Di Balik Senyum di Posko Pengungsian, Perempuan Sumatra Menanggung Beban Sunyi yang Berat

Vania Rossa, Lilis Varwati

Jum'at, 05 Desember 2025 | 17:21 WIB
Di Balik Senyum di Posko Pengungsian, Perempuan Sumatra Menanggung Beban Sunyi yang Berat
Ilustrasi Perempuan di Balik Bencana Sumatra. (Suara.com)
baca 10 detik
  • Menteri PPPA Arifah Fauzi menyoroti perempuan sebagai kelompok yang paling membutuhkan pendekatan trauma berkelanjutan pascabencana Sumatra.
  • Perempuan memikul beban ganda dalam penanganan logistik dan pengasuhan anak, sering menjadi kelompok terakhir menerima layanan.
  • Penting segera menjalankan layanan trauma *healing* dan psikososial bagi penyintas untuk membangun resiliensi jangka panjang.

Suara.com - Dalam tenda pengungsi korban banjir bandang Sumatra dengan kondisi seadanya, seolah tak memengaruhi anak-anak untuk tetap bermain. Situasi itu sekilas menenangkan, seolah bencana yang menerjang seminggu sebelumnya tak menyentuh mereka.

Namun di sisi tenda, para perempuan duduk saling berdekatan. Raut wajah nampak berbeda dari seminggu sebelumnya, ketika hidup mereka masih normal dalam rumah yang selama ini jadi pelindung raga.

Ketika Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Arifah Fauzi, tiba di lokasi, ia langsung menangkap kontras itu. 

“Saya melihat justru yang trauma yang perlu pendekatan berkelanjutan adalah kaum perempuan karena dia melihat rumahnya hanyut, kemudian bagaimana masa depannya,” kata Arifah. 

Meski begitu, bukan berarti anak-anak bisa dibiarkan begitu saja kondisi psikisnya. Di balik canda tawa dan keriangan anak-anak, ada ancaman jangka panjang yang juga perlu dipikirkan.

"Kita lihat anak-anak kelihatannya mereka tidak trauma karena mereka bermain. Tapi itu punya kesan mendalam yang akan dibawa sampai nanti dewasa," ungkap Arifah.

Beban Berlapis yang Ditanggung Perempuan

Di lokasi pengungsian, perempuan muncul sebagai figur utama di balik layar. Harus menjaga anak, memastikan logistik, menjaga keamanan keluarga, dan sekaligus mengurus dirinya sendiri. Dalam penelitian Universitas PGRI Mandiun (2021) disebutkan bahwa kondisi perempuan selama bencana di Indonesia menghadapi berbagai kerentanan karena beban domestik dan peran sosialnya. 

Selain itu, kajian lain menunjukkan bahwa perempuan memiliki kapasitas adaptasi dalam pemulihan pasca bencana, namun ini tak menghapus fakta bahwa mereka memikul beban lebih berat. 

baca juga

Gangguan psikis bahkan bisa berkepanjangan meskipun kondisi darurat bencana telah selesai. Psikolog Universitas Paramadina M. Iqbal mengungkapkan bahwa dampak psikologis Setelah bencana bisa berupa Acute Stress Reaction, Anxiety Disorders, Prolonged Grief Disorder, hingga Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD). 

"Penelitian menunjukkan bahwa sekitar 30–50 persen penyintas bencana besar dapat mengalami gejala PTSD dalam tiga bulan pertama," katanya.

Dalam observasi lapangan, masyarakat menunjukkan gejala seperti sulit tidur, mimpi buruk, ketakutan terhadap suara hujan atau gemuruh, penurunan minat aktivitas, menarik diri dari interaksi sosial, hingga gejala depresi.

Sumatra dalam Fokus

Di wilayah yang terdampak di Sumatra, sejumlah kendala medan dan logistik memperparah kondisi. Akses yang sulit, jalan rusak, pengungsian yang belum ideal, semuanya menjadi hambatan bagi penanganan yang cepat dan tepat. 

Dalam banyak kasus, perempuan menjadi kelompok terakhir yang secara penuh mendapatkan layanan karena mereka sibuk mengurus keluarga dan logistik sehari-hari. 

Studi menunjukkan bahwa perempuan sering tertinggal dalam akses layanan karena prioritasnya di rumah tangga dan tugas caregiving. 

Pasca melihat langsung ke lokasi bencana, Menteri PPPA Arifah menekankan Dinas setempat untuk berikan layanan trauma healing dan psikososial mulai dijalankan di posko pengungsian untuk perempuan dan anak. 

Upaya mitigasi risiko kekerasan berbasis gender dilakukan dengan mengaktifkan layanan pengaduan cepat dan menguatkan UPTD PPA di wilayah terdampak. 

Menjaga Harapan Tetap Menyala

Di antara tenda-tenda yang mulai memudar warnanya dan barisan pakaian yang dijemur seadanya, para penyintas tidak hanya berjuang untuk kebutuhan dasar. Makanan, air bersih, selimut, atau atap sementara memang penting, tetapi itu baru lapisan paling luar dari apa yang benar-benar dibutuhkan manusia setelah hidupnya diacak-acak bencana.

Psikolog Iqbal kembali mengingatkan bahwa penyintas membutuhkan ruang yang lebih dalam. Tempat aman untuk bercerita, terapi kelompok yang memungkinkan mereka saling menguatkan, aktivitas psikososial yang memulihkan rasa percaya diri. 

