- Mobilitas masyarakat selama Ramadan terfokus pada buka bersama, silaturahmi, mudik, dan arus balik, meningkatkan kebutuhan transportasi andal.
- Survei YouGov menunjukkan mayoritas pemudik (43%) berangkat H-2 hingga H-6 sebelum Lebaran dan kembali (51%) H+2 hingga H+6.
- Operator transportasi meningkatkan kesiapan armada, seperti Blue Bird dengan lebih dari 25.000 unit, mendukung lonjakan perjalanan pasca-Ramadan.
Suara.com - Pola perjalanan masyarakat selama Ramadan hingga Lebaran mengalami perubahan signifikan. Jika hari biasa mobilitas cenderung merata, pada bulan puasa pergerakan lebih terfokus pada agenda berbuka puasa bersama, silaturahmi, hingga puncaknya perjalanan mudik dan arus balik.
Momentum ini membuat kebutuhan akan layanan transportasi yang mudah diakses dan dapat diandalkan semakin meningkat. Terlebih, perjalanan kini tidak hanya soal berpindah tempat, tetapi juga tentang mengatur waktu agar tetap efisien di tengah jadwal yang padat.
Survei YouGov terkait jendela perjalanan Lebaran 2026 menunjukkan bahwa 43% masyarakat berencana berangkat mudik dua hingga enam hari sebelum Lebaran. Sementara untuk arus balik, 51% responden memilih kembali pada rentang dua hingga enam hari setelah Lebaran. Data ini menegaskan bahwa periode 2–6 hari sebelum dan sesudah hari raya menjadi fase paling krusial dalam siklus mobilitas tahunan.
Lonjakan mobilitas tersebut juga tercermin dalam tren internal sejumlah operator transportasi pada periode sebelumnya. Di beberapa kota besar seperti Bandung, Semarang, Yogyakarta, Medan, hingga Makassar, pertumbuhan perjalanan selama arus balik tercatat meningkat signifikan dibandingkan periode sebelum Ramadan. Pada layanan antarkota, kenaikan bahkan mencapai dua digit, sementara layanan pengiriman barang selama Ramadan juga menunjukkan lonjakan transaksi yang tajam.
Perubahan pola ini menunjukkan bahwa masyarakat semakin terencana dalam mengatur perjalanan. Banyak yang memilih memesan layanan lebih awal demi menghindari kepadatan, sekaligus memastikan agenda penting—mulai dari berbuka puasa bersama keluarga hingga kembali ke kota perantauan—berjalan lancar.
Chief Marketing Officer PT Blue Bird Tbk, Monita Moerdani, menyebut bahwa konsentrasi mobilitas jelang dan setelah Lebaran memang menjadi perhatian utama setiap tahun.
“Kami melihat pola perjalanan yang semakin terkonsentrasi menjelang dan setelah Lebaran. Karena itu, kami memastikan kesiapan lebih dari 25.000 armada, termasuk peremajaan armada, untuk mendukung kebutuhan pelanggan di momen krusial ini,” ujarnya di Jakarta beberapa waktu lalu.
Menurutnya, Ramadan juga menjadi momen yang lebih personal dalam konteks perjalanan.
“Ramadan adalah tentang memenangkan hal-hal kecil yang sering menguji kita, mulai dari stres hingga rasa tidak sabar akibat padatnya aktivitas, termasuk dalam perjalanan. Kami ingin hadir sebagai teman perjalanan yang membantu menjaga ketenangan hingga pelanggan merayakan hari kemenangan,” tambahnya.
Baca Juga: Daftar Lokasi Penukaran Uang Baru 2026 di Palembang, Catat Jadwalnya!
Untuk mendukung kebutuhan tersebut, optimalisasi fitur pemesanan lebih awal dan kepastian tarif menjadi bagian dari strategi layanan, termasuk penyediaan armada di berbagai simpul transportasi seperti bandara, stasiun, terminal, pusat perbelanjaan, dan kawasan residensial.
Dengan pola perjalanan yang semakin terfokus dan terencana, periode Ramadan hingga arus balik Lebaran tak lagi sekadar soal lonjakan jumlah pemudik, tetapi juga tentang bagaimana layanan mobilitas mampu beradaptasi dengan kebutuhan masyarakat yang kian dinamis.