Peneliti IPB Ungkap Kondisi Perairan Pulau Obi

Fabiola Febrinastri | RR Ukirsari Manggalani | Suara.com

Rabu, 19 November 2025 | 18:25 WIB
Peneliti IPB Ungkap Kondisi Perairan Pulau Obi
Harita Nickel wujudkan pertambangan berkelanjutan di Pulau Obi (Dok: Harita)

Suara.com - Hasil penelitian yang dilakukan oleh Prof. Dr. Ir. Etty Riani, pakar Pencemaran dan Ekotoksikologi dari Manajemen Sumber Daya Perairan pada Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University, menemukan fakta menarik bahwa kondisi perairan di Obi relatif baik.

Penelitian ini mencakup analisis sampel air dan biota laut yang dikumpulkan dari tiga area berbeda; di Pulau Obi (baik di area pertambangan nikel maupun di luar area pertambangan), pesisir perkotaan di Ternate, dan pesisir Pulau Bacan (Labuha).

Perairan di kawasan Ternate  (Dok: Harita)
Perairan di kawasan Ternate (Dok: Harita)

Sampel yang dikumpulkan diuji untuk mengukur kandungan logam berat seperti, nikel (Ni) dan besi (Fe). Selain itu, tim juga melakukan analisis histomorfologi untuk melihat dampak kontaminasi terhadap organ-organ penting ikan, seperti hati, otot, ginjal, jantung, insang, usus, lambung, pankreas, serta limpa dengan menggunakan ikan-ikan hasil tangkapan pancing dari perairan tersebut.

“Hasil uji laboratorium menunjukkan bahwa kondisi perairan Pulau Obi, baik itu di area pertambangan maupun di luar area pertambangan memiliki kondisi perairan yang relatif baik. Selain Pulau Obi, kami juga turut menguji di perairan Pulau Bacan dan Kota Ternate,” jelas Prof. Etty, memaparkan hasil penelitian yang dilakukan dua tahun lalu bekerja sama dengan Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Kemenko Marves). Selain itu, Prof. Etty juga melakukan penelitian mandiri dengan dukungan dari Kemenristek Dikti pada tahun 2023, yang menunjukkan hasil yang senada.

“Dari penelitian yang kami lakukan juga terlihat bahwa ikan-ikan dari Ternate sampai Obi mengandung logam berat tersebut. Dan hasilnya, kandungan logam berat dalam tubuh ikan di Ternate dan Pulau Bacan relatif lebih tinggi dibandingkan di Obi,” imbuhnya.

Prof. Dr. Ir. Etty Riani, pakar Pencemaran dan Ekotoksikologi dari Manajemen Sumber Daya Perairan pada  Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University (Dok: Harita)
Prof. Dr. Ir. Etty Riani, pakar Pencemaran dan Ekotoksikologi dari Manajemen Sumber Daya Perairan pada Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University (Dok: Harita)

Prof. Etty menjelaskan, logam berat besi (Fe) sebenarnya merupakan unsur penting yang dibutuhkan tubuh dalam jumlah yang cukup besar. Pada hewan tingkat tinggi, Fe berperan dalam pembentukan hemoglobin, sedangkan pada hewan tingkat rendah berperan dalam pembentukan hemoeritrin. Karena kebutuhan akan zat besi pada umumnya cukup tinggi bahkan cenderung lebih sering kekurangan daripada kelebihan, hingga saat ini peraturan maupun rujukan ilmiah belum menetapkan baku mutu spesifik untuk kandungan Fe dalam biota air. Hal yang sama juga berlaku untuk logam berat Ni, yang sampai saat ini juga belum memiliki nilai baku mutu yang secara khusus ditetapkan.

Meski demikian, adanya logam berat dalam tubuh ikan tidak serta-merta menjadikannya tidak layak konsumsi. Menurut Prof. Etty, dampak logam berat terhadap kesehatan manusia sangat ditentukan oleh beberapa faktor, seperti konsentrasi logam dalam tubuh ikan, jumlah ikan yang dimakan, frekuensi konsumsi dalam satu periode waktu tertentu, serta kemampuan tubuh manusia dalam mempertahankan kondisi homeostasis.

