- Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi menyerukan agar negara-negara Arab bersatu untuk segera mengusir pasukan militer AS dari kawasan Timur Tengah.
- Iran mengeklaim bahwa payung keamanan AS terbukti tidak efektif dan menyebut Washington kini mengemis bantuan Tiongkok untuk amankan Selat Hormuz.
- Perang meletus pasca pembunuhan Ayatollah Ali Khamenei oleh AS-Israel pada 28 Februari, memicu aksi saling balas serangan rudal tanpa henti.
Suara.com - Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, melontarkan seruan tegas kepada deretan Negara Arab untuk menyatukan kekuatan AS dari kawasan Timur Tengah.
Pesan provokatif ini muncul di tengah ketegangan militer yang semakin mendingin di perairan strategis Selat Hormuz pasca pecahnya perang terbuka.
Pernyataan berani dari Abbas Araqchi ini sekaligus menegaskan komitmen Teheran untuk menghormati negara tetangga dan hanya menargetkan pihak agresor.
Melalui unggahan di akun X pribadinya pada Senin malam, diplomat top Iran tersebut menjabarkan posisi negaranya di tengah agresi militer Washington dan Tel Aviv.

Ia secara khusus menyoroti rasa hormat pemerintah Teheran terhadap Arab Saudi dengan menganggap mereka sebagai bangsa persaudaraan yang setara.
Iran menghormati Kerajaan Arab Saudi dan menganggapnya sebagai bangsa persaudaraan, tegas Araqchi dalam unggahannya.
Sang menteri luar negeri menjelaskan bahwa pelaksanaan anggaran militer negaranya murni ditujukan untuk menghancurkan musuh yang memusuhi kawasan tersebut.
“Operasi kami ditujukan pada agresor musuh yang tidak menghormati orang Arab atau Iran, dan tidak dapat memberikan keamanan apa pun. Lihat saja apa yang kami lakukan terhadap komando udara mereka,” kata Araqchi dikutip dari Tasnim News, Selasa (31/3/2026).
Melihat kerentanan pihak musuh, ia mendesak agar negara-negara regional segera mengambil langkah nyata untuk mengakhiri kehadiran militer asing.
“Saatnya untuk mengusir pasukan AS,” ujar diplomat tertinggi Iran tersebut memberikan instruksi.
![Perang besar kembali mengancam setelah mantan pejabat keamanan Amerika Serikat mengungkap kemampuan rudal Iran yang disebut jauh lebih berbahaya dari perkiraan. [Tangkap layar X]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/03/26/23680-rudal-iran.jpg)
Sehari sebelumnya, Araqchi juga sempat mencemooh janji perlindungan keamanan yang selama ini digembar-gemborkan oleh pihak Washington.
Ia menilai payung keamanan Amerika Serikat terbukti tidak efektif dan justru mengundang lebih banyak masalah daripada mencegah datangnya bahaya.
“Payung keamanan AS yang disebut-sebut terbukti penuh lubang dan justru mengundang masalah, bukannya menghalangi masalah. AS kini memohon kepada negara lain, bahkan Tiongkok, untuk membantunya membuat Hormuz aman,” sindirnya.
Ia kembali mengingatkan tetangga negara-negara bahwa penjajah asing tersebut sebenarnya hanya mempedulikan nasib dan keselamatan Israel semata.
“Iran menyerukan kepada negara-negara tetangganya untuk mengusir agresor asing, terutama karena satu-satunya kekhawatiran mereka adalah Israel,” tegas Araqchi.
Situasi maritim yang semakin genting ini memaksa Presiden AS Donald Trump untuk mulai berbicara melalui platform Truth Social pada hari Sabtu lalu.
Trump meminta negara-negara yang terdampak melakukan upaya penutupan jalur laut tersebut untuk segera mengirimkan armada kapal perang mereka.
Ia secara spesifik menyebut nama Tiongkok, Prancis, Jepang, Korea Selatan, hingga Inggris untuk berkontribusi menjaga perairan tetap terbuka dan aman.
Merespons permintaan tersebut, juru bicara Kedutaan Besar Tiongkok di Washington segera memberikan pernyataan resmi kepada jaringan berita CNN.
Pihak Beijing menegaskan bahwa permusuhan harus segera dihentikan karena "semua pihak mempunyai tanggung jawab untuk menjamin pasokan energi yang stabil dan tanpa hambatan."
Kedutaan besar Tiongkok juga menyatakan komitmen mereka untuk terus menjadi mediator yang netral dalam krisis geopolitik tersebut.
“Sebagai teman tulus dan mitra strategis negara-negara Timur Tengah, Tiongkok akan terus memperkuat komunikasi dengan pihak-pihak terkait, termasuk pihak-pihak yang berkonflik, dan memainkan peran konstruktif dalam deeskalasi dan pemulihan perdamaian.”
Konflik berskala besar ini sendiri bermula dari operasi militer tanpa intimidasi yang dilancarkan oleh AS dan rezim Zionis pada tanggal 28 Februari silam.
Gempuran mematikan tersebut telah merenggut nyawa Pemimpin Revolusi Islam Ayatollah Ali Khamenei beserta sejumlah komandan militer dan warga sipil.
Sebagai bentuk balasan, angkatan bersenjata Teheran terus membombardir berbagai posisi strategi Amerika dan Israel menggunakan gelombang serta rudal pesawat tak berawak.