-
AS dan Iran saling klaim atas kendali navigasi militer di Selat Hormuz yang strategis.
-
Negosiasi diplomatik tingkat tinggi di Islamabad masih terhambat perbedaan syarat kompensasi dan nuklir.
-
Donald Trump mengklaim kemenangan militer saat perang memasuki pekan keenam di tengah krisis energi.
Suara.com - Perebutan otoritas atas jalur navigasi paling vital di dunia yakni Selat Hormuz kini mencapai titik krusial.
Amerika Serikat melalui komando militernya secara terbuka menyatakan telah berhasil mengerahkan armada tempur melintasi wilayah tersebut.
Dikutip dari Al Jazeera, langkah ini diambil sebagai upaya paksa untuk menormalisasi arus perdagangan energi dunia yang sempat lumpuh total.
![Ilustrasi [Suara.com/AI-HD]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/04/09/70238-ilustarsi-kapal-tanker-ilustrasi-selat-hormuz.jpg)
Klaim sepihak ini bertujuan menunjukkan pada dunia bahwa dominasi maritim kini berada di tangan Washington dan sekutunya.
Namun narasi kemenangan ini menemui tembok tebal berupa penolakan dari pihak Teheran yang merasa tetap berkuasa.
Komando Pusat Amerika Serikat atau CENTCOM menyebutkan dua kapal perusak mereka telah beroperasi di kawasan Teluk Arab.
Kapal USS Frank E Peterson dan USS Michael Murphy disebut telah menyisir ranjau laut yang dipasang pihak Iran.
Laksamana AS Brad Cooper menegaskan bahwa kehadiran kapal-kapal tempur tersebut merupakan momentum besar dalam perang ini.
“Hari ini, kami memulai proses pembangunan jalur lintasan baru, dan kami akan segera membagikan jalur aman ini kepada industri maritim untuk mendorong aliran bebas perdagangan,” ujar Cooper.
Bagi Amerika keberadaan jalur alternatif ini adalah solusi untuk memecah kebuntuan ekonomi akibat melonjaknya harga bahan bakar.
Penolakan Keras Militer Iran di Jalur StrategisDi sisi lain markas pusat militer Khatam al-Anbiya Iran langsung memberikan pernyataan balasan yang sangat keras.
Pihak Teheran menegaskan tidak ada satupun kapal perang asing yang bisa melintas tanpa izin resmi dari mereka.
“Klaim komandan CENTCOM mengenai pendekatan dan masuknya kapal-kapal Amerika ke Selat Hormuz dibantah keras,” tegas juru bicara militer Iran.
Pemerintah Iran bersikeras bahwa kontrol penuh atas pergerakan setiap kapal tetap berada di tangan angkatan bersenjata mereka.
“Inisiatif untuk lintasan dan pergerakan kapal apa pun ada di tangan Angkatan Bersenjata Republik Islam Iran,” tambah juru bicara tersebut.
Klaim saling silang di laut ini terjadi bersamaan dengan pertemuan diplomatik bersejarah yang berlangsung di Islamabad.
Wakil Presiden AS JD Vance bertemu langsung dengan Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf dalam negosiasi formal.
Ini merupakan komunikasi tingkat tertinggi antara kedua negara sejak pecahnya revolusi Islam pada akhir dekade tujuh puluhan.
Meski gencatan senjata sementara telah disepakati namun kedua pihak masih berselisih mengenai syarat-syarat perdamaian jangka panjang.
Isu mengenai kompensasi kerusakan perang dan status program nuklir Iran menjadi penghambat utama dalam meja perundingan.
Status Selat Hormuz Sebagai Senjata Diplomasi Iran
Iran berencana menerapkan tarif tol bagi setiap kapal yang melintas sebagai bentuk ganti rugi atas kerusakan perang.
Bagi Teheran Selat Hormuz bukan sekadar jalur air melainkan tuas penggerak untuk menekan kekuatan ekonomi Barat.
Namun bagi Amerika Serikat menyerahkan kendali selat tersebut kepada Iran dianggap sebagai sebuah kegagalan strategis.
Analis militer melihat bahwa meskipun kekuatan tempur Iran menurun setelah enam minggu perang mereka tetap berbahaya.
Ancaman ranjau laut masih menjadi ketakutan utama bagi kapal-kapal tanker internasional yang ingin melintas di sana.
Presiden Donald Trump lewat media sosial miliknya justru mengklaim bahwa posisi Amerika sudah berada di atas angin.
Trump menyatakan bahwa seluruh dunia berhutang budi pada Amerika karena telah berani membersihkan jalur perdagangan tersebut.
“Semua orang tahu bahwa mereka KALAH, dan KALAH BESAR!” tulis Trump mengenai posisi militer Iran saat ini.
Meski demikian Trump terlihat mulai menunjukkan sikap ambivalen terhadap hasil akhir dari proses negosiasi di Islamabad.
“Apakah kita membuat kesepakatan atau tidak, itu tidak ada bedanya bagi saya, karena kita sudah menang,” kata Trump kepada media.
Latar Belakang Krisis dan Dampak Global
Konflik terbuka antara Amerika Serikat bersama Israel melawan Iran meletus sejak akhir Februari 2026 yang lalu.
Penyebab utama perang ini adalah upaya Washington menghancurkan program nuklir serta membatasi kemampuan rudal jarak jauh Iran.
Selat Hormuz menjadi titik paling panas karena satu per lima pasokan minyak dan gas dunia mengalir melalui perairan sempit ini.
Blokade yang dilakukan Iran sebelumnya telah memicu krisis energi global dan kenaikan harga komoditas pangan secara signifikan.
Kini stabilitas dunia sangat bergantung pada apakah gencatan senjata dua minggu ini bisa berubah menjadi perdamaian permanen.