E-Voting dan Masa Depan Pemilu Indonesia, Sudah Siapkah Kita?

Vania Rossa | Dea Hardiningsih Irianto | Suara.com

Rabu, 21 Januari 2026 | 14:26 WIB
E-Voting dan Masa Depan Pemilu Indonesia, Sudah Siapkah Kita?
Ilustrasi E-Voting dan Digitalisasi Pemilu (Suara.com)
  • Pemerintah sedang mengkaji usulan e-voting PDIP untuk pilkada, fokus pada tahapan pemungutan dan pascapemungutan suara.
  • Pengamat menyoroti tantangan e-voting meliputi infrastruktur, keamanan siber, dan kepercayaan publik yang belum memadai.
  • Digitalisasi bertahap melalui penguatan e-rekap dan sistem hybrid lebih didorong daripada adopsi penuh e-voting segera.

Suara.com - Pemerintah menanggapi usulan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) terkait penerapan sistem e-voting dalam pelaksanaan pemilihan kepala daerah (pilkada).

Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi menegaskan bahwa opsi tersebut masih memerlukan kajian mendalam sebelum dapat diterapkan.

Menurut Prasetyo, pembahasan e-voting tidak hanya berkaitan dengan cara pemilih memberikan suara, tetapi juga menyangkut pemanfaatan teknologi dalam seluruh tahapan pascapemungutan suara.

“Baik e-vote yang dimaksud dengan e-vote adalah tata cara masyarakat kita memilih, maupun elektronik dari sisi pasca pemilihannya,” kata Prasetyo di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta Pusat, Senin (19/1/2026).

Ia mencontohkan, pemanfaatan teknologi kerap dikaitkan dengan sistem rekapitulasi elektronik (e-recap) yang dinilai mampu memangkas waktu penghitungan suara yang selama ini berlangsung panjang dan berjenjang.

“Dari sisi e-recap, bagaimana kita memanfaatkan teknologi dengan digitalisasi dan elektronisasi untuk memangkas waktu. Rekap secara berjenjang mulai dari DPS, BPS, PPK, hingga KPUD, KPU provinsi, sampai KPU pusat itu kan memang panjang waktunya,” tutur Prasetyo.

Karena itu, ia menegaskan pemerintah tidak akan gegabah menerapkan e-voting, khususnya pada hari pemungutan suara. Menurutnya, desain sistem pemilu harus disesuaikan dengan kondisi serta karakter bangsa Indonesia.

Modernisasi yang Tidak Bebas Tantangan

Pengamat politik dari Citra Institute, Efriza, menilai usulan penerapan e-voting dalam pilkada merupakan ikhtiar modernisasi demokrasi yang menjanjikan kecepatan serta mekanisme pemilihan yang lebih mutakhir.
Namun, ia mengingatkan bahwa e-voting belum dapat disebut sebagai sistem paling aman di dunia. Jika sistem ini memang dianggap terbaik, seharusnya telah diadopsi secara luas oleh banyak negara.

“Sayangnya, usulan e-voting rasanya sekadar tawaran fenomenal yang membedakan modernitas dan jadul, di tengah perdebatan pemilu tidak langsung melalui DPRD dan pemilihan langsung dengan teknologi e-voting,” kata Efriza kepada Suara.com, Selasa (20/1/2026).

Ia menegaskan bahwa e-voting bukanlah solusi instan. Pengalaman penerapan Sistem Informasi Penghitungan Suara (Situng) dan Sistem Informasi Rekapitulasi (Sirekap) menunjukkan bahwa teknologi belum sepenuhnya berjalan optimal dan justru kembali ke penghitungan manual.

“Proses penghitungan manual masih dinilai sebagai faktor penting dan utama dalam hasil penyelenggaraan pemilu,” tambahnya.

Infografis Digitalisasi Pemilu & E-Voting di Indonesia. (Suara.com)
Infografis Digitalisasi Pemilu & E-Voting di Indonesia. (Suara.com)

Tantangan Infrastruktur dan Kepercayaan Publik

Menurut Efriza, tantangan utama e-voting terletak pada kesiapan infrastruktur digital, kondisi geografis yang beragam, kualitas sumber daya manusia, keamanan siber, serta tingkat literasi teknologi masyarakat yang masih timpang antarwilayah.

