Pramono Anung dan Deklarasi 'Kerja Otak': Saat Gorong-gorong Tak Lagi Jadi Panggung Pemimpin Jakarta

Erick Tanjung | Adiyoga Priyambodo | Suara.com

Rabu, 11 Februari 2026 | 17:02 WIB
Pramono Anung dan Deklarasi 'Kerja Otak': Saat Gorong-gorong Tak Lagi Jadi Panggung Pemimpin Jakarta
Ilustrasi Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung yang mencanangkan gerakan "Jaga Jakarta Bersih". [Suara.com/Ema]
  • Gubernur Pramono Anung tolak gaya simbolis 'masuk gorong-gorong' di depan Jusuf Kalla.
  • Ia mendeklarasikan gaya kepemimpinan teknokrasi yang mengandalkan 'kerja otak' dan sistem.
  • Pergeseran ini menandai era baru, di mana efisiensi manajerial lebih diutamakan.

Suara.com - Di bawah langit Cipinang Melayu pada Minggu pagi kemarin, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung secara sadar menarik garis tegas yang memisahkan dirinya dari bayang-bayang nostalgia kepemimpinan masa lalu.

Di hadapan Jusuf Kalla, ia melontarkan pernyataan yang bukan sekadar candaan, melainkan sebuah deklarasi politik tentang perubahan paradigma. Jakarta tidak lagi dipimpin oleh simbolisme fisik, melainkan oleh kekuatan teknokrasi.

"Pak JK, kita ini dibesarkan dalam teknokrasi. Pasti Pak JK dan saya tak mau masuk gorong-gorong, tapi yang bekerja adalah pikiran dan otaknya," ujar Pramono di sela peninjauan kegiatan 'Jaga Jakarta Bersih'.

Pergeseran ini menandai lahirnya era kepemimpinan yang lebih mengandalkan otak daripada sekadar kehadiran raga di titik-titik sempit saluran air.

Pramono memosisikan dirinya sebagai manajer puncak yang bekerja di balik layar, meyakini bahwa kerumitan Jakarta hanya bisa dituntaskan melalui analisis data dan manajerial yang presisi. Menolak mereplikasi gaya ikonik pendahulunya, Pramono seolah ingin membuktikan bahwa efisiensi seorang pemimpin tidak diukur dari seberapa kotor sepatunya, melainkan dari seberapa rapi sistem yang ia bangun.

Di luar pernyataan yang menuai pro dan kontra, kegiatan "Jaga Jakarta Bersih" sendiri membawa misi besar untuk mewujudkan arahan Presiden Prabowo Subianto.

Infografis membedah gerakan bersih-bersih Jakarta Pramono Anung. [Suara.com/Ema]
Infografis membedah gerakan bersih-bersih Jakarta Pramono Anung. [Suara.com/Ema]

Aksi massal ini melibatkan 171.134 personel gabungan di 267 kelurahan, didukung oleh 60 unit ekskavator dan 144 dump truck untuk membereskan sampah pascabanjir. Fokus utamanya adalah pembersihan saluran air, pemangkasan semak, dan pengurasan genangan untuk mencegah wabah penyakit.

Menolak Gorong-gorong, Memilih 'Teknokrasi'

Penolakan Pramono untuk 'masuk gorong-gorong' bukan berarti ia enggan turun ke lapangan. Kehadirannya di lokasi kerja bakti dianggap sudah cukup.

Namun, ia menilai aksi simbolis seperti itu saat ini lebih berisiko menjadi konsumsi media ketimbang memberikan solusi teknis yang efektif.

"Nanti wartawan malah kaget kalau saya masuk gorong-gorong," tuturnya.

Daripada menonjolkan pencitraan, Pramono terang-terangan memilih gaya kepemimpinan yang ia sebut sebagai teknokrasi, di mana "yang bekerja adalah pikiran dan otaknya."

Kerja Otak vs. Blusukan: Apa Bedanya?