Dengan mempertimbangkan bahwa berbagai peraturan, kebijakan, maupun jurnal ilmiah belum menetapkan nilai baku mutu khusus untuk Fe, kandungan Fe yang ditemukan pada biota air dari semua stasiun kajian dalam penelitian ini dinilai relatif aman untuk dikonsumsi. Hal ini sejalan dengan fakta bahwa Fe memang dibutuhkan tubuh dalam jumlah cukup besar untuk memproduksi hemoglobin dan hemoeritrin, serta untuk berbagai fungsi penting lainnya.

Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa konsentrasi logam berat dalam tubuh ikan umumnya paling tinggi ditemukan pada hati dan limpa. Sama seperti pada manusia, hati, limpa, dan kemudian ginjal memiliki fungsi vital untuk menjaga kesehatan ikan. Organ-organ ini memiliki kemampuan untuk menurunkan bahkan menghilangkan kandungan bahan berbahaya dan beracun, termasuk logam berat, sebelum menyebar ke organ lain seperti daging (otot) yang biasa dikonsumsi.

“Di lokasi kajian Maluku Utara konsumsi daging ikan masih relatif aman. Berdasarkan hasil perhitungan berapa jumlah masing-masing ikan yang tertangkap yang boleh di konsumsi, hasilnya ikan-ikan tersebut masih boleh dikonsumsi dalam jumlah yang banyak. Kalau sudah tercemar dalam kadar yang berat dan kontaminasi yang tinggi, memang akan berbahaya, karena bisa memicu penyakit degeneratif akibat paparan bahan berbahaya dan beracun. Baik penyakit degeneratif cancer maupun non cancer, serta bisa memunculkan kecacatan pada embrio, sehingga jumlah yang boleh dikonsumsi harus dibatasi,” tegasnya.

Gambar aerial area pertambangan dan pemrosesan nikel milik Harita  (Dok: Harita)
Gambar aerial area pertambangan dan pemrosesan nikel milik Harita (Dok: Harita)

Terkait kandungan logam berat tersebut yang ditemukan di perairan Ternate dan Pulau Bacan, Prof. Etty menjelaskan bahwa sumbernya tidak selalu berkaitan dengan aktivitas tambang, melainkan bisa dipengaruhi oleh berbagai sumber lain seperti limbah domestik, limbah perkotaan, sampah medis, dan penggunaan pestisida pertanian.

Hasil penelitian di tiga area berbeda di Maluku Utara tersebut memang belum dipublikasikan dalam jurnal ilmiah. Menurut Prof. Etty salah satu alasannya karena tingkat pencemaran yang ditemukan relatif rendah dan tidak sesuai dengan hipotesis awal yang diajukan pada proposal penelitian, di mana lokasi tambang diduga akan menunjukkan pencemaran logam berat yang jauh lebih tinggi pada ikan. Meski demikian, ia menilai temuan ini penting untuk diketahui publik guna meluruskan persepsi tentang kualitas lingkungan perairan serta keamanan pangan, khususnya keamanan konsumsi ikan, di daerah tersebut.***

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Optimalkan Nilai Tambah dan Manfaat, MIND ID Perkuat Tata Kelola Produksi serta Penjualan

Optimalkan Nilai Tambah dan Manfaat, MIND ID Perkuat Tata Kelola Produksi serta Penjualan

Bisnis | Minggu, 16 November 2025 | 18:49 WIB

Sumbang PDB Nasional, Sektor Pertambangan Jadi Penggerak Ekonomi Lokal di Berbagai Daerah

Sumbang PDB Nasional, Sektor Pertambangan Jadi Penggerak Ekonomi Lokal di Berbagai Daerah

