Bisakah Pertanian Masyarakat Adat Menjawab Krisis Pangan Global? Ini Temuan Terbarunya

Bimo Aria Fundrika

Jum'at, 27 Maret 2026 | 17:15 WIB
Bisakah Pertanian Masyarakat Adat Menjawab Krisis Pangan Global? Ini Temuan Terbarunya
Ilustrasi Petani Masyarakat Adat. (Unsplash/@panspecies)
baca 10 detik
  • Praktik pertanian tradisional masyarakat adat dinilai sebagai alternatif penting di tengah krisis pangan dan iklim, namun kurang data produktivitas.
  • Studi menyoroti kesenjangan antara narasi dukungan dengan bukti ilmiah terukur mengenai skalabilitas dan produktivitas pertanian adat.
  • Integrasi pertanian tradisional dan modern, didukung kebijakan serta investasi, dinilai krusial untuk ketahanan pangan dan lingkungan global.

Suara.com - Di tengah krisis iklim dan tekanan terhadap sistem pangan global, praktik pertanian tradisional masyarakat adat mulai kembali dilirik sebagai alternatif.

Sejumlah penelitian dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa sistem seperti penanaman jagung, kacang, dan labu secara bersamaan mampu menjaga kesehatan tanah, mengurangi hilangnya keanekaragaman hayati, serta mempertahankan pengetahuan ekologi tradisional.

Namun, di balik potensinya, masih ada persoalan mendasar: sejauh mana praktik ini bisa diterapkan dalam skala besar dan berkontribusi nyata terhadap kebutuhan pangan global.

Sebuah studi yang dipublikasikan di jurnal Frontiers in Sustainable Food Systems menyoroti adanya kesenjangan antara narasi dukungan terhadap pertanian masyarakat adat dengan bukti ilmiah yang terukur.

Masyarakat adat. (Dok. Istimewa)
Masyarakat adat. (Dok. Istimewa)

Penelitian yang dilakukan oleh Kamaljit Sangha dari Charles Darwin University menemukan bahwa sebagian besar studi yang ada menekankan manfaat ekologis dan sosial, tetapi minim data kuantitatif terkait produktivitas dan skalabilitas.

“Ada nilai-nilai holistik yang selama ini tidak terlihat karena sistem pengukuran kita terlalu berfokus pada aspek ekonomi,” kata Sangha. Ia menilai, pengakuan terhadap nilai non-moneter—seperti ketahanan komunitas dan keberlanjutan lingkungan—perlu diperkuat agar mendapat perhatian kebijakan.

Di Antara Potensi dan Keterbatasan

Kajian terhadap 49 penelitian tentang masyarakat adat dan komunitas lokal menunjukkan bahwa praktik pertanian tradisional memiliki keunggulan dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Namun, kurangnya data empiris membuat pendekatan ini belum sepenuhnya terintegrasi dalam sistem pertanian modern.

Padahal, tantangan ke depan semakin mendesak. Produksi pangan global diperkirakan harus meningkat hingga 35–56 persen pada 2050 untuk memenuhi kebutuhan populasi dunia, tanpa memperluas lahan pertanian.

baca juga

Di saat yang sama, perubahan iklim terus menggerus produktivitas melalui penurunan kualitas tanah, hilangnya biodiversitas, dan perubahan nilai gizi.

Saat ini, sistem pangan global juga menyumbang sekitar 26 persen emisi gas rumah kaca, menjadikannya bagian dari masalah sekaligus kunci solusi.

Mencari Titik Temu

Studi ini tidak memposisikan pertanian tradisional dan modern sebagai dua hal yang saling bertentangan. Sebaliknya, integrasi keduanya dinilai sebagai jalan tengah yang lebih realistis.

Pertanian masyarakat adat tidak hanya menghasilkan pangan, tetapi juga berkontribusi secara ekonomi melalui cara yang tidak selalu tercatat dalam pasar—misalnya dengan mengurangi pengeluaran rumah tangga untuk makanan, obat, dan kebutuhan lainnya.

Namun, faktor historis seperti kolonialisme turut memperlemah praktik ini. Banyak pengetahuan tradisional yang hilang atau tergeser oleh sistem pangan modern, sehingga keberlanjutannya terancam.

Peran Kebijakan dan Investasi

Untuk menjembatani kesenjangan tersebut, studi ini menekankan pentingnya intervensi kebijakan dan dukungan pendanaan. Investasi yang tepat dapat membantu memperluas praktik pertanian tradisional sekaligus memperkaya sistem pertanian modern dengan pendekatan yang lebih berkelanjutan.

Langkah awal sebenarnya sudah terlihat. Pada 2024, United Nations Global Biodiversity Framework Fund menetapkan alokasi 20 persen dananya untuk mendukung inisiatif masyarakat adat dalam menjaga lahan dan keanekaragaman hayati. Namun, komitmen global yang secara spesifik menargetkan pelestarian sistem pangan tradisional masih terbatas.