Secara fundamental, kedua gaya ini berbeda pada sumber validasi data dan metode pengendalian masalah. Gaya blusukan mengandalkan observasi langsung untuk membangun ikatan emosional, sedangkan teknokrasi lebih mengutamakan instrumen sistemik dan standar operasional prosedur (SOP). Meski sering dianggap berjarak dengan rakyat, pendekatan teknokratis menawarkan kestabilan kebijakan jangka panjang berbasis kinerja yang presisi.

Gubernur DKI Jakarta Pramono AnungGubernur DKI Jakarta Pramono Anung meninjau langsung progres pengerjaan proyek normalisasi Kali Cakung Lama di kawasan Rawa Indah, Cilincing, Jakarta Utara. (Suara.com/Adiyoga Priyambodo)
Gubernur DKI Jakarta Pramono AnungGubernur DKI Jakarta Pramono Anung meninjau langsung progres pengerjaan proyek normalisasi Kali Cakung Lama di kawasan Rawa Indah, Cilincing, Jakarta Utara. (Suara.com/Adiyoga Priyambodo)

Kemampuan manajerial Pemprov DKI di era Pramono terbukti dalam mobilisasi sumber daya masif pada kegiatan "Jaga Jakarta Bersih". Koordinasi lintas sektor yang kompleks, mulai dari Forkopimda (TNI/Polri), BUMD, hingga PMI, menunjukkan berjalannya mesin birokrasi.

Teknokrasi Bertemu Sisi Humanis

Gaya teknokrasi Pramono Anung dilengkapi oleh pendekatan humanis ala Wakil Gubernur Rano Karno. Jika Pramono adalah sang arsitek di balik layar, Rano adalah wajah dan suara Pemprov di lapangan.

Rano cenderung lebih komunikatif dan persuasif, memastikan kebijakan teknokratis teraplikasi dengan benar hingga tingkat RT/RW, seperti yang terlihat saat ia turun langsung memberikan penyuluhan DBD kepada warga.

Namun, di mata pengamat kebijakan publik Trubus Rahardiansah, kombinasi ini tak lebih dari siasat politis menjelang Pilkada.

"Dia (Rano) ingin menampilkan sisi kemanusiaan. Itu sudah banyak warna dalam teorinya," kata Trubus kepada Suara.com, Senin (9/2/2026).

Sementara itu, sikap Pramono yang menekankan gaya teknokratis justru dilihat Trubus sebagai sebuah blunder. Menurutnya, seorang pemimpin terkadang perlu memainkan citra simbolis untuk menggambarkan kesungguhan.

"Kan bukan berarti harus masuk ke gorong-gorong sampai belepotan. Nggak gitu juga, itu hanya simbolis. Kalau kayak gitu ya, Pak Pram berarti nggak pengin Jakarta maju," kritik Trubus.

Pekerjaan rumah duo pemimpin Jakarta ini masih sangat banyak. Menurut Trubus, mereka tidak bisa lagi hanya mengandalkan gaya humanis untuk mengentaskan masalah ibu kota.

"Kan kalau di kita, kalau mau bangun, harus maksa, harus gusur. Normalisasi kali itu baru salah satu aspek, penataan kota dan lain-lainnya, itu belum," tegasnya.

Kini, Pramono dan Rano dihadapkan pada dua pilihan: bertindak tegas demi pembangunan, atau mempertahankan citra positif demi menjaga suara partai pengusung di Pilkada mendatang.

