- Presiden Donald Trump secara terbuka menginginkan AS mengambil alih Greenland demi kepentingan keamanan nasional dan strategi Arktik.
- Pemerintah dan penduduk Greenland menolak keras gagasan aneksasi tersebut, menekankan kedaulatan melalui dialog terhormat.
- Upaya AS menguasai Greenland ini memiliki dasar historis, didorong oleh lokasi strategis dan sumber daya alam yang melimpah.
Terletak strategis di Kutub Utara, Greenland bukan hanya sekadar daratan es raksasa. Pulau dengan populasi sekitar 56.000 jiwa ini memiliki nilai geopolitik yang krusial.
"Jika Rusia mengirim misil ke AS, rute terpendek untuk senjata nuklir adalah melalui Kutub Utara dan Greenland," kata Marc Jacobsen, dosen di Royal Danish Defence College. "Itulah mengapa Pituffik Space Base sangat penting dalam mempertahankan Amerika Serikat."
Pangkalan Luar Angkasa Pituffik, yang sebelumnya dikenal sebagai Pangkalan Udara Thule, telah dioperasikan oleh militer AS sejak Perang Dunia II.
Perjanjian pertahanan tahun 1951 dengan Denmark memberikan AS peran sentral dalam pertahanan wilayah tersebut.
Selain pertahanan, Greenland menyimpan kekayaan alam yang melimpah. Minat global terhadap sumber daya mineral tanah jarang, uranium, dan besi di sana terus meningkat.
Pemanasan global yang mencairkan lapisan es bahkan diprediksi akan membuat sumber daya ini lebih mudah diakses.
Meski demikian, Trump bersikeras bahwa motif utamanya adalah keamanan. "Kami membutuhkan Greenland untuk keamanan nasional, bukan untuk mineral," tegasnya.
Bukan Kali Pertama AS Mengincar Greenland
Ambisi Amerika untuk menguasai Greenland ternyata sudah berakar sejak lama, jauh sebelum era Trump.
Baca Juga: Sentuhan Humanis di Depan Kedubes AS, Polwan Polres Jakpus Sambut Pendemo sebagai Pejuang Aspirasi
"Amerika Serikat telah beberapa kali mencoba untuk mengusir Denmark dari Greenland dan mengambil alih wilayah tersebut sebagai bagian dari Amerika Serikat, atau setidaknya memiliki kendali keamanan penuh atas Greenland," kata Lukas Wahden, penulis buletin keamanan Arktik 66° North.
Pada tahun 1867, setelah membeli Alaska dari Rusia, AS mencoba membeli Greenland namun gagal. Upaya serupa kembali dilakukan pada tahun 1946, ketika AS menawarkan $100 juta, namun tawaran itu kembali ditolak oleh pemerintah Denmark.
Kini, Trump menghidupkan kembali minat lama itu dengan pendekatan yang lebih agresif. Setelah kembali ke Gedung Putih pada Januari 2025, ia tidak menyingkirkan kemungkinan penggunaan kekuatan.
Tensi semakin memanas ketika pada akhir 2025, Trump menunjuk utusan khusus untuk Greenland, Jeff Landry, yang secara terbuka berbicara tentang menjadikan pulau itu bagian dari AS.
Langkah ini, ditambah kunjungan kontroversial Wakil Presiden JD Vance pada Maret sebelumnya, telah mengejutkan Denmark dan memicu krisis diplomatik baru di lingkar Arktik.