Proyek Surya dan Hidrogen Hijau di RI Dapat Suntikan Dana, Regulasi Masih Jadi Hambatan?

Bimo Aria Fundrika

Senin, 23 Maret 2026 | 18:15 WIB
Proyek Surya dan Hidrogen Hijau di RI Dapat Suntikan Dana, Regulasi Masih Jadi Hambatan?
Ilustrasi penggunaan tenaga surya (Pexels)
baca 10 detik
  • Equator Renewables Asia (ERA) mengamankan pendanaan USD 50 juta untuk proyek surya dan hidrogen hijau di Indonesia.
  • Investasi ini bertujuan mendukung dekarbonisasi Indonesia dan Singapura melalui pengembangan kawasan industri berkelanjutan.
  • Proyek energi bersih lintas negara menghadapi hambatan regulasi perizinan Indonesia yang mempengaruhi kepastian investasi.

Suara.com - Upaya mempercepat transisi energi bersih di Indonesia kembali mendapat dorongan baru. Perusahaan pengembang energi terbarukan Equator Renewables Asia (ERA) berhasil mengamankan pendanaan sebesar 50 juta dolar Singapura atau sekitar Rp600 miliar untuk mengembangkan proyek tenaga surya dan hidrogen hijau di Indonesia.

Perusahaan yang didirikan oleh Frank Phuan, salah satu pendiri Sunseap Group, itu menggandeng sejumlah investor strategis, termasuk perusahaan agribisnis Indonesia KPN Corporation dan perusahaan pelayaran asal Singapura Tsao Pao Chee (TPC).

Kedua investor tersebut menyumbang sekitar 30 juta dolar Singapura, sementara sisanya berasal dari Phuan dan tim manajemen ERA.

Pendanaan ini disebut menjadi bagian dari ambisi ERA untuk mendukung dekarbonisasi di kawasan, khususnya Indonesia dan Singapura, sekaligus mendorong pengembangan kawasan industri berkelanjutan atau sustainable industrial zones (SIZ).

“Pendanaan ini merupakan bagian dari misi kami untuk membantu Singapura dan Indonesia melakukan dekarbonisasi, sekaligus mendukung pengembangan kawasan industri berkelanjutan,” kata Phuan.

Namun, di balik masuknya investasi baru ini, tantangan besar masih membayangi. Sejumlah proyek energi surya lintas negara antara Indonesia dan Singapura justru mengalami keterlambatan, terutama karena hambatan regulasi.

Beberapa pengembang yang terlibat dalam proyek ekspor listrik dari Batam ke Singapura dilaporkan kesulitan mendapatkan pembiayaan, meskipun kedua negara telah menandatangani kesepakatan kerja sama pada 2023.

Proyek-proyek tersebut mencakup pembangunan pembangkit listrik tenaga surya skala besar, fasilitas penyimpanan energi, hingga kabel transmisi bawah laut, yang ditargetkan mulai beroperasi pada 2028.

Namun, ketentuan perizinan di Indonesia yang mengharuskan pembaruan izin setiap lima tahun menjadi salah satu faktor utama yang menghambat kepastian investasi.

baca juga

Phuan mengakui bahwa dinamika regulasi tersebut menjadi bagian dari tantangan yang harus dihadapi. Meski demikian, ia menegaskan bahwa proyek ERA tetap berjalan beriringan dengan proses pembahasan kebijakan antara pemerintah Indonesia dan Singapura.

“Proyek kami tetap berjalan paralel dengan diskusi kebijakan antara kedua pemerintah untuk memfinalisasi kerangka regulasi perdagangan energi terbarukan lintas negara,” ujarnya.

Saat ini, ERA tengah mengembangkan portofolio proyek di Kepulauan Riau, termasuk Batam, Bintan, dan Karimun. Total kapasitas yang direncanakan mencapai 2,2 gigawatt-peak (GWp) untuk tenaga surya, dilengkapi dengan 3,2 gigawatt-hour (GWh) sistem penyimpanan energi, serta inisiatif pengembangan hidrogen hijau.

Dana yang baru diperoleh akan difokuskan untuk pengembangan lokasi proyek, persiapan awal pembangunan pembangkit listrik skala besar, serta studi kelayakan dan proyek percontohan untuk hidrogen hijau.

Meski menjanjikan, pengembangan proyek energi bersih di kawasan ini juga tidak lepas dari tantangan sosial. Proyek Rempang Eco-City, misalnya, sempat memicu penolakan masyarakat akibat isu relokasi warga.

