13 Nyawa Melayang di Garut: Begini Sejarah Mengerikan Bom Mengubah Wajah Dunia

Muhammad Yunus

Selasa, 13 Mei 2025 | 14:05 WIB
13 Nyawa Melayang di Garut: Begini Sejarah Mengerikan Bom Mengubah Wajah Dunia
Ilustrasi ledakan bom. Sebanyak 13 orang kehilangan nyawa. Terdiri dari Personil TNI dan sejumlah warga sipil akibat ledakan di Garut, Jawa Barat [Suara.com/ChatGPT]

Inilah titik awal kemunculan bom dalam bentuk paling dasar.

Penyebaran Mesiu ke Dunia Barat

Melalui Jalur Sutra dan berbagai ekspedisi militer, teknologi mesiu dari China akhirnya menyebar ke Timur Tengah dan Eropa pada abad ke-13.

Bangsa Arab memainkan peran penting dalam menyebarkan ilmu kimia dan teknologi senjata berbasis mesiu ke Eropa.

Di Eropa, mesiu segera diadaptasi untuk keperluan militer dalam bentuk meriam, senapan, dan granat tangan.

Bom awal di Eropa biasanya berbentuk bola logam berisi bubuk mesiu yang meledak dengan sumbu bakar.

Senjata ini digunakan dalam berbagai peperangan besar di Eropa, seperti Perang Seratus Tahun dan Perang Salib.

Perang Dunia I dan Inovasi Bom

Pada masa Perang Dunia I (1914–1918), penggunaan bom semakin meluas.

baca juga

Selain granat tangan, bom mulai dijatuhkan dari pesawat terbang ke posisi musuh.

Inilah awal mula konsep pengeboman udara yang akan menjadi penting di masa depan.

Bom di masa ini masih bersifat konvensional dan manual.

Beberapa bentuk bom yang digunakan termasuk bom tangan yang dilempar langsung ke musuh.

Bom mortir yang ditembakkan dari peluncur dan bom udara yang dijatuhkan dari pesawat.

Meski daya ledaknya terbatas, penggunaan bom secara massal menandai perubahan besar dalam taktik perang modern.

Bom Nuklir: Era Baru Senjata Pemusnah Massal

Puncak sejarah pembuatan bom terjadi pada masa Perang Dunia II.

Saat Amerika Serikat mengembangkan bom paling mematikan yang pernah dibuat. Bom nuklir.

Melalui Proyek Manhattan, para ilmuwan seperti Robert Oppenheimer, Enrico Fermi, dan Albert Einstein terlibat dalam pengembangan senjata berbasis reaksi fisi nuklir.

Hasilnya adalah dua bom nuklir yang dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki pada Agustus 1945.

Dampaknya sangat dahsyat. Hiroshima sekitar 140.000 orang tewas. Nagasaki sekitar 70.000 orang tewas.

Bom ini tidak hanya mengakhiri Perang Dunia II, tetapi juga membuka era baru yang disebut sebagai Perang Dingin.

Ditandai dengan perlombaan senjata nuklir antara Amerika Serikat dan Uni Soviet.

Jenis-Jenis Bom dalam Sejarah Modern

Setelah Perang Dunia II, pengembangan bom semakin canggih dan beragam.

Berikut beberapa jenis bom yang dikenal secara global:

1. Bom Konvensional

Digunakan untuk serangan biasa, seperti bom gravitasi atau bom curah (cluster bombs).

2. Bom Termobarik

Menghasilkan gelombang kejut dan suhu tinggi, digunakan dalam peperangan urban.

3. Bom Nuklir

Mengandalkan reaksi nuklir. Efeknya sangat luas dan menghancurkan.

4. Bom Kimia dan Biologi

Mengandung racun atau virus. Dilarang oleh hukum internasional.

5. Bom Cerdas (Smart Bombs)

Dilengkapi dengan sistem GPS atau laser untuk akurasi tinggi. Digunakan dalam perang modern seperti di Irak dan Suriah.

Dampak Sosial dan Lingkungan Bom

Sejarah pembuatan bom tidak lepas dari kontroversi besar terkait dampak sosial dan lingkungan.

Bom tidak hanya menghancurkan infrastruktur dan membunuh manusia, tetapi juga meninggalkan radiasi (pada bom nuklir). Menyebabkan trauma jangka panjang.

Menciptakan daerah-daerah tidak layak huni. Mengancam ekosistem dan makhluk hidup di sekitarnya.

Laporan dari PBB dan lembaga internasional menunjukkan bahwa wilayah bekas perang sering kali mengalami degradasi lingkungan yang parah akibat penggunaan bom.

Upaya Internasional Membatasi Penggunaan Bom

Sebagai respon atas kerusakan besar yang ditimbulkan, berbagai negara dan organisasi internasional telah melakukan upaya untuk membatasi penggunaan bom.

Terutama traktat Non-Proliferasi Nuklir (NPT). Konvensi Senjata Kimia dan Biologi.

Serta konvensi Larangan Bom Curah (Cluster Munitions).

Meski demikian, hingga hari ini masih banyak negara yang menyimpan persediaan bom dalam jumlah besar sebagai bagian dari strategi pertahanan mereka.

