Ironi PLTU Co-Firing, Petaka Masyarakat Pelabuhan Ratu

Erick Tanjung

Selasa, 12 September 2023 | 12:26 WIB
Ironi PLTU Co-Firing, Petaka Masyarakat Pelabuhan Ratu
Aktivitas bongkar batu bara untuk PLTU Pelabuhan Ratu (30/4/2023). [Foto Somad]

Suara.com - SEKETIKA raut muka Sulaiman berubah jadi muram saat melihat buah hatinya sakit. Bintik merah di wajah hingga ke sekujur tubuh kian banyak. Ia makin panik ketika suhu tubuh anak Sulaiman naik tingggi hingga mencapai 39 derajat celcius. Sang anak tak berhenti menangis, ia mencoba menenangkan dengan menggendong sembari mengayun-ayunkan anaknya.

”Sakitnya seperti cacar,” ujar Sulaiman saat ditemui di rumahnya di Desa Karang Taruna, Pelabuhan Ratu, Sukabumi, Senin, 29 Mei 2023 lalu.

Sulaiman menduga penyakit yang diderita anaknya itu akibat aktivitas Pembangkit Listrik Tenaga Uap atau PLTU Pelabuhan Ratu. Air sumur yang digunakan untuk mandi pun turut tercemar limbah batubara dan asap pekat yang keluar saban sore, pukul 16.00 WIB. ”Sebelumnya tidak pernah terjadi. Ini karena PLTU,” ujarnya.

Kondisi serupa dialami oleh Makyun --bukan nama sebenarnya. Anaknya tiba-tiba sakit dengan gejala bintik-bintik, demam, dan muntah pada 16 Mei 2023. Ia buru-buru membawa ke Rumah Sakit Pelabuhan Ratu yang berjarak sekitar 2 kilometer. Setiba di rumah sakit, Makyun terhenyak mendapati puluhan anak-anak dengan gejala yang sama tergeletak di ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD). ”Jumlah anak-anaknya banyak. Lebih banyak pasien anak dari pada orang dewasa atau tua,” ujar Makyun.

Asap mengepul dari PLTU Pelabuhan Ratu yang berdekatan dengan sawah warga di Pelabuhan Ratu, Sukabumi, 30 April 2023. (Foto: Somad)
Asap mengepul dari PLTU Pelabuhan Ratu yang berdekatan dengan sawah warga di Pelabuhan Ratu, Sukabumi, 30 April 2023. (Foto: Somad)

Dokter yang menangani anak Makyun bercerita kepadanya. Salah satu sakit yang diderita puluhan anak di wilayah PLTU Pelabuhan Ratu menyerupai cacar. Kendati demikian, dokter belum bisa mendiagnosa secara pasti sakit yang diderita puluhan anak yang tinggal di sekitar PLTU. ”Tidak dikasih tahu sakitnya,” ujar Makyun.

Tak hanya faktor kesehatan, dampak lain dari aktivitas PLTU menurunya hasil tangkapan nelayan di wilayah Pelabuhan Ratu. Supardi, nelayan yang telah 20 tahun lebih melaut mengaku alami kesulitan memperoleh ikan. Lalu lalang kapal pengakut batu bara menyulitkannya melaut. Aktivitas kapal batubara juga mengancam nyawa sejumlah nelayan. Risiko terberat, kata Supardi ditabrak.

Kekinian hasil tangkapan menggunakan pancing dan jaring dengan kapal 5 Gross Tonnage hanya memperoleh 5 kilogram ikan tongkol. Harga yang didapat sekali melaut sekitar Rp20-Rp50 ribu. Padahal sebelum keberadaan PLTU, Supardi mampu menangkap tuna dengan berat 10-20 kilo. Ia bisa memperoleh 20 tuna sekali melaut.

Dampak dari sulitnya mencari ikan itu, ia kesulitan mencari kebutuhan pangan untuk anak dan keluarganya. Ia tak sanggup untuk membeli sayuran, minyak, dan ayam. Suara.com mencoba menginap di rumah Supardi, dalam satu hari, ia harus makan sehari sekali dengan lauk ikan hasil tangkapan dan satu telor yang dibagi untuk empat orang. Kondisi itu telah dialaminya selama 3 tahun terakhir. Kondisi itu juga membikin anaknya yang berusia 2 tahun kerap sakit demam karena asupan gizi yang berkurang.

”Sekarang sulit. Dulu cari ikan pinggir laut dapat, sekarang enggak dapat apa-apa,” ujar Supardi ditemui di rumahnya, Senin, 29 Mei lalu.

baca juga

Kondisi serupa dialami oleh Jonathan bukan nama sebenarnya. Menurunya hasil tangkapan membuatnya beralih tangkap. Awalnya memilih menangkap udang, tongkol, kakap kini menangkap ikan yang dilarang seperti bayi lobster atau benur. Sekali menangkap benur, Jonathan mampu memperoleh 1-5 kilogram dengan penghasilan 10-20 juta.

Pemerintah melarang nelayan menangkap tanpa dibekali izin sesuai dengan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan No.16/2022 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan No.17/2021 tentang Pengelolaan Lobster, Kepiting dan Rajungan di Wilayah Negara Republik Indonesia.

Menyadari larangan itu, Jonathan tak ada pilihan. Baginya, untuk memulihkan hasil tangkapan nelayan di pesisir Pelabuhan Ratu dengan menutup aktivitas PLTU.

