-
Penutupan Selat Hormuz oleh Iran menjadi ancaman serius bagi kestabilan ekonomi dan energi global.
-
Presiden Trump menghadapi dilema antara eskalasi militer atau risiko kerugian politik besar di domestik.
-
Kegagalan diplomasi antara Amerika Serikat dan Iran berpotensi memicu resesi ekonomi dunia yang parah.
Suara.com - Donald Trump sering kali memberikan peringatan keras kepada pihak Ukraina mengenai posisi mereka yang lemah saat menghadapi invasi Rusia.
Namun kini sang Presiden Amerika Serikat justru harus berhadapan dengan keraguan besar mengenai efektivitas pasukannya dalam konfrontasi melawan Iran.
Secara teoritis Amerika Serikat memiliki dominasi mutlak dengan jumlah penduduk tiga kali lipat lebih banyak serta dukungan ekonomi militer terkuat.
Kekuatan besar tersebut semakin terlihat tak tertandingi apabila dikolaborasikan dengan kecanggihan intelijen serta mesin perang milik militer Israel saat ini.
Meskipun demikian Teheran berhasil memutarbalikkan keadaan dengan mengubah setiap kelemahan menjadi instrumen tekanan yang sangat menyakitkan bagi pihak Washington.
Iran terbukti mampu melakukan lebih dari sekadar bertahan hidup meski harus memaksa rakyatnya melewati penderitaan ekonomi yang sangat hebat.
Beberapa pengamat militer internasional bahkan mulai meyakini bahwa saat ini inisiatif strategis di lapangan telah direbut oleh pihak Teheran.
Setelah satu bulan berjalan konfrontasi ini telah bertransformasi menjadi sebuah ajang perebutan pengaruh yang sangat sengit di kawasan tersebut.
Trump mungkin memegang kendali kekuasaan yang lebih masif namun kemenangan total mengharuskannya siap menanggung kerugian politik dan ekonomi yang besar.
Kerapuhan strategi yang menggerus keunggulan militer Amerika Serikat terlihat jelas dalam sesi pengarahan resmi yang dilakukan oleh pihak Gedung Putih.
Karoline Leavitt selaku Sekretaris Pers menyebutkan bahwa kesediaan Iran melepas 20 kapal tanker merupakan sebuah pencapaian dari keberhasilan diplomasi presiden.
Pernyataan tersebut dinilai cukup janggal mengingat posisi Amerika sebagai negara adidaya seharusnya tidak perlu melakukan negosiasi untuk mendapatkan konsesi semacam itu.
Data dari Badan Perdagangan PBB menunjukkan bahwa armada 20 kapal tanker tersebut jumlahnya sangat kecil dibandingkan lalu lintas normal sebelum perang.
Jika tidak ada konflik bersenjata Selat Hormuz dipastikan tetap terbuka sepenuhnya bagi ratusan kapal yang melintas setiap harinya tanpa hambatan.
Kenyataan pahit bagi Trump adalah meskipun ia memiliki kekuatan militer untuk membuka paksa jalur tersebut risiko yang dihadapi terlalu tinggi.