Negara Tetangga Indonesia di Ambang Kekacauan, Potensi Kudeta Militer Mencuat

M Nurhadi | Suara.com

Senin, 01 September 2025 | 19:11 WIB
Negara Tetangga Indonesia di Ambang Kekacauan, Potensi Kudeta Militer Mencuat
Bendera Thailand berkibar - Ilustrasi eskalasi ketegangan politik di Thailand [Unsplash/Markus Winkler]
Baca 10 detik
  • Pencopotan PM Paetongtarn memicu ketidakpastian politik dan potensi kudeta militer
  • Analis memprediksi kemungkinan terbentuknya koalisi rapuh atau pemilu dini
  • Ketidakstabilan politik juga memicu perlambatan ekonomi

Suara.com - Setelah pencopotan Perdana Menteri Thailand Paetongtarn Shinawatra dari jabatannya pada Jumat (29/8/2025), para analis memperkirakan Thailand akan menghadapi ketidakpastian politik dan ekonomi yang semakin besar, bahkan potensi kudeta militer.

Paetongtarn diberhentikan karena pelanggaran etika, menyusul penangguhannya pada Juli lalu setelah rekaman teleponnya dengan mantan Perdana Menteri Kamboja, Hun Sen, bocor ke publik.

Dalam rekaman tersebut, Paetongtarn mengkritik seorang komandan militer Thailand yang menangani sengketa perbatasan dengan Kamboja, sementara di sisi lain ia menunjukkan sikap yang terlalu bersahabat dengan Hun Sen.

Insiden ini terjadi menjelang bentrokan yang meletus antara Thailand dan Kamboja pada akhir Juli, meskipun gencatan senjata telah dicapai lima hari setelah konflik dimulai.

Kekacauan Politik di Depan Mata

Menurut Joshua Kurlantzick, seorang peneliti senior untuk Asia Tenggara di Council on Foreign Relations, dalam laporan yang dikutip via CNBC.com, menjelaskan bahwa situasi politik Thailand akan mengalami "kekacauan dalam jangka pendek".

Ia melihat beberapa kemungkinan skenario, salah satunya adalah Partai Pheu Thai, partai penguasa yang dipimpin Paetongtarn, tetap bertahan dengan mayoritas tipis di parlemen.

Eks PM Thailand Paetongtarn Shinawatra [Instagram/Paetongtarn Shinawatra/Ingshin21]
Eks PM Thailand Paetongtarn Shinawatra [Instagram/Paetongtarn Shinawatra/Ingshin21]

Koalisi ini bisa menempatkan sosok yang lebih lemah sebagai Perdana Menteri, seperti Chaikasem Nitisiri, mantan menteri kehakiman yang juga merupakan anggota Partai Pheu Thai.

Skenario lain, menurut Kurlantzick, adalah terbentuknya "koalisi yang tidak lazim" oleh partai lain, seperti Partai Bhumjaithai, yang mengandalkan dukungan dari Partai Rakyat (sebelumnya Partai Bergerak Maju).

Namun, Kurlantzick menilai skenario ini "hampir tidak pernah berhasil di negara mana pun, dan mungkin tidak akan berhasil di Thailand."

Partai Bhumjaithai sendiri telah keluar dari koalisi pemerintahan Paetongtarn pada 18 Juni, tak lama setelah bocornya rekaman telepon dengan Hun Sen.

Pemimpinnya, Anutin Charnvirakul, dilaporkan tengah bernegosiasi dengan berbagai pihak untuk membentuk pemerintahan baru, bahkan menawarkan janji untuk mengadakan pemilu dalam empat bulan.

Namun, analis dari Nomura menilai peluang Anutin menjadi Perdana Menteri lebih kecil dibanding Nitisiri, mengingat jumlah kursi Partai Bhumjaithai di parlemen jauh lebih sedikit.

Nomura memperkirakan bahwa jika Nitisiri terpilih, status quo pemerintahan akan tetap terjaga. Namun, mereka juga menyoroti risiko pemilu dini yang bisa terjadi pada awal 2026, mengingat koalisi yang berkuasa memiliki mayoritas yang relatif kecil di tengah ketidakpastian politik yang meningkat.

"Namun demikian, pemilu, menurut kami, tidak mungkin memberikan solusi permanen dan malah dapat memperpanjang ketidakpastian politik," tambah Nomura.