Sangha menilai, pengakuan terhadap nilai-nilai di luar ekonomi pasar menjadi kunci untuk mendorong perubahan kebijakan.

“Jika nilai-nilai ini diakui dalam pengambilan keputusan, maka dukungan terhadap sistem pangan masyarakat adat bisa meningkat,” ujarnya.

Di tengah tekanan krisis iklim, pertanian tradisional menawarkan pendekatan yang lebih adaptif dan berbasis ekosistem. Namun, tanpa dukungan riset yang lebih kuat dan kebijakan yang berpihak, potensinya berisiko tetap berada di pinggiran.

Menggabungkan pengetahuan lama dengan teknologi baru menjadi salah satu peluang yang mulai terbuka. Jika berhasil, pendekatan ini tidak hanya membantu memenuhi kebutuhan pangan global, tetapi juga menjaga keseimbangan lingkungan dan keberlanjutan komunitas lokal.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Setelah Arab Saudi, Pemerintah Sasar Ekspor Beras ke Negara Tetangga

Setelah Arab Saudi, Pemerintah Sasar Ekspor Beras ke Negara Tetangga

News | Rabu, 18 Maret 2026 | 14:11 WIB

Sah! Pemerintah Tarik Kewenangan Alih Fungsi Lahan Pertanian ke Pusat

Sah! Pemerintah Tarik Kewenangan Alih Fungsi Lahan Pertanian ke Pusat

Bisnis | Kamis, 12 Maret 2026 | 14:12 WIB

Berlumur Lumpur ke Pengadilan: Mengapa Masyarakat Adat Malind Menggugat Proyek Jalan PSN di Merauke?

Berlumur Lumpur ke Pengadilan: Mengapa Masyarakat Adat Malind Menggugat Proyek Jalan PSN di Merauke?

News | Jum'at, 06 Maret 2026 | 12:55 WIB

Terkini

16 Korporasi Disidik Kasus Karhutla Sumsel, Mengapa Identitasnya Belum Dibuka ke Publik?

16 Korporasi Disidik Kasus Karhutla Sumsel, Mengapa Identitasnya Belum Dibuka ke Publik?

Sumsel | Selasa, 29 September 2026 | 23:02 WIB

Diduga Bakar Rumah Orang Tua, Perempuan 23 Tahun Diamankan Polisi

Diduga Bakar Rumah Orang Tua, Perempuan 23 Tahun Diamankan Polisi

Jabar | Selasa, 29 September 2026 | 23:02 WIB

Manfaatkan Potensi Lokal, Kelompok Ternak APTUR Kembangkan Usaha Perikanan dan Peternakan

Manfaatkan Potensi Lokal, Kelompok Ternak APTUR Kembangkan Usaha Perikanan dan Peternakan

Jabar | Selasa, 29 September 2026 | 22:53 WIB

Bank Sumsel Babel Perkuat Kepedulian Kesehatan Lewat CSR Operasi Mata

Bank Sumsel Babel Perkuat Kepedulian Kesehatan Lewat CSR Operasi Mata

Sumsel | Selasa, 29 September 2026 | 22:22 WIB

Erick Thohir: Persaingan FIFA ASEAN Cup Makin Ketat, Indonesia Tak Boleh Anggap Remeh Lawan

Erick Thohir: Persaingan FIFA ASEAN Cup Makin Ketat, Indonesia Tak Boleh Anggap Remeh Lawan

Jabar | Selasa, 29 September 2026 | 22:17 WIB

Industri Mamin Tumbuh 7,04 Persen, MoreFood Expo 2027 Bidik Pasar Lebih Luas

Industri Mamin Tumbuh 7,04 Persen, MoreFood Expo 2027 Bidik Pasar Lebih Luas

Jabar | Selasa, 29 September 2026 | 22:13 WIB

Karhutla TNBS Jambi Tinggal 2 Kilometer dari Habitat Harimau, Api Belum Berhasil Dipadamkan

Karhutla TNBS Jambi Tinggal 2 Kilometer dari Habitat Harimau, Api Belum Berhasil Dipadamkan

Sumsel | Selasa, 29 September 2026 | 22:13 WIB

Tak Sesuai Domisili, 1.900 Manajer Kopdes Ditempatkan Lintas Provinsi

Tak Sesuai Domisili, 1.900 Manajer Kopdes Ditempatkan Lintas Provinsi

Video | Selasa, 29 September 2026 | 22:00 WIB

Tips Memilih Sekolah dengan Padukan Fasilitas Akademik dan Pengembangan Karakter Siswa

Tips Memilih Sekolah dengan Padukan Fasilitas Akademik dan Pengembangan Karakter Siswa

Jakarta | Selasa, 29 September 2026 | 22:00 WIB

Petani PALI Tewas Ditembak di Kebun, Cekcok Pelepah Sawit Berujung Maut

Petani PALI Tewas Ditembak di Kebun, Cekcok Pelepah Sawit Berujung Maut

Sumsel | Selasa, 29 September 2026 | 21:57 WIB

×