-
Penutupan Selat Hormuz oleh Iran menjadi ancaman serius bagi kestabilan ekonomi dan energi global.
-
Presiden Trump menghadapi dilema antara eskalasi militer atau risiko kerugian politik besar di domestik.
-
Kegagalan diplomasi antara Amerika Serikat dan Iran berpotensi memicu resesi ekonomi dunia yang parah.
Pengerahan Angkatan Laut Amerika Serikat melalui selat tersebut justru bisa menjadi panggung propaganda kemenangan bagi Iran jika mereka berhasil menyerang.
Trump mungkin terpaksa harus mendaratkan pasukan darat yang berisiko meningkatkan jumlah korban jiwa dari pihak militer Amerika di medan tempur.
Risiko kematian prajurit dapat secara langsung merusak stabilitas posisi politik Trump di dalam negeri yang saat ini sudah mulai menurun.
Kendala serupa juga muncul saat Washington mempertimbangkan opsi untuk menguasai pusat ekspor minyak utama milik Iran di wilayah Pulau Kharg.
Dalam keterangannya kepada Financial Times sang presiden menyatakan keinginannya untuk merebut kendali atas kekayaan minyak yang dimiliki oleh negara Iran.
Tindakan tersebut memang berpotensi mencekik nadi ekonomi Teheran namun tidak ada kepastian bahwa rezim di sana akan menyerah begitu saja.
Langkah militer yang agresif justru dikhawatirkan akan menutup pintu negosiasi terkait kelonggaran akses kapal di wilayah perairan Selat Hormuz.
Di tengah ketegangan tersebut Trump mengklaim adanya jalur diplomasi produktif di balik layar meski pihak Iran memberikan bantahan secara terbuka.
Ia bahkan sempat melontarkan ancaman penggunaan kekuatan militer berskala besar yang belum pernah ada sebelumnya untuk memaksa Teheran segera berunding.
Kehadiran ribuan personel Marinir serta ribuan pasukan lintas udara di wilayah tersebut memicu spekulasi bahwa kesabaran Trump akan segera habis.
Para analis memprediksi bahwa perintah untuk merebut Pulau Kharg atau pulau-pulau strategis di Selat Hormuz hanyalah tinggal menunggu waktu saja.
“Itu sangat jauh dari jalan keluar. Itu hampir pasti terlihat seperti periode eskalasi yang akan datang,” kata Ian Bremmer, presiden dan pendiri Eurasia Group.
Trump sebelumnya telah memberikan peringatan jika kesepakatan tidak tercapai maka ia akan menghancurkan seluruh fasilitas infrastruktur vital milik pihak Iran.
Penghancuran tersebut meliputi seluruh pembangkit listrik serta sumur minyak hingga pabrik desalinasi air yang sangat krusial bagi kehidupan di sana.
Militer Amerika Serikat memang memiliki kapasitas teknis untuk melakukan penghancuran total namun serangan balasan dari Iran tidak akan bisa dihindari.