Ancaman Kudeta Militer Mengintai

Kurlantzick juga memperingatkan bahwa kelemahan politik yang terjadi dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya kudeta militer.

Thailand memiliki sejarah panjang kudeta, yang terjadi pada tahun 2006 dan 2014. Kudeta 2006 menggulingkan ayah Paetongtarn, Thaksin Shinawatra, sementara kudeta 2014 terjadi setelah Mahkamah Konstitusi mencopot saudara perempuannya, Yingluck Shinawatra.

Menurut Kurlantzick, jika parlemen bubar dan pemilu kilat diadakan, militer dan istana tidak menginginkannya.

"Dalam pemilu kilat yang bebas, Partai Bergerak Maju, yang progresif dan berdedikasi pada reformasi militer dan monarki, memiliki peluang sangat bagus untuk memenangkan mayoritas mutlak di Parlemen dan memilih Perdana Menteri. Itu akan menjadi bencana bagi militer dan istana," jelasnya.

Partai Bergerak Maju, di bawah pimpinan Pita Limjaroenrat, sebenarnya telah memenangkan kursi terbanyak dalam pemilu 2023, namun gagal membentuk pemerintahan.

Partai tersebut akhirnya dibubarkan oleh Mahkamah Konstitusi pada Agustus 2024 karena dianggap melanggar konstitusi dengan mengusulkan amandemen undang-undang lèse-majesté.

Kurlantzick menilai, "jika Parlemen runtuh, militer mungkin merasa tidak ada pilihan lain selain kudeta," dan menekankan bahwa ini adalah "kemungkinan yang sangat nyata."

Pandangan ini didukung oleh makalah dari Center for Strategic and International Studies (CSIS), sebuah lembaga think tank di Washington.

CSIS menyatakan bahwa militer, monarki, dan elite tradisional Thailand memandang demokrasi elektoral sebagai ancaman bagi kendali mereka. 

Laporan tersebut menambahkan, "mereka melihat diri mereka sebagai penjaga stabilitas nasional, sering kali memandang pemilih populis yang sebagian besar berada di pedesaan sebagai tidak siap untuk partisipasi politik yang terinformasi." 

Ketidakstabilan politik ini juga berpotensi memperburuk perekonomian Thailand. Saat ini, ekonomi negara tersebut tengah berjuang menghadapi tarif dari pemerintahan Trump dan menjadi salah satu pasar dengan kinerja terburuk di Asia. Indeks SET telah jatuh 11,7% sepanjang tahun ini.

Radhika Rao, ekonom senior di DBS Bank, mengatakan bahwa pertumbuhan ekonomi Thailand berada di "sisi yang lebih lambat," meskipun bank sentral masih diperkirakan akan memotong suku bunga untuk mendukung pertumbuhan.

Analis Nomura juga memproyeksikan pertumbuhan PDB hanya 1,8% untuk tahun 2025. Angka ini sejalan dengan perkiraan yang diturunkan oleh Bank Dunia pada Juli, yang memangkas proyeksi pertumbuhan Thailand menjadi 1,8% dari 2,9% sebelumnya.

Ketidakpastian politik dan pelemahan pertumbuhan ekonomi ini telah membuat analis Nomura memperkirakan kemungkinan penurunan peringkat kredit negara oleh Moody's dalam beberapa kuartal mendatang.

Moody's sendiri telah merevisi prospek peringkat Thailand menjadi negatif pada April lalu, dengan alasan ketidakpastian politik yang meningkat dan pertumbuhan yang terus melemah.

Kontributor : Rizqi Amalia

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

5 Rekomendasi Drama Thailand Tayang September 2025, Ada The Dark Dice

5 Rekomendasi Drama Thailand Tayang September 2025, Ada The Dark Dice

Your Say | Senin, 01 September 2025 | 13:46 WIB

Sadis! Sandy Walsh Cetak Gol, Mulai Unjuk Gigi Jadi Pemain Ganas di Liga Thailand

Sadis! Sandy Walsh Cetak Gol, Mulai Unjuk Gigi Jadi Pemain Ganas di Liga Thailand