Bisnis | Kamis, 13 November 2025 | 11:03 WIB

Industri Pertambangan Indonesia Mulai Beralih Gunakan AI

Industri Pertambangan Indonesia Mulai Beralih Gunakan AI

Bisnis | Rabu, 12 November 2025 | 17:03 WIB

Laba Bersih NCKL Melambung 35 Persen di 9M25, Manajemen Ungkap Laporan Hari Ini

Laba Bersih NCKL Melambung 35 Persen di 9M25, Manajemen Ungkap Laporan Hari Ini

Bisnis | Senin, 03 November 2025 | 06:01 WIB

Harita Nickel Borong Penghargaan Subroto 2025 Lewat Program Tekan Stunting Demi Masa Depan

Harita Nickel Borong Penghargaan Subroto 2025 Lewat Program Tekan Stunting Demi Masa Depan

Bisnis | Selasa, 28 Oktober 2025 | 13:05 WIB

Praktik Bisnis Tambang Berkelanjutan Indonesia Dipuji Kancah ASEAN

Praktik Bisnis Tambang Berkelanjutan Indonesia Dipuji Kancah ASEAN

Bisnis | Selasa, 21 Oktober 2025 | 08:46 WIB

Terkini

Berapa Harga yang Harus Dibayar Donald Trump dari Gencatan Senjata dengan Iran?

Berapa Harga yang Harus Dibayar Donald Trump dari Gencatan Senjata dengan Iran?

News | Rabu, 08 April 2026 | 14:25 WIB

Kabar Terbaru Biaya Haji 2026, Presiden Prabowo Akan Beri Pengumuman Penting Sore Ini!

Kabar Terbaru Biaya Haji 2026, Presiden Prabowo Akan Beri Pengumuman Penting Sore Ini!

News | Rabu, 08 April 2026 | 14:19 WIB

Donald Trump: Kami Akan Bantu Rekonstruksi Iran, Ini Era Emas Timur Tengah

Donald Trump: Kami Akan Bantu Rekonstruksi Iran, Ini Era Emas Timur Tengah

News | Rabu, 08 April 2026 | 14:18 WIB

JK Resmi Laporkan Rismon Sianipar ke Bareskrim Buntut soal Tuduhan Danai Kasus Ijazah Jokowi

JK Resmi Laporkan Rismon Sianipar ke Bareskrim Buntut soal Tuduhan Danai Kasus Ijazah Jokowi

News | Rabu, 08 April 2026 | 14:10 WIB

DPR Sambut Gencatan Senjata AS-Iran, Dave Laksono: Diplomasi Masih Jadi Instrumen Utama!

DPR Sambut Gencatan Senjata AS-Iran, Dave Laksono: Diplomasi Masih Jadi Instrumen Utama!

News | Rabu, 08 April 2026 | 14:03 WIB

2 Masalah Besar Ini Jadi Alasan Donald Trump Pilih Damai Sementara dengan Iran

2 Masalah Besar Ini Jadi Alasan Donald Trump Pilih Damai Sementara dengan Iran

News | Rabu, 08 April 2026 | 13:58 WIB

Perubahan Iklim Memperluas Risiko Kebakaran Hutan: Ribuan Spesies Terancam Punah

Perubahan Iklim Memperluas Risiko Kebakaran Hutan: Ribuan Spesies Terancam Punah

News | Rabu, 08 April 2026 | 13:55 WIB

Biaya Penerbangan Haji Terancam Naik hingga 51 persen, Pemerintah Pastikan Tak Bebani Jemaah

Biaya Penerbangan Haji Terancam Naik hingga 51 persen, Pemerintah Pastikan Tak Bebani Jemaah

News | Rabu, 08 April 2026 | 13:54 WIB

Keracunan MBG di Jakarta Timur Berangsur Pulih, Mayoritas Pasien Segera Pulang

Keracunan MBG di Jakarta Timur Berangsur Pulih, Mayoritas Pasien Segera Pulang

News | Rabu, 08 April 2026 | 13:48 WIB

BPOM Perluas Vaksin Campak untuk Dewasa, Tenaga Kesehatan Jadi Prioritas

BPOM Perluas Vaksin Campak untuk Dewasa, Tenaga Kesehatan Jadi Prioritas

News | Rabu, 08 April 2026 | 13:41 WIB