Ia menekankan bahwa penerapan e-voting harus menjamin transparansi, auditabilitas, serta kepercayaan publik, peserta pemilu, dan pemerintah terhadap penyelenggara pemilu.

“Permasalahan terbesar adalah kepercayaan bahwa proses pemilu telah berjalan dengan baik dan lancar,” ujarnya.

Selain itu, e-voting juga harus mempertimbangkan aspek budaya lokal, seperti sistem noken di Papua. Tanpa kesiapan infrastruktur, keamanan siber, dan kepercayaan publik, e-voting justru berpotensi menimbulkan persoalan baru yang dapat menggerus legitimasi hasil pemilu.

Efisiensi vs Risiko Pembengkakan Anggaran

Efriza menilai efisiensi e-voting masih perlu dipertanyakan. Menurutnya, efisiensi tidak hanya diukur dari kecepatan penghitungan suara, tetapi juga dari potensi risiko jika sistem mengalami gangguan.

“Jika terjadi kegagalan dan harus dilakukan pemungutan ulang, pembengkakan anggaran justru bisa jauh lebih besar,” jelasnya.

Meski e-voting berpotensi memangkas logistik pemilu seperti pencetakan dan distribusi surat suara, risiko gangguan sistem, kesalahan aplikasi, hingga serangan siber justru bisa menimbulkan polemik yang lebih kompleks dibanding sistem coblos manual.

Risiko Keamanan dan Ketimpangan Digital

Risiko utama penerapan e-voting, lanjut Efriza, adalah ketidaksiapan sistem serta kerawanan keamanan siber, mulai dari peretasan, manipulasi data, suara hilang, hingga kebocoran data pemilih.

Selain itu, kesenjangan infrastruktur dan literasi digital antarwilayah berpotensi menimbulkan ketidakadilan akses, khususnya di daerah tertinggal, yang pada akhirnya mengganggu prinsip kesetaraan suara.

Masalah legitimasi juga menjadi ancaman serius ketika proses pemungutan dan penghitungan suara tidak dipahami secara sederhana dan transparan oleh publik.

Praktik E-Voting di Negara Lain

Berdasarkan data AEC Project hingga Januari 2010, sebanyak 43 negara pernah bersentuhan dengan delapan metode e-voting. Dari jumlah tersebut, 12 negara mempraktikkan e-voting berbasis mesin, tujuh negara menggunakan internet voting, 24 negara masih dalam tahap perencanaan atau uji coba, dan empat negara menghentikan penerapan e-voting.

Australia, Kanada, Prancis, dan Jepang termasuk negara yang mempraktikkan e-voting baik melalui mesin pemilihan maupun internet voting.

Sementara itu, data International IDEA hingga 2023 mencatat 19 persen negara di dunia menggunakan e-voting di tingkat nasional atau subnasional. Namun, sekitar enam persen negara justru meninggalkan sistem ini, terutama karena kekhawatiran terhadap aspek kepercayaan dan keamanan pemungutan suara.

Kompleksitas Pemilu Indonesia

Konteks Indonesia memiliki tantangan tersendiri. Sebagai negara besar dengan wilayah geografis yang luas, tingkat kepercayaan terhadap institusi yang fluktuatif, serta kompetisi politik yang sangat ketat, setiap perubahan sistem pemilu memiliki risiko sosial dan politik yang besar.

Prasetyo Hadi menegaskan pemerintah tidak ingin gegabah dalam menerapkan e-voting, terutama pada hari pemungutan suara. Desain sistem pemilu, menurutnya, harus disesuaikan dengan karakter bangsa dan kesiapan masyarakat.

Pertanyaannya pun mengerucut: apakah Indonesia sudah siap, bukan hanya secara teknis, tetapi juga secara sosial dan politik?

Di tengah pro dan kontra, sejumlah pengamat menilai jalan tengah menjadi opsi paling realistis. Digitalisasi pemilu dapat dilakukan secara bertahap, bukan melalui lompatan besar yang berisiko.

Penguatan e-recap dan transparansi data dinilai lebih mendesak, disertai sistem hybrid yang tetap mempertahankan surat suara fisik sebagai bukti. Audit independen, keterbukaan sistem, serta edukasi publik juga menjadi prasyarat mutlak sebelum melangkah ke e-voting penuh.

