HUT ke-37 Yastroki: Stroke Bukan Takdir, Tapi Bencana yang Bisa Dicegah dari Rumah

Vania Rossa Suara.Com
Senin, 19 Januari 2026 | 08:41 WIB
HUT ke-37 Yastroki: Stroke Bukan Takdir, Tapi Bencana yang Bisa Dicegah dari Rumah
Ketua Umum Yastroki, Mayjen TNI (Purn) Dr. dr. Tugas Ratmono, Sp.N, MARS, MH. (Suara.com/Vania)
Baca 10 detik
  • Yayasan Stroke Indonesia (Yastroki) memperingati HUT ke-37 di Jakarta menekankan pencegahan dan deteksi dini stroke.
  • Stroke berada di urutan kedua penyebab kematian di Indonesia, dengan 70–80% penyintas mengalami disabilitas permanen.
  • Yastroki mendorong keluarga menjadi garda terdepan dengan mengenali gejala dan segera menuju rumah sakit, menghindari mitos.

Suara.com - Stroke masih menjadi momok kesehatan serius di Indonesia. Diam-diam, ia merenggut nyawa, meninggalkan kecacatan permanen, dan membebani keluarga hingga negara. Di tengah ancaman itu, Yayasan Stroke Indonesia (Yastroki) menegaskan satu pesan penting: stroke bukan takdir, melainkan bencana kesehatan yang bisa dicegah—bahkan sejak dari dalam keluarga.

Pesan itu mengemuka dalam peringatan HUT ke-37 Yastroki yang digelar di Jakarta, Sabtu (18/1/2026). Mengusung tema “Dengan Semangat di Tahun Baru 2026, Yastroki Membangun Kolaborasi Menuju Indonesia Ramah Stroke”, Yastroki menekankan pentingnya deteksi dini dan respons cepat sebagai kunci menekan angka kematian dan kecacatan akibat stroke.

Stroke Masih Jadi Pembunuh Utama

Berdasarkan Profil Kesehatan Indonesia, stroke menempati peringkat kedua penyebab kematian tertinggi setelah penyakit jantung. Setiap tahun, diperkirakan muncul sekitar 500.000 kasus baru, dengan 70–80 persen penyintas mengalami disabilitas permanen. Dampaknya tidak hanya medis, tetapi juga sosial dan ekonomi.

Ketua Umum Yastroki, Mayjen TNI (Purn) Dr. dr. Tugas Ratmono, Sp.N, MARS, MH, menyebut stroke sebagai krisis kesehatan yang harus diperlakukan layaknya bencana.

“Stroke itu bencana bagi manusia. Karena bencana, ia harus ditangani segera. Dampaknya luar biasa—bisa meninggal, bisa cacat fisik, mental, sosial, bahkan menghancurkan ekonomi keluarga,” ujarnya.

Ia mencontohkan, seseorang yang sebelumnya produktif—eksekutif, pekerja, atau tulang punggung keluarga—bisa kehilangan kemampuan bekerja dalam sekejap akibat stroke.

Time Is Brain: Jangan Tunggu, Jangan Percaya Mitos

Dr. Tugas menegaskan, dalam stroke berlaku prinsip time is brain. Setiap menit keterlambatan penanganan berarti kerusakan sel otak yang tidak bisa dipulihkan.

Baca Juga: Gangguan Irama Jantung Intai Anak Muda, Teknologi Ablasi Dinilai Makin Dibutuhkan

“Mulut mencong, bicara pelo, lemah satu sisi tubuh—itu stroke. Bukan masuk angin, bukan kesambet, bukan untuk dikerok atau dipijat,” katanya kepada wartawan.

Ia menyoroti masih kuatnya mitos di masyarakat, seperti menusuk jari atau telinga agar darah keluar, memijat, hingga menunggu “sembuh sendiri”. Semua itu justru berbahaya dan membuang waktu emas.

“Kalau muncul tanda-tanda itu, satu langkah saja: segera ke rumah sakit,” katanya.

Keluarga Jadi Garda Terdepan

Memasuki usia ke-37, Yastroki menegaskan fokusnya tidak hanya pada edukasi, tetapi juga membangun kolaborasi lintas sektor. Salah satu inisiatifnya adalah mendorong lahirnya Stroke Helper di tingkat Rukun Warga (RW).

Relawan ini diharapkan mampu mengenali gejala awal stroke dan mengarahkan pasien ke Rumah Sakit Ramah Stroke yang memiliki fasilitas penanganan komprehensif.

×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI