Bau Busuk Tak Menghalangi, Ali Setia Berjualan di Pasar Induk Kramat Jati

Bella

Senin, 30 Maret 2026 | 14:36 WIB
Bau Busuk Tak Menghalangi, Ali Setia Berjualan di Pasar Induk Kramat Jati
Tumpukan sampah di kawasan Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur. [Suara.com/Tsabita]
baca 10 detik
  • Pedagang nasi bernama Ali telah tiga tahun berdagang dekat tumpukan sampah di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur.
  • Ali telah beradaptasi ekstrem sehingga tidak lagi terganggu oleh bau menyengat sampah yang menggunung tinggi di sekitar lapaknya.
  • Faktor ekonomi membuat Ali bertahan berdagang di lokasi tersebut meskipun kondisi lingkungan sekitar dinilai sangat kurang higienis.

Suara.com - Bagi sebagian besar orang, tumpukan sampah dengan aroma busuk yang menyengat adalah tempat yang harus dihindari sejauh mungkin.

Namun, bagi pedagang nasi dan lauk, Ali, tumpukan sampah di kawasan Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur, adalah "kawan" sehari-hari dalam mencari rezeki.

Di tengah hiruk pikuk aktivitas pasar yang tak pernah sepi, Ali tetap tenang menyajikan sepiring demi sepiring nasi lauk kepada pelanggannya. Yang mengejutkan, lapak dagangannya hanya berdiri dalam jarak yang tak jauh dari gunungan sampah yang menggunung tinggi.

Indra Penciuman yang Telah 'Berdamai'

Sudah tiga tahun Ali menggantungkan hidupnya di lokasi ini. Selama itu pula, ia telah melewati proses adaptasi yang ekstrem terhadap lingkungannya.

Jika pengunjung baru akan menutup hidung atau bahkan merasa mual saat melintasi area tersebut, Ali justru tampak santai tanpa masker yang menutupi wajahnya.

Saat ditanya mengenai perasaannya berjualan di dekat limbah pasar yang menggunung, ia memberikan jawaban yang menunjukkan betapa kuatnya pembiasaan terhadap kondisi lingkungan sekitar.

“Kalau sudah terbiasa jadi biasa aja, nggak terlalu terganggu,” ujar Ali saat ditemui di lokasi, Senin (30/3/2026).

Bagi Ali, bau yang menusuk hidung itu bukan lagi gangguan, melainkan latar aroma dari rutinitasnya. Ia mengakui bahwa bau tersebut hanya akan terasa bagi mereka yang tidak terbiasa.

"Kalau sudah terbiasa ya nggak (tercium). Kalau yang baru datang itu baru kecium baunya," tambahnya.

baca juga

Kondisi yang Berulang dan Tak Terhindarkan

Tumpukan sampah setinggi enam meter tersebut memang terlihat sangat parah. Namun, menurut Ali, fenomena sampah yang meluap itu sudah menjadi pemandangan harian.

Meski terkadang volume sampah bertambah drastis seperti yang terjadi sejak semalam, ia tidak menganggap hal itu sebagai sesuatu yang luar biasa.

"Enggak tiap hari begini (separah ini), tapi ya nggak terlalu beda jauh," jelasnya.

Kondisi higienitas di sekitar tempat makan biasanya menjadi prioritas utama konsumen. Namun, di sudut Pasar Kramat Jati ini, hal tersebut seolah tidak berlaku.

Ali mengklaim bahwa kualitas dagangannya tetap terjaga dan tidak terganggu oleh keberadaan sampah. Hal yang sama pun diungkapkan oleh para pelanggannya yang seolah memiliki tingkat toleransi yang sama tingginya dengan sang penjual.

Bertahan Demi Nafkah

Ali bukannya tidak ingin berjualan di tempat yang lebih bersih dan nyaman. Namun, faktor ekonomi dan strategi lokasi pasar membuatnya memilih untuk tetap bertahan. Baginya, berjualan di area tersebut adalah pilihan realistis demi menyambung hidup.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Gunungan Sampah di Pasar Induk Kramat Jati Menumpuk hingga 6 Meter, Ini Penyebabnya

Gunungan Sampah di Pasar Induk Kramat Jati Menumpuk hingga 6 Meter, Ini Penyebabnya

News | Senin, 30 Maret 2026 | 14:12 WIB

Sampah Menggunung 6 Meter di Pasar Induk Kramat Jati, Bau Menyengat Ganggu Aktivitas

Sampah Menggunung 6 Meter di Pasar Induk Kramat Jati, Bau Menyengat Ganggu Aktivitas

News | Senin, 30 Maret 2026 | 12:54 WIB

Sarung Tangan Plastik Makan: Higienitas, Efisiensi, atau Limbah Baru?

Sarung Tangan Plastik Makan: Higienitas, Efisiensi, atau Limbah Baru?