Menanggapi hal tersebut, Phuan menegaskan bahwa seluruh proyek ERA akan melalui kajian dampak lingkungan dan sosial secara menyeluruh.

“Semua proyek akan mempertimbangkan kesesuaian lahan, persyaratan regulasi, serta analisis dampak lingkungan dan sosial,” katanya.

Masuknya investasi baru ini menunjukkan bahwa potensi energi bersih Indonesia masih sangat besar dan menarik bagi investor. Namun, tanpa kepastian regulasi dan pendekatan yang sensitif terhadap aspek sosial, ambisi menjadikan Indonesia sebagai pemain utama dalam perdagangan energi hijau kawasan masih menghadapi jalan panjang.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Perang Iran Picu Krisis Energi Global, Bisakah Energi Terbarukan Jadi Jalan Keluar?

Perang Iran Picu Krisis Energi Global, Bisakah Energi Terbarukan Jadi Jalan Keluar?

News | Senin, 23 Maret 2026 | 10:44 WIB

Perang Iran vs AS-Israel Picu Krisis Energi, PBB: Saatnya Beralih ke Energi Terbarukan

Perang Iran vs AS-Israel Picu Krisis Energi, PBB: Saatnya Beralih ke Energi Terbarukan

News | Rabu, 18 Maret 2026 | 15:15 WIB

Malaysia Minggir! Ini 2 Tim ASEAN yang Temani Timnas Indonesia ke Piala Asia 2027

Malaysia Minggir! Ini 2 Tim ASEAN yang Temani Timnas Indonesia ke Piala Asia 2027

Bola | Rabu, 18 Maret 2026 | 14:05 WIB

Terkini

Detik-Detik Mencekam di Sydney! Airbus A320 Nyaris Tabrakan dengan Boeing 777

Detik-Detik Mencekam di Sydney! Airbus A320 Nyaris Tabrakan dengan Boeing 777

News | Minggu, 09 Agustus 2026 | 19:05 WIB

Dukung Green Movement, PMII dan Nusa Jaya Perluas Ruang Hijau di Tengah Kota Jakarta

Dukung Green Movement, PMII dan Nusa Jaya Perluas Ruang Hijau di Tengah Kota Jakarta

Jakarta | Minggu, 09 Agustus 2026 | 19:00 WIB

Menyamar Jadi Polisi, Pria Ini Curi Susu di 6 Minimarket Palembang, Gunakan KTA Polri Palsu

Menyamar Jadi Polisi, Pria Ini Curi Susu di 6 Minimarket Palembang, Gunakan KTA Polri Palsu

Sumsel | Minggu, 09 Agustus 2026 | 18:51 WIB

Novel Kisah Pi: Perjuangan Bertahan Hidup Bersama Harimau di Tengah Laut

Novel Kisah Pi: Perjuangan Bertahan Hidup Bersama Harimau di Tengah Laut

Your Say | Minggu, 09 Agustus 2026 | 18:45 WIB

Anti-Geser! 4 Chemical Sunscreen Lokal yang Nyaman Dipakai di Bawah Makeup

Anti-Geser! 4 Chemical Sunscreen Lokal yang Nyaman Dipakai di Bawah Makeup

Your Say | Minggu, 09 Agustus 2026 | 18:35 WIB

Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?

Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?

Sumsel | Minggu, 09 Agustus 2026 | 18:34 WIB

Filosofi STY Bertemu Transformasi Bank Jakarta, Persija Bidik Juara Liga 1

Filosofi STY Bertemu Transformasi Bank Jakarta, Persija Bidik Juara Liga 1

Bola | Minggu, 09 Agustus 2026 | 18:30 WIB

Jalur Kematian Orang Indo! Belanda Didesak Sejarah Gelap Kolonial Masuk Kurikulum

Jalur Kematian Orang Indo! Belanda Didesak Sejarah Gelap Kolonial Masuk Kurikulum

News | Minggu, 09 Agustus 2026 | 18:30 WIB

Detik-detik Kebakaran Mobil Merambat ke Tempat Pengisian BBM di Bogor

Detik-detik Kebakaran Mobil Merambat ke Tempat Pengisian BBM di Bogor

Bogor | Minggu, 09 Agustus 2026 | 18:26 WIB

Riau Sumbang 198 Hotspot, Karhutla di 3 Wilayah Capai 124 Hektare

Riau Sumbang 198 Hotspot, Karhutla di 3 Wilayah Capai 124 Hektare

News | Minggu, 09 Agustus 2026 | 18:24 WIB

×