger Mengajarkan Perempuan Menjaga Alam?

Lifestyle | Senin, 02 November 2026 | 18:08 WIB

×