- TNI AL dan FKS Group melatih ratusan pelaku UMKM di Cilacap serta Tegal mengolah hasil laut dan kedelai.
- Kegiatan pada April 2026 ini bertujuan meningkatkan nilai jual produk serta memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat pesisir Indonesia.
- Pelatihan ini sekaligus mengedukasi masyarakat mengenai pangan bergizi sebagai langkah strategis dalam upaya percepatan penanganan masalah stunting.
Suara.com - TNI Angkatan Laut melalui Pusat Teritorial Angkatan Laut (Pusteral) memperkuat komitmennya dalam pemberdayaan ekonomi masyarakat pesisir. Bekerja sama dengan FKS Group, TNI AL menggelar pelatihan pengolahan hasil laut dan kedelai bagi ratusan pelaku UMKM di Cilacap dan Tegal pada awal April 2026.
Langkah ini diambil untuk menjawab tantangan rendahnya nilai jual komoditas mentah di wilayah pesisir. Selama ini, melimpahnya hasil laut dan ketersediaan kedelai seringkali belum diimbangi dengan inovasi produk yang memiliki daya saing tinggi di pasar luas.
Transformasi Ekonomi Pesisir
Komandan Pusteral, Laksma A. Agung Pryo Suseno, menjelaskan bahwa peran TNI AL saat ini melampaui batas pertahanan wilayah. Menurutnya, ketahanan wilayah maritim yang kuat berakar dari kemandirian ekonomi masyarakatnya.
"Kami mendorong masyarakat agar mampu mengolah potensi hasil laut dan kedelai secara mandiri. Sinergi ini adalah langkah nyata memperkuat ketahanan ekonomi sekaligus mendukung ketahanan pangan nasional," ujar Laksma A. Agung saat memantau pelatihan di Lanal Tegal, Kamis (9/4).
Program ini merupakan bagian dari implementasi Pembinaan Potensi Maritim (Binpotmar) TA 2026. Sebanyak lebih dari 300 peserta diberikan pembekalan teori dan praktik, mulai dari teknik pengolahan higienis hingga diversifikasi produk turunan kedelai sebagai sumber protein terjangkau.
Kolaborasi Strategis dan Penanganan Stunting
Selain fokus pada aspek komersial, pelatihan ini juga menyasar isu kesehatan nasional, yakni penanganan stunting. Edukasi mengenai pangan bergizi berbasis bahan lokal menjadi materi utama guna memastikan masyarakat pesisir tidak hanya mandiri secara finansial, tetapi juga sehat secara nutrisi.
VP of ESG FKS Group, Beatrice Susanto, menyebutkan bahwa keterlibatan pihak swasta melalui program "FKS Empower" bertujuan untuk memberikan pendampingan yang aplikatif bagi UMKM.
"Kami berfokus pada penguatan kapasitas agar UMKM lokal mampu menciptakan produk bernilai tambah. Kolaborasi dengan TNI AL memungkinkan jangkauan yang lebih luas untuk memberikan dampak langsung pada ekosistem ekonomi pesisir," ungkap Beatrice.
Respons Positif Pelaku Usaha
Para pelaku UMKM menyambut baik inisiatif ini. Salah satu peserta di Tegal mengaku mendapat perspektif baru dalam mengolah hasil tangkapan laut dan produk kedelai seperti tempe. Jika sebelumnya produk dijual dalam bentuk sederhana, kini mereka mulai memahami cara meningkatkan nilai jual melalui variasi produk dan kemasan yang lebih menarik.
Melalui sinergi antara militer dan sektor swasta ini, diharapkan muncul pusat-pusat ekonomi baru di wilayah pesisir yang tidak hanya bergantung pada penjualan bahan mentah, tetapi mampu menggerakkan roda industri kreatif skala rumah tangga yang berkelanjutan.