- Tembok TPS Pasar Induk Kramat Jati roboh sejak Januari 2026 akibat tekanan gunungan sampah setinggi enam meter.
- Warga mengeluhkan dampak bau menyengat, banyaknya lalat, dan ancaman keselamatan bagi anak-anak yang bermain di sekitar lokasi.
- Sudin Lingkungan Hidup Jakarta Timur mengerahkan 13 truk pengangkut sampah untuk membersihkan tumpukan sampah secara bertahap sejak Maret.
Suara.com - Kondisi infrastruktur di Tempat Penampungan Sementara (TPS) Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur, kini menjadi sorotan. Tembok pembatas di area tersebut dilaporkan roboh yang diduga kuat akibat tidak mampu menahan tekanan tumpukan sampah yang terus menggunung hingga mencapai ketinggian sekitar enam meter.
Kerusakan ini memicu kekhawatiran serius di kalangan masyarakat yang beraktivitas di sekitar lokasi pusat distribusi pangan terbesar di Jakarta tersebut.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, kerusakan infrastruktur ini bukanlah kejadian baru. Seorang warga sekitar bernama Jamal (39) mengungkapkan bahwa kerusakan tersebut sudah terjadi sejak awal tahun, namun hingga kini belum menyentuh perhatian serius dari pihak pengelola maupun instansi terkait untuk dilakukan perbaikan permanen.
"Sudah lama itu robohnya, sepengetahuan saya sudah roboh pas awal Januari tahun ini. Tapi sampai sekarang, ya, udah begini saja, belum dibenerin, makanya masih seperti itu," kata Jamal di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur, sebagaimana dilansir Antara, Rabu (1/4/2026).
Kondisi gunungan sampah yang melampaui kapasitas ini tidak hanya merusak tembok, tetapi juga membawa dampak lingkungan yang signifikan bagi warga urban di sekitarnya.
Jamal mengeluhkan aroma tidak sedap yang menusuk hidung serta ledakan populasi lalat yang mulai mengancam kesehatan warga setiap harinya.
"Sampah sedikit aja sudah bau, ini lagi kaya gunungan sampah, dari jauh juga udah bau banget menyengat, terus lalat jadi makin banyak. Kaya begini tidak sehat, tiap hari banyak lalat hijau," ujar Jamal.
Melihat kondisi yang kian memprihatinkan, Jamal mendesak agar Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Pemerintah Kota Jakarta Timur, maupun pihak pengelola pasar segera melakukan tindakan nyata.
Pengangkutan sampah secara masif dan perbaikan tembok pembatas menjadi tuntutan utama warga agar estetika dan kesehatan lingkungan kembali terjaga.
"Kondisi seperti ini tidak enak dilihat, tidak baik juga. Harus ada pihak pemerintah ataupun pihak pasar yang bertanggung jawab cepat mengurangi gunungan sampah, terus diperbaiki temboknya," ucap Jamal.
Keresahan senada juga disuarakan oleh Sinta (32), warga lainnya yang sering melintasi area tersebut.
Ia menyoroti aspek keselamatan jiwa, mengingat lokasi tembok yang roboh berada sangat dekat dengan akses jalan setapak yang kerap digunakan warga serta area bermain anak-anak.
"Bukan hanya jadi jalan pintas warga, lapangan di situ juga sering dipakai anak-anak bermain. Jadi, kami khawatir kalau tiba-tiba ambruk lagi, apalagi sampahnya terus menumpuk," tutur Sinta.
Menurut pengamatan Sinta, volume sampah di TPS Pasar Induk Kramat Jati ini terus mengalami peningkatan yang konsisten. Bahkan, tren kenaikan volume sampah ini sudah terlihat sejak sebelum memasuki bulan suci Ramadhan dan belum menunjukkan tanda-tanda akan berkurang.
"Volume sampah makin tinggi dan belum ada penurunan sejak sebelum puasa. Kami takut tekanan sampah membuat tembok semakin roboh, kesehatan semakin terganggu, akhirnya aktivitas jadi terhambat," ungkap Sinta.
Situasi di lapangan menunjukkan pemandangan yang cukup mengkhawatirkan. Tembok yang roboh tersebut berada tepat di titik beban puncak tumpukan sampah sisa sayuran dan buah-buahan.
Material beton serta tiang penyangga tembok terlihat hancur berantakan, di mana sebagian materialnya masuk ke dalam saluran air yang berada di bagian bawah.
Dampak domino dari robohnya tembok ini juga merambah pada sistem drainase. Sampah-sampah organik dari TPS tampak meluap dan terbawa hingga ke dalam saluran air.
Kondisi ini berpotensi besar menyumbat aliran air dan memicu genangan atau banjir di area pasar saat hujan turun, yang pada akhirnya akan memperburuk sanitasi lingkungan.
Padahal, area di belakang TPS tersebut merupakan lahan terbuka yang menjadi ruang interaksi sosial bagi warga setempat.
Anak-anak sering memanfaatkan lahan kosong tersebut untuk bermain, sementara jalan setapak di dekat gunungan sampah setinggi enam meter itu merupakan urat nadi akses harian warga.
Merespons situasi ini, pihak otoritas kebersihan sebenarnya telah melakukan upaya intervensi. Kepala Suku Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Timur, Julius Monangta, menyatakan bahwa pihaknya terus memberikan dukungan berupa armada dan personel untuk membantu menangani masalah kebersihan di fasilitas publik tersebut.
Sebagai langkah darurat, sebanyak 13 truk dari Suku Dinas (Sudin) Lingkungan Hidup (LH) Jakarta Timur telah dikerahkan sejak Senin (30/3) untuk mulai mengangkut gunungan sampah yang telah menumpuk di Pasar Induk Kramat Jati.
"Jadi, memang itu fasilitas publik. Kita pasti mendukung fasilitas publik untuk tetap bersih dan nyaman," kata Monang di Pulo Gebang, Jakarta Timur, Senin (30/3).
Monang menegaskan bahwa bantuan armada dari Sudin LH Jakarta Timur ini tidak memiliki batas waktu tertentu.
Pihaknya berkomitmen untuk terus menyiagakan personel dan truk hingga seluruh tumpukan sampah di lokasi tersebut benar-benar tertangani dan dibersihkan secara total.
"Jadi, memang itu fasilitas publik. Kita pasti mendukung fasilitas publik untuk tetap bersih dan nyaman," tegas Monang kembali mengenai komitmen pelayanan publik tersebut.
Meski demikian, upaya pengangkutan sampah yang sudah berlangsung selama empat hari sejak Jumat (27/3) tersebut tampaknya belum membuahkan hasil yang signifikan di lapangan.
Volume sampah yang sangat besar membuat proses pembersihan memerlukan waktu lebih lama dan koordinasi yang lebih intensif antara pengelola pasar dan pemerintah kota agar masalah tembok roboh dan gunungan sampah ini tidak terus berulang di masa depan.