Mereka juga membutuhkan komunitas, lingkar solidaritas yang membuat seseorang merasa tetap menjadi bagian dari sesuatu, bahwa ia tidak benar-benar sendirian di tengah reruntuhan.

Informasi yang jelas dan mudah diakses juga menjadi kunci, bagaimana mengakses bantuan, bagaimana melindungi diri, bagaimana memahami kesehatan mental mereka sendiri. Dan yang tak kalah penting, fungsi keluarga harus kembali diperkuat. Keluarga adalah jangkar pemulihan—yang membuat seseorang kembali berdiri setelah dunianya terbalik.

Iqbal menyebut bahwa tujuan akhir dari semua pendampingan itu bukan hanya membuat penyintas sembuh sementara, Lebih dari itu, mereka harus kembali memiliki resiliensi jangka panjang, kemampuan untuk menghadapi hidup baru setelah kehilangan begitu banyak hal. 

“Bencana boleh merusak bangunan, tetapi jangan sampai meruntuhkan harapan dan martabat manusia," kata Iqbal.

Di balik reruntuhan dan genangan, ada kekuatan yang tak terlihat: perempuan yang bertahan, anak-anak yang bermain, dan komunitas yang saling menopang. Bencana mungkin merusak rumah dan harta, tapi harapan, resiliensi, dan keberanian manusia tetap hidup—menjadi cahaya yang menuntun mereka bangkit dan melangkah lagi.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Pemulihan Pasca-Banjir Sumatra Layanan Telekomunikasi

Pemulihan Pasca-Banjir Sumatra Layanan Telekomunikasi

Tekno | Jum'at, 05 Desember 2025 | 17:19 WIB

KemenP2MI Kirim Logistik Bantuan Darurat untuk Ribuan Korban Banjir & Longsor di Sumatra

KemenP2MI Kirim Logistik Bantuan Darurat untuk Ribuan Korban Banjir & Longsor di Sumatra

News | Jum'at, 05 Desember 2025 | 16:35 WIB

Kementerian ESDM: Listrik di Aceh akan Pulih Kembali Sabtu Besok!

Kementerian ESDM: Listrik di Aceh akan Pulih Kembali Sabtu Besok!

Bisnis | Jum'at, 05 Desember 2025 | 15:05 WIB

Terkini

Keponakan Prabowo Berikan Syarat Pembelian Dolar AS di Atas US$10.000

Keponakan Prabowo Berikan Syarat Pembelian Dolar AS di Atas US$10.000

Bisnis | Rabu, 22 Juli 2026 | 16:53 WIB

Demo Desak Penahanan Febrie Adriansyah di Kejagung Berujung Ricuh

Demo Desak Penahanan Febrie Adriansyah di Kejagung Berujung Ricuh

News | Rabu, 22 Juli 2026 | 16:45 WIB

Alasan Donald Trump Calonkan Presiden FIFA Gianni Infantino Jadi Sekjen PBB

Alasan Donald Trump Calonkan Presiden FIFA Gianni Infantino Jadi Sekjen PBB

News | Rabu, 22 Juli 2026 | 16:40 WIB

Adopsi Bus Listrik Masih di Bawah 10 Persen, Bagaimana Strategi Percepatannya?

Adopsi Bus Listrik Masih di Bawah 10 Persen, Bagaimana Strategi Percepatannya?

News | Rabu, 22 Juli 2026 | 16:40 WIB

Masihkah Pendidikan Menjadi Tiket Keluar dari Kemiskinan?

Masihkah Pendidikan Menjadi Tiket Keluar dari Kemiskinan?

Your Say | Rabu, 22 Juli 2026 | 16:40 WIB

Ditangkap di Tangerang via Red Notice Interpol, Ini Nasib WN Siprus Abdul Karim

Ditangkap di Tangerang via Red Notice Interpol, Ini Nasib WN Siprus Abdul Karim

Banten | Rabu, 22 Juli 2026 | 16:38 WIB

Teka-teki Nama Baru di Ombudsman RI, Sudah Disetujui DPR, Tapi Belum Diungkap ke Publik Ada Apa?

Teka-teki Nama Baru di Ombudsman RI, Sudah Disetujui DPR, Tapi Belum Diungkap ke Publik Ada Apa?

News | Rabu, 22 Juli 2026 | 16:37 WIB

Meriahkan Pasar Tradisional, GEMPAR Kebonagung Dorong UMKM Sleman Kian Berkembang

Meriahkan Pasar Tradisional, GEMPAR Kebonagung Dorong UMKM Sleman Kian Berkembang

Jogja | Rabu, 22 Juli 2026 | 16:36 WIB

5 Rekomendasi Sepatu Lokal Berkualitas untuk Semua Aktivitas, Nyaman dan Stylish

5 Rekomendasi Sepatu Lokal Berkualitas untuk Semua Aktivitas, Nyaman dan Stylish

Lifestyle | Rabu, 22 Juli 2026 | 16:33 WIB

Penambangan Pasir Sungai Kian Masif, Peneliti Desak Pengawasan Lebih Ketat

Penambangan Pasir Sungai Kian Masif, Peneliti Desak Pengawasan Lebih Ketat

News | Rabu, 22 Juli 2026 | 16:30 WIB

×