Your Say | Minggu, 29 Maret 2026 | 12:25 WIB

Sampah Menggunung di Pasar Induk Kramat Jati Capai 6.970 Ton, Pasar Jaya Kebut Pengangkutan

Sampah Menggunung di Pasar Induk Kramat Jati Capai 6.970 Ton, Pasar Jaya Kebut Pengangkutan

News | Sabtu, 28 Maret 2026 | 19:43 WIB

Miris, Pandawara Tunjukkan Banyak Amplop THR Bekas Ditemukan di Sungai

Miris, Pandawara Tunjukkan Banyak Amplop THR Bekas Ditemukan di Sungai

Video | Jum'at, 27 Maret 2026 | 17:00 WIB

DLH DKI Tutup Tempat Penampungan Sampah Sungai di TPU Tanah Kusir, Dialihkan ke TB Simatupang

DLH DKI Tutup Tempat Penampungan Sampah Sungai di TPU Tanah Kusir, Dialihkan ke TB Simatupang

News | Jum'at, 27 Maret 2026 | 13:39 WIB

Gunungan Sampah Kiriman Kepung Pantai Kedonganan Bali

Gunungan Sampah Kiriman Kepung Pantai Kedonganan Bali

Foto | Jum'at, 27 Maret 2026 | 12:40 WIB

Studi Ungkap Biaya Tersembunyi Emisi Karbon bagi Ekonomi Global

Studi Ungkap Biaya Tersembunyi Emisi Karbon bagi Ekonomi Global

News | Jum'at, 27 Maret 2026 | 10:30 WIB

Sampah Popok Meningkat di Jepang, Bisakah Daur Ulang Jadi Solusi?

Sampah Popok Meningkat di Jepang, Bisakah Daur Ulang Jadi Solusi?

News | Jum'at, 27 Maret 2026 | 10:11 WIB

Jejak Yang Tertinggal: Sampah dan Harga Lingkungan dari Euforia Wisata

Jejak Yang Tertinggal: Sampah dan Harga Lingkungan dari Euforia Wisata

Your Say | Jum'at, 27 Maret 2026 | 17:00 WIB

Terkini

Taruna Akmil akan Dampingi Siswa Sekolah Rakyat Belajar Mandiri di Asrama Selama 5 Hari

Taruna Akmil akan Dampingi Siswa Sekolah Rakyat Belajar Mandiri di Asrama Selama 5 Hari

News | Senin, 29 Juni 2026 | 23:37 WIB

Tak Lagi 'Macan Ompong', RUU HAM Beri Komnas HAM Kewenangan Penyidikan

Tak Lagi 'Macan Ompong', RUU HAM Beri Komnas HAM Kewenangan Penyidikan

News | Senin, 29 Juni 2026 | 21:35 WIB

Menuju Kota Global, Jakarta Kejar Target Bebas Buang Air Sembarangan

Menuju Kota Global, Jakarta Kejar Target Bebas Buang Air Sembarangan

News | Senin, 29 Juni 2026 | 20:44 WIB

Jangan Terkecoh! Pendakian Gunung Merapi Masih Ditutup, Abaikan Ajakan di Medsos

Jangan Terkecoh! Pendakian Gunung Merapi Masih Ditutup, Abaikan Ajakan di Medsos

News | Senin, 29 Juni 2026 | 20:41 WIB

Jadi Otak Penyekapan, Bos Percetakan di Senen Perintahkan Anak Buah Pasung Kaki Korban

Jadi Otak Penyekapan, Bos Percetakan di Senen Perintahkan Anak Buah Pasung Kaki Korban

News | Senin, 29 Juni 2026 | 20:22 WIB

Bertemu Dony Oskaria, KPK Minta Pejabat BUMN Bandel Tak Lapor LHKPN Disanksi

Bertemu Dony Oskaria, KPK Minta Pejabat BUMN Bandel Tak Lapor LHKPN Disanksi

News | Senin, 29 Juni 2026 | 19:43 WIB

Gelar Budaya Jokowi Disorot, Dinilai Jadi 'Senjata' Politik Incar Masyarakat Paternalistik

Gelar Budaya Jokowi Disorot, Dinilai Jadi 'Senjata' Politik Incar Masyarakat Paternalistik

News | Senin, 29 Juni 2026 | 19:36 WIB

Satu Tahun Menuju 5 Abad, Apakah Jakarta Sudah Layak Kota Global?

Satu Tahun Menuju 5 Abad, Apakah Jakarta Sudah Layak Kota Global?

News | Senin, 29 Juni 2026 | 19:24 WIB

Sekjen Golkar: Pasar Tak akan Goyang Hanya Karena Gaya Pidato Prabowo

Sekjen Golkar: Pasar Tak akan Goyang Hanya Karena Gaya Pidato Prabowo

News | Senin, 29 Juni 2026 | 19:10 WIB

Rp1,1 Triliun Anggaran Pendidikan Jakarta Tak Terserap, DPRD: Harusnya Bisa untuk Sekolah Gratis

Rp1,1 Triliun Anggaran Pendidikan Jakarta Tak Terserap, DPRD: Harusnya Bisa untuk Sekolah Gratis

News | Senin, 29 Juni 2026 | 19:04 WIB

×