- Bripda Rio dari Brimob Aceh membelot menjadi tentara militer Rusia.
- Iming-iming gaji fantastis dan frustrasi karier diduga menjadi pemicu utama.
- Ia terancam kehilangan kewarganegaraan dan menghadapi konsekuensi hukum berat.
Suara.com - Perjalanan karier Muhammad Rio di Korps Bhayangkara sejatinya telah mulai meredup sejak pertengahan 2025. Terakhir berpangkat Brigadir Polisi Dua (Bripda) di Satbrimob Polda Aceh, ia tersandung pelanggaran etik berat terkait kasus perselingkuhan dan nikah siri. Sanksi demosi selama dua tahun rupanya tidak menjadi titik balik, melainkan awal dari sebuah pelarian panjang yang mengejutkan institusi Polri.
LANGKAH desersi Rio dimulai pada 8 Desember 2025, ketika ia secara misterius menghilang dari tugas. Jejaknya baru terendus sepuluh hari kemudian melalui data manifes penerbangan, menunjukkan ia telah terbang dari Jakarta menuju Shanghai, sebelum melanjutkan perjalanan ke Rusia.
Dunia kepolisian Aceh tersentak ketika pada 7 Januari 2026, sebuah pesan WhatsApp masuk ke ponsel rekan-rekannya. Pesan itu dari Rio, tapi dengan identitas yang sudah berubah total. Dalam foto dan video yang ia kirim, Rio tidak lagi mengenakan seragam Brimob, melainkan seragam militer Rusia. Dengan tangan menggenggam senapan AK, ia mengonfirmasi keberadaannya di Donbass, kawasan konflik berdarah antara Rusia dan Ukraina.
Transformasi drastis ini membawa konsekuensi mutlak. Pelariannya ke medan perang asing tanpa izin menjadi alasan kuat bagi Polri untuk mengambil tindakan tegas. Tepat pada Januari 2026, Muhammad Rio resmi dijatuhi hukuman Pemberhentian Tidak Dengan Hormat (PTDH), mengakhiri statusnya sebagai abdi negara di Indonesia demi garis depan pertempuran di tanah Rusia.
![Infografis aparat Indonesia yang membelot menjadi tentara bayaran Rusia. [Suara.com/Syahda]](https://media.suara.com/pictures/original/2026/01/20/38676-infografis-aparat-indonesia-yang-membelot-menjadi-tentara-bayaran-rusia.jpg)
Di Balik Pembelotan: Gaji Fantastis dan Karier Buntu
Langkah nekat Bripda Rio diyakini bukan sekadar pelarian tanpa arah. Ia adalah pilihan sadar yang dipicu iming-iming finansial yang sangat kontras dengan realitas di tanah air.
Sebagai seorang Bripda, Rio diperkirakan mengantongi penghasilan sekitar Rp 6,9 juta per bulan. Di Rusia, ia mengklaim mendapatkan gaji 210.000 Rubel atau sekitar Rp 42 juta per bulan, hampir tujuh kali lipat dari gajinya di Brimob. Belum lagi bonus awal bergabung sebesar Rp 420 juta yang langsung ia terima.
Namun, uang hanyalah satu sisi mata uang. Sisi lainnya bisa jadi adalah rasa frustrasi terhadap sistem karier di internal kepolisian. Dengan riwayat pelanggaran etik, peluangnya untuk naik pangkat menjadi sangat terjal. Tawaran dari luar negeri seolah menjadi "pintu darurat" bagi mereka yang merasa kariernya telah menemui jalan buntu.
Pengakuan Rio mengenai pangkat Letnan Dua (Letda) yang ia sandang di militer Rusia menambah dimensi lain: pengakuan atas kompetensi. Dengan kemampuan berbahasa Inggris dan Rusia, mungkin ia merasa lebih dihargai secara profesional di medan tempur internasional. Kenaikan status dari bintara menjadi perwira dalam sekejap adalah bentuk validasi ego yang sangat kuat.
Baca Juga: Bripda Rio dan Satria Kumbara Jadi Tentara Bayaran Rusia, Menkum: Status WNI Otomatis Hilang
Konsekuensi Berat yang Menanti di Ujung Senapan
Saat melangkah ke garis depan, Rio mungkin tidak hanya meninggalkan tanah air, tetapi juga secara sadar memutus tali ikatan dengan kewarganegaraannya.
Berdasarkan hukum Indonesia, keputusannya mengangkat sumpah setia pada militer asing adalah tiket satu arah menuju status stateless atau tanpa kewarganegaraan. Ia kini kehilangan hak atas paspor dan perlindungan hukum dari negara.
![Bripda Rio desersi, ketahuan gabung tentara bayaran di Rusia [Ist]](https://media.suara.com/pictures/original/2026/01/18/15789-bripda-rio.jpg)
Risiko paling nyata kini membayanginya di setiap jengkal tanah Donbass. Sebagai tentara bayaran, status hukum internasionalnya sangat rentan. Ia tidak diakui sebagai tawanan perang di bawah Konvensi Jenewa. Jika tertangkap, ia bisa diadili sebagai kriminal biasa. Jika ia gugur, pemulangan jenazahnya akan menjadi kemustahilan birokrasi.
Bagaimana Bisa Lolos dari Radar Pemerintah?
Kasus seperti Bripda Rio menyingkap kerumitan pengawasan pemerintah. Pengamat militer dari ISESS, Khairul Fahmi, menilai hambatan utama terletak pada sifat perekrutan tentara bayaran modern yang sangat senyap dan berlapis.
"Perekrutan ini kan memang tidak dilakukan secara terbuka seperti militer negara, melainkan melalui mekanisme senyap, fleksibel, kemudian berlapis," ujar Fahmi.
Menurutnya, para calon personel tidak berangkat dengan identitas militer, melainkan menggunakan kedok sebagai pekerja, relawan, atau pelancong biasa, sehingga lolos dari sistem pengawasan imigrasi. Diduga kuat ada peran agen rekrutmen klandestin di dalam negeri yang memfasilitasi keberangkatan mereka.
Kondisi ini diperparah oleh lemahnya pengawasan internal institusi terhadap personel bermasalah.
"Sistem pembinaan kita masih cenderung berhenti pada sanksi administratif tanpa pengawasan dan pendampingan pasca hukuman yang memadai," tutur Fahmi.
Adakah Jalan Pulang?
Bagi mereka yang telah membelot, jalan kembali menjadi WNI bukanlah perkara mudah.
"Jalan kembali menjadi WNI ini tidak otomatis dan tidak mudah," kata Fahmi.
Mereka harus menempuh mekanisme pewarganegaraan ulang yang melelahkan, serupa dengan proses yang dilalui warga negara asing.
Keterlibatan seseorang dalam konflik bersenjata sebagai tentara bayaran menjadi noda hitam yang sangat sulit dihapuskan.
"Negara akan sangat berhati-hati menerima kembali individu-individu yang punya rekam jejak kekerasan bersenjata di luar kendali negara," terang Fahmi.
Pada akhirnya, ketatnya aturan ini adalah pesan tegas bahwa negara tidak akan mentoleransi warganya menjadi "ekspor kekerasan" ke konflik asing tanpa kendali hukum dan politik.
