Suara.com - Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok resmi mengundurkan diri dari jabatan Komisaris Utama PT Pertamina (Persero).
Dikutip dari akun Instagramnya, Ahok mengaku surat pengunduran diri sebagai Komut Pertamina diajukan pada hari ini Jumat (2/2/2024).
Alasan Ahok mundur sebagai Komut Pertamina karena ingin menunjukkan arah politiknya pada Pilpres 2024 yaitu mendukung paslon Ganjar Pranowo-Mahfud MD.
Baca Juga:
GKR Bendara Putri Sultan Jogja Jajan di Gerobak Angkringan, Tingkahnya Menjadi Sorotan Publik
"Dengan ini, saya menyatakan mendukung serta akan ikut mengkampanyekan pasangan calon presiden Ganjar Pranowo dan Mahfud MD. Hal ini agar tidak ada lagi kebingungan terkait arah politik saya," tulis Ahok.
Dengan adanya keputusan ini Ahok jelas berpisah jalan dengan sahabat lamanya, Presiden Joko Widodo alias Jokowi yang berada di kubu paslon 02 Prabowo-Gibran,
Ahok merupakan politisi senior. Ia sudah terjun ke dunia politik praktis sejak tahun 2003 ketika masih tinggal di Provinsi Bangka Belitung.
Awal Karier Politik
Ahok mengawali karier politiknya dengan bergabung ke Partai Perhimpunan Indonesia Baru (PPIB) besutan Dr Sjahrir.
Keputusan Ahok masuk dunia politik dilatabelakangi peristiwa yang membuatnya sakit hati. Di tahun 1995, pabrik Ahok di Belitung Timur ditutup karena keberanian dirinya melawan pejabat pemerintah setempat yang terkenal feodal dan korup.
Kecewa terhadap birokrasi Indonesia yang korup, sempat terbersit di benak Ahok untuk bekerja di perusahaan tambang di Kanada.
Keinginan Ahok hijrah ke luar negeri ini tidak disetujui sang ayah. Sang ayah malah menyarankan Ahok untuk terjun ke politik supaya bisa membantu memperjuangkan nasib rakyat miskin.
"Berlandaskan keinginan membantu rakyat kecil di kampungnya dan didorong rasa frustrasi terhadap kesemena-menaan pejabat, Ahok memutuskan masuk partai politik di tahun 2003," dikutip dari buku berjudul "Ahok: Politik Akal Sehat" karya Meicky Shoreamanis.
Partai pertama tempat Ahok bernaung adalah Partai Perhimpunan Indonesia Baru (PPIB) yang dipimpin Dr Sjahrir.
Pada Pemilu 2004, Ahok mencalonkan diri menjadi anggota DPRD Belitung Timur. Walau dengan modal seadanya, Ahok berhasil terpilih menjadi anggota DPRD Belitung Timur periode 2004-2009.
Baru tujuh bulan menjadi wakil rakyat, Ahok maju sebagai calon Bupati Belitung Timur di tahun 2005. Tanpa diduga ia berhasil menang dengan meraup suara 37,13 persen.
Ini adalah bentuk kehebatan seorang Ahok, seorang minoritas yang mampu menangi di wilayah basis Masyumi yang juga kampung halaman Yusril Ihza Mahendra.
Sebagai bupati, Ahok dikenal sebagai pejabat anti sogok. Ia memotong semua biaya pembangunan yang melibatkan kontraktor sampai 20 persen.
Hal ini membuat Belitung Timur kelebihan anggaran untuk kesejahteraan rakyat. Ahok membuat program sekolah dan kesehatan gratis.
Berkat caranya memimpin, Ahok diganjar penghargaan oleh Majalah Tempo sebagai salah satu dari 10 tokoh yang mengubah Indonesia di tahun 2006.
Tahun 2007, ia mendapat dinobatkan sebagai Tokoh Anti Korupsi oleh Gerakan Tiga Pilar Kemitraan yang terdiri dari KADIN, Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Masyarakat Transparansi Indonesia.
Menjadi Gubernur DKI
Sepak terjang Ahok di Belitung Timur yang langka ini terdengar ke seantero Bangka Belitung. Muncullah dukungan dari masyarakat agar Ahok maju sebagai calon gubernur. Di tahun 2007, Ahok maju sebagai Cagub Babel namun ia kalah.
Di tahun 2009, Ahok maju sebagai caleg DPR RI dari Partai Golkar. Menempati nomor urut empat, Ahok mampu meraih suara terbanyak. Ia pun melenggang ke Senayan duduk di Komisi II.
Pada tahun 2012, Ahok dipilih menjadi calon wakil gubernur DKI Jakarta mendampingi Jokowi. Mereka maju di Pilgub DKI diusung Gerindra dan PDIP.
Pada Pilgub DKI 2012 itu, Jokowi-Ahok mampu mengalahkan petahana Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli. Duet Jokowi-Ahok sangat fenomenal saat itu.
Lalu ketika Jokowi terpilih menjadi Presiden RI pada tahun 2014, Ahok naik menjadi Gubernur DKI. Ia kemudian kembali mengikuti Pilgub DKI 2017 berpasangan dengan Djarot Saiful Hidayat.
Pasangan Ahok-Djarot harus menyerah di putaran kedua oleh pasangan Anies Baswedan-Sandiaga Uno.