Sejarah pembuatan bom adalah cerminan dari bagaimana kemajuan ilmu pengetahuan bisa dimanfaatkan untuk dua sisi. Perlindungan atau kehancuran.

Dari penemuan mesiu di Tiongkok hingga ledakan nuklir di Jepang, bom telah mengubah cara manusia berperang dan berpikir tentang perdamaian.

Di tengah kemajuan teknologi militer yang terus berkembang, tantangan terbesar umat manusia saat ini adalah bagaimana memastikan bahwa bom tidak lagi digunakan.

Untuk menghancurkan sesama, melainkan dijadikan pelajaran agar tragedi serupa tidak terulang kembali.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

IPW Sebut Pengerahan Anggota TNI di Kejaksaan Melanggar Konstitusi, Desak Presiden-DPR Turun Tangan

IPW Sebut Pengerahan Anggota TNI di Kejaksaan Melanggar Konstitusi, Desak Presiden-DPR Turun Tangan

News | Selasa, 13 Mei 2025 | 13:39 WIB

Eks Marinir TNI AL Gabung Tentara Rusia, Status WNI Satria Arta Kumbara Resmi Dicabut

Eks Marinir TNI AL Gabung Tentara Rusia, Status WNI Satria Arta Kumbara Resmi Dicabut

News | Selasa, 13 Mei 2025 | 13:32 WIB

Ledakan Maut di Garut, Mengapa Warga Sipil Bisa Masuk Area Pemusnahan Amunisi TNI AD?

Ledakan Maut di Garut, Mengapa Warga Sipil Bisa Masuk Area Pemusnahan Amunisi TNI AD?

News | Selasa, 13 Mei 2025 | 13:17 WIB

Terkini

Nama Bupati PALI Muncul di Kasus Suap Audit BPK, KPK Periksa Asgianto Sebagai Saksi

Nama Bupati PALI Muncul di Kasus Suap Audit BPK, KPK Periksa Asgianto Sebagai Saksi

Sumsel | Selasa, 18 Agustus 2026 | 23:43 WIB

Kondisi Terbaru Gunung Semeru, Enam Kali Erupsi dalam Sehari dan Masih Berstatus Siaga

Kondisi Terbaru Gunung Semeru, Enam Kali Erupsi dalam Sehari dan Masih Berstatus Siaga

Sumsel | Selasa, 18 Agustus 2026 | 23:32 WIB

Detik-detik Narapidana Narkoba Diborgol Usai Bebas karena Remisi 17 Agustus, Ada Apa?

Detik-detik Narapidana Narkoba Diborgol Usai Bebas karena Remisi 17 Agustus, Ada Apa?

Sumsel | Selasa, 18 Agustus 2026 | 23:22 WIB

Dedi Mulyadi Sindir Birokrasi Minta Dihormati: Rapat Habis Puluhan Juta, Tapi Rakyat Tetap Menderita

Dedi Mulyadi Sindir Birokrasi Minta Dihormati: Rapat Habis Puluhan Juta, Tapi Rakyat Tetap Menderita

Jabar | Selasa, 18 Agustus 2026 | 23:21 WIB

Koreksi Data Pidato Presiden: 6 Fakta Realitas Hidup Susanah, Kuli Kain Majun Asal Cileungsi Bogor

Koreksi Data Pidato Presiden: 6 Fakta Realitas Hidup Susanah, Kuli Kain Majun Asal Cileungsi Bogor

Jabar | Selasa, 18 Agustus 2026 | 23:16 WIB

Bantah Isu Pisah dari NKRI, Ini 6 Pesan Penting Sultan Banten ke-18 untuk Masyarakat

Bantah Isu Pisah dari NKRI, Ini 6 Pesan Penting Sultan Banten ke-18 untuk Masyarakat

Banten | Selasa, 18 Agustus 2026 | 23:08 WIB

Penerbangan Langsung Palembang-Bandung Kembali Hadir, Ini Jadwal dan Harga Tiket Citilink

Penerbangan Langsung Palembang-Bandung Kembali Hadir, Ini Jadwal dan Harga Tiket Citilink

Sumsel | Selasa, 18 Agustus 2026 | 23:03 WIB

Oknum Petugas Bandara Terlibat Penyelundupan 22 Kg Emas Batangan

Oknum Petugas Bandara Terlibat Penyelundupan 22 Kg Emas Batangan

Banten | Selasa, 18 Agustus 2026 | 22:58 WIB

Mati Lampu hingga 4 Jam, Cek Daftar Wilayah di Palembang yang Terdampak Pemadaman PLN

Mati Lampu hingga 4 Jam, Cek Daftar Wilayah di Palembang yang Terdampak Pemadaman PLN

Sumsel | Selasa, 18 Agustus 2026 | 22:50 WIB

Tarif Rp5 Ribu Dikritik Warga, Sekda Janji Evaluasi Parkir Alun-Alun Tegar Beriman

Tarif Rp5 Ribu Dikritik Warga, Sekda Janji Evaluasi Parkir Alun-Alun Tegar Beriman

Bogor | Selasa, 18 Agustus 2026 | 22:48 WIB

×