Kondisi kesusahan mencari ikan diperkuat Data Badan Pusat Statistik Kabupaten Sukabumi menyebutkan ada tren penurunan jumlah nelayan dan hasil tangkapan yang didaratkan di Pelabuhan Ratu. Pada Juni 2015 ikan yang didaratkan sebanyak 28.307.320.500 ton, lalu 2016 turun 50 persen menjadi (11.727.553.500 ton), pada 2015 trun lagi menjadi (6.876.286.500 ton), dan pada 2018 menjadi (3,811,849,000 ton).

Cerobong PLTU Pelabuhan Ratu yang berdekatan dengan wisata pantai di wilayah Pelabuhan Ratu, Sukabumi 30 April 2023. [Foto: Somad]
Cerobong PLTU Pelabuhan Ratu yang berdekatan dengan wisata pantai di wilayah Pelabuhan Ratu, Sukabumi 30 April 2023. [Foto: Somad]

Tak hanya ikan yang alami penurunan, jumlah kapal dan nelayan juga ikut menyusut. Pada 2015 jumlah kapal motor sebanyak 348, namun pada 2016 turun menjadi 295 kapal motor, dan pada 2017 menyusut menjadi 163 kapal. Sejalan itu, jumlah nelayan juga menurun, pada 2015 jumlah nelayan mencapai 3217 nelayan, pada 2016 turun menjadi 2.808 nelayan, dan 2017 turun tajam menjadi 1.897 nelayan.

Respons Pemerintah Daerah

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Miris! Pria Pengangguran Bacok Ayah Kandung Gegara Kesal Sering Dinasihati Untuk Cari Pekerjaan

Miris! Pria Pengangguran Bacok Ayah Kandung Gegara Kesal Sering Dinasihati Untuk Cari Pekerjaan

News | Selasa, 12 September 2023 | 06:43 WIB

PLTP Patuha Jadi Sumber Harapan Energi Bersih di Bandung Selatan, Kapasitas Terus Ditingkatkan

PLTP Patuha Jadi Sumber Harapan Energi Bersih di Bandung Selatan, Kapasitas Terus Ditingkatkan

Banten | Senin, 11 September 2023 | 16:43 WIB

Bagaimana Cara Spanyol Berhasil Ubah Tambang Batu Bara Jadi Pusat Energi Hidrogen?

Bagaimana Cara Spanyol Berhasil Ubah Tambang Batu Bara Jadi Pusat Energi Hidrogen?

Video | Senin, 11 September 2023 | 07:00 WIB

Terkini

Jateng Tembus 3 Besar Era Luthfi, Dubai Siapkan Rp5 T untuk Kilang Jepara, GSI: Ramah Investasi

Jateng Tembus 3 Besar Era Luthfi, Dubai Siapkan Rp5 T untuk Kilang Jepara, GSI: Ramah Investasi

Jawa Tengah | Sabtu, 19 September 2026 | 22:38 WIB

Penipu Catut Nama Orderkuota, Sebar CS Palsu Lewat Google

Penipu Catut Nama Orderkuota, Sebar CS Palsu Lewat Google

Bisnis | Sabtu, 19 September 2026 | 22:38 WIB

Kronologis WNI Terancam Hukuman Mati di Malaysia: Negatif Narkoba, Tidak Punya Riwayat Kejahatan

Kronologis WNI Terancam Hukuman Mati di Malaysia: Negatif Narkoba, Tidak Punya Riwayat Kejahatan

News | Sabtu, 19 September 2026 | 22:35 WIB

Buntut Presidential Threshold Dihapus, Surya Paloh Cium Wacana Syarat Capres Minimal Dukungan 2 Frak

Buntut Presidential Threshold Dihapus, Surya Paloh Cium Wacana Syarat Capres Minimal Dukungan 2 Frak

News | Sabtu, 19 September 2026 | 22:29 WIB

RUU Perampasan Aset Didesak Publik, Surya Paloh Ingatkan Jangan Dipaksakan

RUU Perampasan Aset Didesak Publik, Surya Paloh Ingatkan Jangan Dipaksakan

News | Sabtu, 19 September 2026 | 22:15 WIB

Harga Cabai Naik, Kemarau Panjang dan Jeda Panen Jadi Biang Kerok

Harga Cabai Naik, Kemarau Panjang dan Jeda Panen Jadi Biang Kerok

Bisnis | Sabtu, 19 September 2026 | 22:05 WIB

Surya Paloh Buka-bukaan Soal Parliamentary Threshold 7 Persen: NasDem Rela Tersingkir dari Parlemen

Surya Paloh Buka-bukaan Soal Parliamentary Threshold 7 Persen: NasDem Rela Tersingkir dari Parlemen

News | Sabtu, 19 September 2026 | 21:34 WIB

Grace Natalie Soroti Perdebatan Kunjungan Jokowi ke Palue: Fokus pada Pemulihan Warga

Grace Natalie Soroti Perdebatan Kunjungan Jokowi ke Palue: Fokus pada Pemulihan Warga

Jakarta | Sabtu, 19 September 2026 | 21:32 WIB

Nusron Wahid Mundur dari Pengurus Golkar, Sudah Pamit ke Bahlil 6 Bulan Lalu

Nusron Wahid Mundur dari Pengurus Golkar, Sudah Pamit ke Bahlil 6 Bulan Lalu

News | Sabtu, 19 September 2026 | 21:18 WIB

Bertemu Presiden UMNO, Surya Paloh: Hubungan Indonesia-Malaysia Tak Boleh Sekadar Hitung Untung Rugi

Bertemu Presiden UMNO, Surya Paloh: Hubungan Indonesia-Malaysia Tak Boleh Sekadar Hitung Untung Rugi

News | Sabtu, 19 September 2026 | 21:05 WIB

×