- Bencana banjir bandang dan tanah longsor di Aceh, Sumut, dan Sumbar per 30 November menewaskan 442 orang.
- Sumatra Utara mengalami dampak terparah, dengan hambatan utama pemulihan adalah terputusnya akses jalan utama yang panjang.
- Pemerintah mengerahkan 28 helikopter dan pesawat untuk evakuasi korban serta distribusi bantuan ke wilayah terisolasi.
Suara.com - Bencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda tiga provinsi di Pulau Sumatra—yakni Aceh, Sumatra Utara (Sumut), dan Sumatra Barat (Sumbar)—terus menimbulkan dampak korban jiwa yang mengkhawatirkan.
Badan Penanggulangan Bencana Nasional (BNPB) melaporkan bahwa hingga Minggu (30/11) siang, total korban meninggal dunia telah mencapai 442 orang. (Update hari ini, pukul 20.15 WIB).
Kepala BNPB, Letjen TNI Suharyanto, menjelaskan bahwa Sumatra Utara menjadi wilayah dengan dampak korban paling parah. Di Sumut, tercatat 129 orang meninggal dunia.
Sementara itu, di Sumatra Barat, korban meninggal dunia dilaporkan mencapai 90 orang dan 87 orang masih hilang. Kemudian, di Aceh, data menunjukkan 96 jiwa meninggal dunia dengan 113 korban hilang.
Suharyanto menyoroti bahwa hambatan terbesar dalam penanganan bencana adalah terputusnya akses ke beberapa wilayah.
Di Sumut, jalur utama dari Tapanuli menuju Sibolga tertutup total akibat longsoran yang sangat panjang, diperkirakan mencapai hampir 50 kilometer.
Tim gabungan terus berupaya membuka akses darat tersebut, namun Suharyanto memprediksi jalur tersebut baru bisa dibuka sepenuhnya dalam 3 hingga 4 hari mendatang.
"Yang menjadi PR yang masih harus bersatu padu Satgas Nasional ini memang adalah untuk Sumatra Utara di dua kabupaten kota yang paling menonjol, Tapanuli Tengah dan Sibolga," tutur Suharyanto, dalam keterangan terkait.
Selain itu, masalah akses juga terjadi di Aceh, terutama di wilayah Aceh Tamiang, Bener Meriah, dan Aceh Tengah. Berbeda dengan Aceh dan Sumut, wilayah terdampak di Sumbar—seperti Kota Padang, Padang Pariaman, Solok, Agam, dan Tanah Datar—masih bisa dijangkau lewat jalur darat.
Baca Juga: Korban Tewas Banjir-Longsor di Sumut Tembus 176 Jiwa, Ratusan Masih Hilang
Melihat kondisi yang sangat berat dan akses yang terputus, Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa pemerintah bergerak cepat sejak hari pertama bencana.
Presiden memerintahkan evakuasi, penyaluran bantuan, serta pemulihan wilayah dilakukan secara sigap dan terkoordinasi.
Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya mengonfirmasi bahwa pemerintah telah mengerahkan sebanyak 28 unit helikopter gabungan dari TNI (AU, AD, AL), Kepolisian, BNPB, dan Basarnas ke lokasi bencana. Armada udara ini sangat krusial untuk evakuasi korban dan distribusi bantuan logistik ke wilayah terisolir.
"Tetapi memang kondisinya sangat berat. Banyak yang terputus, cuaca juga masih tidak memungkinkan. Kadang-kadang helikopter dan pesawat kita sulit untuk mendarat," ujar Presiden Prabowo, dikutip dari Antara.
Selain helikopter, pemerintah juga mengirim tiga unit pesawat Hercules C-130 dan satu unit A400, serta berbagai bantuan darurat melalui jalur darat dan udara.
Teddy Indra Wijaya menambahkan bahwa modifikasi cuaca juga telah dilakukan selama tiga hari terakhir dan berhasil mengurangi curah hujan di seluruh provinsi terdampak, sehingga mempercepat proses evakuasi dan pengiriman logistik dari udara.