Tragedi Meninggalnya Affan Kurniawan, Jadi Momen yang Tepat Prabowo Copot Listyo Sigit dari Kapolri?

Jum'at, 29 Agustus 2025 | 17:24 WIB
Tragedi Meninggalnya Affan Kurniawan, Jadi Momen yang Tepat Prabowo Copot Listyo Sigit dari Kapolri?
Kolase foto Presiden Prabowo Subianto (kiri) dan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo (kanan). Tragedi meninggalnya Affan Kurniawan dianggap momen yang tepat untuk copot Kapolri.[Suara.com]
Kesimpulan
  • Tragedi tewasnya ojol jadi momentum Presiden Prabowo untuk mencopot Kapolri.
  • Ada dugaan demo ditunggangi untuk mendelegitimasi wibawa Presiden Prabowo.
  • DPR harus gunakan momen ini untuk meraih kembali kepercayaan publik.

Suara.com - Presiden Prabowo Subianto dinilai perlu mendengarkan dan menindaklanjuti tuntutan publik untuk mencopot Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo.

Kericuhan dalam demo di kawasan DPR pada 25 dan 28 Agustus 2025, yang berpuncak pada tewasnya Affan Kurniawan karena dilindas rantis Brimob, seharusnya menjadi alasan yang lebih dari cukup.

Pengamat politik Yusak Farchan menilai pernyataan Prabowo yang kecewa atas tindakan represif kepolisian bisa menjadi dasar kuat untuk melakukan pergantian.

"Tragedi kematian pengemudi ojol Affan Kurniawan menjadi momentum paling pas bagi Presiden Prabowo untuk mencopot Kapolri. Prabowo sudah menyatakan kecewa atas tindakan gegabah Polri," kata Yusak kepada Suara.com, Jumat (29/8/2025).

Menurut Yusak, Prabowo perlu menunjuk Kapolri baru yang benar-benar dapat menerjemahkan visinya.

"Agar kasus tidak berulang, Prabowo sebaiknya memang mengganti Kapolri dengan orang kepercayaannya. Kapolri harus diisi oleh orang yang bisa menterjemahkan visi Prabowo khususnya dalam mengembalikan negara pada mandat aslinya, yaitu melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia," kata Yusak.

Lebih jauh, Yusak berpandangan ada kejanggalan dalam demo di DPR pada 25 dan 28 Agustus.

Ia menduga ada indikasi kerusuhan sengaja dimunculkan untuk mendelegitimasi wibawa Prabowo sebagai presiden.

"Patut diduga ada tangan-tangan besar yang ikut bermain dan sengaja menunggangi serta mengarahkan kemarahan publik demi kepentingan mereka," kata Yusak.

Baca Juga: Desakan agar Kapolri Mundur Mulai Terdengar: Kematian Affan Kurniawan Lebih dari Cukup!

"Jika kerusuhan terus berulang maka stabilitas politik akan goncang. Presiden Prabowo bisa kehilangan marwah kepemimpinan karena dianggap tidak bisa menghadirkan rasa aman bagi masyarakat. Ini yang harus diwaspadai Prabowo."

Melihat situasi ini, Yusak menilai Prabowo tidak punya alasan lagi untuk mempertahankan Listyo.

"Tak ada alasan bagi prabowo untuk mempertahankan lagi Kapolri. Dalam kerusuhan demo Agustus, Kapolri seperti membiarkan anak buahnya berlaku represif dan tidak profesional dalam menghadapi demonstran," katanya.

Di sisi lain, DPR melalui Komisi III juga tidak boleh diam. Menurut Yusak, ini adalah momen bagi parlemen untuk memulihkan citra mereka.

"Justru ini menjadi momentum balik DPR untuk meraih kepercayaan publik setelah dihajar dengan skandal kenaikan tunjangan yang ugal-ugalan."

"DPR harus menunjukkan atensinya pada korban brutalitas aparat kepolisian, tidak hanya pada pihak ojol yang meninggal, tapi juga korban-korban sipil yang lain," kata Yusak.

Sejumlah warga mengusung keranda jenazah korban insiden pada Aksi 28 Agustus, Affan Kurniawan di kawasan Menteng, Jakarta, Jumat (29/8/2025). [ANTARA FOTO/Fauzan/nz]
Sejumlah warga mengusung keranda jenazah korban insiden pada Aksi 28 Agustus, Affan Kurniawan di kawasan Menteng, Jakarta, Jumat (29/8/2025). [ANTARA FOTO/Fauzan/nz]

Ia kembali mengingatkan agar kepala negara segera bersikap tegas.

"Prabowo tidak boleh diam karena ada indikasi kuat untuk menjatuhkan presiden melalui skenario demo dan kerusuhan. Provokasi Reformasi 98 jilid 2 sudah sangat liar di sosmed."

Yusak menegaskan bahwa situasi saat ini menjadi peringatan serius untuk segera dikendalikan melalui aparat kepolisian.

"Ini alarm serius dan berbahaya bagi Prabowo. Situasi genting (chaos) yang tidak terprediksi sebelumnya, bisa saja terjadi ke depan jika Prabowo tidak bisa mengendalikan aparat Polri," kata Yusak.

Sebelumnya diberitakan, Tragedi kematian Affan Kurniawan, driver ojol, yang dilindas kendaraan taktis atau rantis Brimob Polda Metro Jaya, Kamis (28/8/2025) malam, memicu amarah masyarakat. 

Sampai Jumat (29/8/2025) siang sekira jam 14.30 WIB, massa yang didominasi pengemudi ojek online, masih mengepung Markas Komando Brimob Kwitang. 

Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, Kamis tengah malam, langsung meminta maaf kepada publik atas kejadian tersebut. 

“Saya menyesali terhadap peristiwa yang terjadi. Kami mohon maaf yang sebesar-besarnya untuk korban serta seluruh keluarga dan juga seluruh keluarga besar ojol,” kata Kapolri kepada awak media di Jakarta.

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI

Ingin dapat update berita terbaru langsung di browser Anda?