Bola | Senin, 01 September 2025 | 05:49 WIB

120 Ribu Warga Mengungsi Akibat Konflik Kamboja-Thailand

120 Ribu Warga Mengungsi Akibat Konflik Kamboja-Thailand

Foto | Jum'at, 29 Agustus 2025 | 11:00 WIB

Rachaphon Hadir di Bogor, Suguhkan Cita Rasa Thailand Autentik yang Pas di Lidah Indonesia

Rachaphon Hadir di Bogor, Suguhkan Cita Rasa Thailand Autentik yang Pas di Lidah Indonesia

Lifestyle | Kamis, 28 Agustus 2025 | 19:50 WIB

Sinopsis The Ideal City, Drama Terbaru Kem Hussawee dan Pinkploy Paparwadee

Sinopsis The Ideal City, Drama Terbaru Kem Hussawee dan Pinkploy Paparwadee

Your Say | Kamis, 28 Agustus 2025 | 13:48 WIB

6 Rekomendasi Drama Thailand yang Tayang Agustus 2025, Ada Eyes of Heaven

6 Rekomendasi Drama Thailand yang Tayang Agustus 2025, Ada Eyes of Heaven

Your Say | Rabu, 27 Agustus 2025 | 09:29 WIB

Terkini

Jerman Kini Ikut Campur, Berencana Kerahkan Kapal untuk Misi Selat Hormuz

Jerman Kini Ikut Campur, Berencana Kerahkan Kapal untuk Misi Selat Hormuz

News | Rabu, 22 April 2026 | 13:51 WIB

Militer Iran Siaga Tempur 100 Persen Tantang Serangan AS Meski Status Gencatan Senjata Diperpanjang

Militer Iran Siaga Tempur 100 Persen Tantang Serangan AS Meski Status Gencatan Senjata Diperpanjang

News | Rabu, 22 April 2026 | 13:38 WIB

Jarang Hadir Rapat di Komisi I DPR, Ini Alasan Menlu Sugiono

Jarang Hadir Rapat di Komisi I DPR, Ini Alasan Menlu Sugiono

News | Rabu, 22 April 2026 | 13:37 WIB

Heboh! Gara-gara Putar Balik, Sopir Truk Ini Kena Tilang Polisi Rp 22 Juta

Heboh! Gara-gara Putar Balik, Sopir Truk Ini Kena Tilang Polisi Rp 22 Juta

News | Rabu, 22 April 2026 | 13:36 WIB

Ogah Dijebak Donald Trump, Iran Boikot Negosiasi Islamabad dan Siapkan Serangan Balasan

Ogah Dijebak Donald Trump, Iran Boikot Negosiasi Islamabad dan Siapkan Serangan Balasan

News | Rabu, 22 April 2026 | 13:33 WIB

Nadiem Makarim Sebut Tuntutan 15 Tahun Ibrahim Arif Tak Masuk Akal: Ibam is One of Us

Nadiem Makarim Sebut Tuntutan 15 Tahun Ibrahim Arif Tak Masuk Akal: Ibam is One of Us

News | Rabu, 22 April 2026 | 13:29 WIB

Lingkaran Setan Pernikahan Kelas Menengah India, Bayar Utang Bertahun-tahun Demi 1 Hari Pesta

Lingkaran Setan Pernikahan Kelas Menengah India, Bayar Utang Bertahun-tahun Demi 1 Hari Pesta

News | Rabu, 22 April 2026 | 13:22 WIB

Balas Dendam Masalah Geng, Polisi Ciduk Dua Pelaku Penganiayaan Pelajar Berujung Tewas di Bantul

Balas Dendam Masalah Geng, Polisi Ciduk Dua Pelaku Penganiayaan Pelajar Berujung Tewas di Bantul

News | Rabu, 22 April 2026 | 13:21 WIB

Bareskrim Terbitkan DPO Frendy Dona Sang Pengendali Narkotika Sabu dan Vape Etomidate

Bareskrim Terbitkan DPO Frendy Dona Sang Pengendali Narkotika Sabu dan Vape Etomidate

News | Rabu, 22 April 2026 | 13:20 WIB

Polisi Nekat Peras Tersangka Rp38 Juta Buat Tutupi Kasus Judi

Polisi Nekat Peras Tersangka Rp38 Juta Buat Tutupi Kasus Judi

News | Rabu, 22 April 2026 | 13:13 WIB