Digitalisasi pemilu pada akhirnya bukan sekadar soal teknologi, melainkan soal kepercayaan. Tanpa fondasi tersebut, modernisasi justru berpotensi melahirkan masalah baru bagi demokrasi Indonesia.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Suami Wamendikti Stella Christie Kecelakaan Ski di AS, Alami Cedera Berat dan Dirawat di ICU

Suami Wamendikti Stella Christie Kecelakaan Ski di AS, Alami Cedera Berat dan Dirawat di ICU

News | Rabu, 21 Januari 2026 | 10:08 WIB

Jadi Kandidat Calon Deputi Gubernur BI, Keponakan Prabowo Mundur dari Gerindra

Jadi Kandidat Calon Deputi Gubernur BI, Keponakan Prabowo Mundur dari Gerindra

News | Rabu, 21 Januari 2026 | 07:46 WIB

Pilkada Lewat DPRD: Ketika Efisiensi Berhadapan dengan Hak Pilih Rakyat

Pilkada Lewat DPRD: Ketika Efisiensi Berhadapan dengan Hak Pilih Rakyat

Your Say | Rabu, 21 Januari 2026 | 06:11 WIB

Terkini

Sah! DPR Ketok Palu UU PPRT di Hari Kartini, Jutaan Pekerja Rumah Tangga Kini Punya Payung Hukum

Sah! DPR Ketok Palu UU PPRT di Hari Kartini, Jutaan Pekerja Rumah Tangga Kini Punya Payung Hukum

News | Selasa, 21 April 2026 | 13:03 WIB

Lebanon Pilih Negosiasi dengan Israel, Presiden Joseph Aoun Ungkap 3 Tujuan Utama

Lebanon Pilih Negosiasi dengan Israel, Presiden Joseph Aoun Ungkap 3 Tujuan Utama

News | Selasa, 21 April 2026 | 12:52 WIB

Kejam! Suami di India Masukkan Benda ke Rahim Istri, Korban Kritis di Rumah Sakit

Kejam! Suami di India Masukkan Benda ke Rahim Istri, Korban Kritis di Rumah Sakit

News | Selasa, 21 April 2026 | 12:50 WIB

Penembakan Massal di Piramida Teotihuacan, Turis Kanada Tewas Mengenaskan

Penembakan Massal di Piramida Teotihuacan, Turis Kanada Tewas Mengenaskan

News | Selasa, 21 April 2026 | 12:43 WIB

Arab Saudi Sebut Konflik Timur Tengah Ancam Energi Global dan Stabilitas Ekonomi

Arab Saudi Sebut Konflik Timur Tengah Ancam Energi Global dan Stabilitas Ekonomi

News | Selasa, 21 April 2026 | 12:29 WIB

Tunjuk Suhud Alynudin, Fraksi PKS Jelaskan Alasan Pergantian Kursi Ketua DPRD DKI Jakarta

Tunjuk Suhud Alynudin, Fraksi PKS Jelaskan Alasan Pergantian Kursi Ketua DPRD DKI Jakarta

News | Selasa, 21 April 2026 | 12:27 WIB

KPK: 25 Persen Kasus Korupsi Berkaitan dengan Pengadaan Barang dan Jasa

KPK: 25 Persen Kasus Korupsi Berkaitan dengan Pengadaan Barang dan Jasa

News | Selasa, 21 April 2026 | 12:24 WIB

Xi Jinping Tekankan Normalisasi Selat Hormuz Jadi Prioritas Global

Xi Jinping Tekankan Normalisasi Selat Hormuz Jadi Prioritas Global

News | Selasa, 21 April 2026 | 12:20 WIB

UU PPRT Sah Setelah 22 Tahun, PKB: Jangan Sampai Jadi Macan Kertas!

UU PPRT Sah Setelah 22 Tahun, PKB: Jangan Sampai Jadi Macan Kertas!

News | Selasa, 21 April 2026 | 12:19 WIB

Detik-detik Penangkapan Komplotan Curanmor di Cikupa: Senpi Rakitan dan Peluru Tajam Disita

Detik-detik Penangkapan Komplotan Curanmor di Cikupa: Senpi Rakitan dan Peluru Tajam Disita

News | Selasa, 21 April 2026 | 12:18 WIB