Dalam jangka pendek, pemerintah perlu menetapkan protokol penghematan energi nasional, membatasi perjalanan dinas non-prioritas, serta memperkuat transportasi publik melalui insentif dan subsidi yang tepat sasaran. Transparansi informasi terkait stok dan distribusi BBM juga penting untuk mencegah kepanikan publik.
Dalam jangka menengah, diversifikasi pasokan energi, percepatan program substitusi impor, serta pembentukan pusat kendali energi lintas sektor menjadi langkah strategis untuk menjaga stabilitas. Sementara itu, dalam jangka panjang, penguatan cadangan energi, percepatan transisi ke energi terbarukan, pengembangan transportasi publik, serta adopsi kendaraan listrik menjadi kunci untuk mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil.
Dengan kata lain, krisis ini seharusnya tidak hanya direspons sebagai gangguan sementara, tetapi juga dimanfaatkan sebagai momentum untuk mendorong transformasi sistem energi nasional yang lebih efisien, berkelanjutan, dan tangguh terhadap risiko geopolitik.
Penulis: Natasha Suhendra