"Mungkin Pak Pram juga lagi bingung, gimana biar PDIP tetep tinggi suaranya di Jakarta. Kan di daerah lain sudah dikuasai Gerindra semua," pungkas Trubus.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Jakarta Mulai Bersolek Jelang Imlek, Rano Karno: Kami Rumah Berbagai Budaya

Jakarta Mulai Bersolek Jelang Imlek, Rano Karno: Kami Rumah Berbagai Budaya

News | Rabu, 11 Februari 2026 | 11:18 WIB

Rano Karno Soroti Trotoar Jadi Lahan Parkir dan PKL: Itulah Uniknya Jakarta

Rano Karno Soroti Trotoar Jadi Lahan Parkir dan PKL: Itulah Uniknya Jakarta

News | Rabu, 11 Februari 2026 | 10:20 WIB

Lampu Hias Semanggi Tiga Kali Raib, Pramono Bongkar Biang Keladi Lemahnya Pengawasan di Jakarta

Lampu Hias Semanggi Tiga Kali Raib, Pramono Bongkar Biang Keladi Lemahnya Pengawasan di Jakarta

News | Selasa, 10 Februari 2026 | 21:01 WIB

Terkini

Komisioner Komnas HAM Desak Penyelesaian Hukum Kasus Kekerasan Seksual Mei 1998

Komisioner Komnas HAM Desak Penyelesaian Hukum Kasus Kekerasan Seksual Mei 1998

News | Rabu, 13 Mei 2026 | 18:10 WIB

Prabowo Murka! Bunga Pinjaman Orang Miskin 24 Persen, Pengusaha Besar Cuma 9 Persen

Prabowo Murka! Bunga Pinjaman Orang Miskin 24 Persen, Pengusaha Besar Cuma 9 Persen

News | Rabu, 13 Mei 2026 | 18:09 WIB

Geger! Bau Menyengat di Pinang Ranti Ternyata Jasad Lansia Sebatang Kara

Geger! Bau Menyengat di Pinang Ranti Ternyata Jasad Lansia Sebatang Kara

News | Rabu, 13 Mei 2026 | 18:07 WIB

Jaksa Tuntut Nadiem Makarim 18 Tahun Penjara di Kasus Korupsi Chromebook!

Jaksa Tuntut Nadiem Makarim 18 Tahun Penjara di Kasus Korupsi Chromebook!

News | Rabu, 13 Mei 2026 | 18:04 WIB

Menhub Absen Karena Sakit, DPR Tunda Rapat Bahas Rentetan Kecelakaan Kereta Api Bekasi Timur

Menhub Absen Karena Sakit, DPR Tunda Rapat Bahas Rentetan Kecelakaan Kereta Api Bekasi Timur

News | Rabu, 13 Mei 2026 | 18:02 WIB

Kejagung Mulai Selidiki Dugaan Pengurusan Perkara yang Menyeret Aspidum Kejati Sumsel

Kejagung Mulai Selidiki Dugaan Pengurusan Perkara yang Menyeret Aspidum Kejati Sumsel

News | Rabu, 13 Mei 2026 | 17:58 WIB

Peringati Tragedi Mei 1998, Komnas Perempuan Ingatkan Sejarah Kelam Kekerasan Seksual Massal

Peringati Tragedi Mei 1998, Komnas Perempuan Ingatkan Sejarah Kelam Kekerasan Seksual Massal

News | Rabu, 13 Mei 2026 | 17:52 WIB

Pemilahan Sampah di Jakarta Dinilai Butuh Sistem Data yang Lebih Terbuka, Mengapa?

Pemilahan Sampah di Jakarta Dinilai Butuh Sistem Data yang Lebih Terbuka, Mengapa?

News | Rabu, 13 Mei 2026 | 17:52 WIB

Jakarta Barat Dikepung Dua Proyek Besar, Arus Daan Mogot dan Latumenten Direkayasa

Jakarta Barat Dikepung Dua Proyek Besar, Arus Daan Mogot dan Latumenten Direkayasa

News | Rabu, 13 Mei 2026 | 17:43 WIB

Anggota DPR Kecewa Menhub Absen Rapat Kecelakaan Maut: Yang Punya Gawe Kok Nggak Hadir?

Anggota DPR Kecewa Menhub Absen Rapat Kecelakaan Maut: Yang Punya Gawe Kok Nggak Hadir?

News | Rabu, 13 Mei 2026 | 17:32 WIB