-
Donald Trump mengancam akan menghancurkan fasilitas energi dan jaringan listrik Iran secara total.
-
Perundingan diplomatik di Islamabad gagal mencapai kesepakatan sehingga memicu blokade laut Amerika Serikat.
-
CENTCOM siap menutup akses Selat Hormuz bagi seluruh kapal mulai Senin malam waktu Indonesia.
Suara.com - Ketegangan geopolitik mencapai titik kritis setelah Amerika Serikat mengancam akan melumpuhkan seluruh sektor energi Iran secara permanen.
Langkah drastis ini mencakup penghancuran total pembangkit listrik dan fasilitas vital lainnya hanya dalam hitungan jam.
Dikutip dari FOX News, Gedung Putih kini mematangkan opsi serangan udara terbatas yang dikombinasikan dengan blokade maritim yang sangat ketat.
![Ilustrasi Selat Hormuz [Suara.com/AI-HD]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/04/10/57118-ilustrasi-selat-hormuz.jpg)
Kebijakan ini diambil sebagai respon langsung atas kebuntuan negosiasi diplomatik yang berlangsung di Islamabad, Pakistan.
Dunia internasional kini menyoroti potensi lonjakan harga minyak akibat penutupan jalur perdagangan paling strategis di dunia.
"Saya bisa menghancurkan Iran dalam sehari. Saya bisa menjatuhkan satu fasilitas dalam satu jam. Saya bisa menghancurkan seluruh sektor energi mereka, termasuk semua pembangkit listriknya," kata Trump dalam wawancara dengan Fox News.
Donald Trump secara terbuka menyatakan kesiapannya untuk meratakan jaringan listrik Iran hingga harus dibangun dari nol.
Selain sektor energi, sasaran militer Amerika Serikat juga mencakup jembatan-jembatan strategis di seluruh wilayah kedaulatan Iran.
Fokus utama serangan ini adalah memutus rantai distribusi logistik dan mobilitas pasukan dalam negeri Iran secara cepat.
Rencana penghancuran ini dipandang sebagai upaya Washington untuk memaksa Teheran tunduk di bawah tekanan ekonomi maksimum.
Blokade Total di Jalur Selat Hormuz
Amerika Serikat secara resmi menginstruksikan Angkatan Laut untuk menutup akses transportasi di wilayah perairan Selat Hormuz.
Setiap kapal tanpa pengecualian dilarang melintasi jalur tersebut untuk memutus akses keluar-masuk komoditas perdagangan milik Iran.
Donald Trump secara tegas memerintahkan pasukannya untuk melacak dan mencegat setiap kapal yang kedapatan membayar upeti kepada Teheran.
Blokade laut ini bertujuan menghentikan aliran dana segar ke kas negara Iran melalui sektor jasa transportasi maritim.
Langkah ini diprediksi akan menciptakan kemacetan logistik global yang berdampak pada stabilitas ekonomi di berbagai negara mitra.
Wakil Presiden JD Vance, yang menjadi negosiator utama AS, mengatakan pada Ahad bahwa perundingan antara AS dan Iran berakhir tanpa kesepakatan.
Kegagalan perundingan ini menandai berakhirnya periode gencatan senjata singkat yang sempat disepakati kedua belah pihak sebelumnya.
Posisi Iran dan Amerika Serikat dilaporkan masih sangat berseberangan pada poin-poin krusial yang menyangkut kedaulatan masing-masing.
Meskipun sempat ada harapan dari kesepahaman awal, perbedaan ideologi politik menghalangi terciptanya perdamaian yang permanen di meja hijau.
Donald Trump pun langsung merespon kebuntuan ini dengan memerintahkan pengerahan aset militer ke posisi tempur yang lebih ofensif.
Opsi Serangan Bom Skala Penuh
Laporan The Wall Street Journal mengindikasikan bahwa serangan bom skala penuh tetap menjadi salah satu opsi di meja kepresidenan.
Trump tetap mempertimbangkan tindakan militer tambahan meskipun risiko destabilisasi kawasan Timur Tengah sangat nyata jika serangan diluncurkan.
Beberapa penasihat keamanan memperingatkan adanya kemungkinan konflik militer berkepanjangan yang sangat dihindari oleh publik domestik Amerika.
Namun, tekanan untuk memberikan efek jera kepada Teheran membuat opsi penggunaan kekuatan udara tetap dipertahankan secara serius.
Strategi militer ini kini berada di tangan komando pusat untuk segera dieksekusi sesuai jadwal yang telah ditentukan presiden.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, mengatakan bahwa kesepahaman bersama telah tercapai pada sejumlah isu, tetapi posisi Iran dan AS tetap berbeda pada dua atau tiga poin kunci.
Pernyataan dari pihak Iran ini menunjukkan adanya celah komunikasi yang gagal dijembatani oleh para diplomat senior kedua negara.
Menanggapi ketidakpastian tersebut, Komando Pusat AS (CENTCOM) langsung menyiapkan jadwal operasional untuk memulai blokade fisik secara nyata.
CENTCOM bersumpah akan memulai blokade terhadap semua lalu lintas maritim yang masuk dan keluar dari pelabuhan Iran pada Senin pukul 14:00 GMT atau 21.00 WIB.
Seluruh armada laut Amerika Serikat di kawasan tersebut kini berada dalam status siaga tinggi untuk mengawal jalannya instruksi presiden.
Krisis ini bermula dari pengumuman gencatan senjata selama dua pekan yang diusulkan oleh Donald Trump pada Sabtu 11 April 2026.
Perundingan yang diadakan di Islamabad diharapkan mampu menurunkan tensi panas yang telah menyelimuti hubungan kedua negara selama bertahun-tahun.
Namun, ketidakmampuan kedua pihak mencapai mufakat dalam waktu singkat memaksa Amerika Serikat kembali ke jalur tekanan militer dan ekonomi.
Situasi ini memicu kekhawatiran global akan pecahnya perang terbuka yang melibatkan kekuatan-kekuatan besar di wilayah Timur Tengah dan sekitarnya.
Sekarang, fokus dunia tertuju pada Senin malam saat militer Amerika Serikat secara resmi menutup gerbang Selat Hormuz bagi kapal Iran.