-
Amerika Serikat mengevakuasi 17 warga dari kapal pesiar MV Hondius akibat wabah virus hanta.
-
Penumpang akan dikarantina di Nebraska Medical Center dengan pengawasan ketat tim medis spesialis.
-
Tujuh negara bagian AS memantau kepulangan penumpang guna mencegah potensi penularan strain Andes.
Suara.com - Amerika Serikat kini menetapkan status respons darurat setelah deteksi hantavirus yang sangat mematikan ditemukan pada kapal pesiar MV Hondius.
Kapal tersebut sedang menuju Tenerife guna mengevakuasi sekitar 150 penumpang, termasuk 17 warga negara Amerika Serikat yang terancam paparan.
Dikutip dari CNBC, langkah ini menjadi krusial mengingat virus hanta jenis ini memiliki tingkat fatalitas yang sangat tinggi bagi manusia yang terinfeksi.

Fokus utama otoritas saat ini adalah memastikan tidak ada celah penularan saat proses repatriasi warga dilakukan dari Spanyol.
Kesiagaan ini melibatkan koordinasi lintas negara guna membendung potensi wabah masuk ke wilayah domestik Amerika Serikat.
Pemerintah akan menerbangkan para penumpang langsung menuju Pangkalan Angkatan Udara Offutt yang berada di Omaha, Nebraska.

Setelah mendarat, mereka segera dipindahkan ke Unit Karantina Nasional yang dikelola oleh Nebraska Medical Center.
Fasilitas ini memiliki rekam jejak panjang dalam menangani kasus infeksi berat seperti Ebola dan pasien awal pandemi Covid-19.
Setiap individu akan mendapatkan pemantauan ketat selama 24 jam penuh di ruang isolasi yang didesain khusus.
Langkah ini diambil demi menjamin keamanan publik sekaligus memberikan perawatan medis terbaik bagi para penumpang yang terdampak.
Tenaga kesehatan yang bertugas diwajibkan menggunakan alat pelindung diri level tinggi untuk meminimalkan risiko kontak fisik langsung.
“Karena status penyakit dari penumpang yang terpapar tidak diketahui dan petugas akan melakukan kontak dekat dengan individu yang berpotensi menunjukkan gejala, masuk akal bagi petugas darurat untuk mengenakan sarung tangan (karet atau lateks), masker respirator seperti n95, gaun pelindung, dan perlindungan mata,” ungkap seorang epidemiolog CDC.
Tim medis juga telah menyiapkan unit biokontainment jika ada penumpang yang kondisinya memburuk selama masa observasi.
Dr. Michael Ash, kepala eksekutif Nebraska Medicine, menegaskan kesiapan timnya dalam menghadapi skenario terburuk ini secara profesional.
“Kami siap untuk situasi persis seperti ini,” ujar Dr. Michael Ash dalam sebuah pernyataan tertulis.
Selain yang akan dievakuasi, otoritas juga melacak penumpang yang sudah lebih dulu pulang ke rumah masing-masing.
Terdapat delapan orang di tujuh negara bagian berbeda yang kini berada dalam radar pemantauan harian otoritas kesehatan lokal.
Negara bagian seperti Texas, Georgia, Virginia, hingga California terus melaporkan perkembangan kondisi kesehatan warga mereka.
Meski belum ada perintah isolasi mandiri yang ketat, pengecekan suhu tubuh secara rutin wajib dilaporkan setiap hari.
Upaya ini dilakukan karena masa inkubasi virus yang cukup panjang, yakni mencapai waktu sekitar enam minggu.
Ketakutan terbesar para ahli terletak pada jenis virus hanta yang terlibat, yaitu strain Andes yang sangat berbahaya.
Berbeda dengan jenis lainnya, strain ini merupakan satu-satunya versi yang diketahui mampu menular antarmanusia secara langsung.
Dr. Michael Wadman memastikan bahwa setiap kamar karantina telah dilengkapi fasilitas yang memadai untuk kenyamanan jangka panjang.
“Masing-masing kamar terlihat sangat mirip dengan kamar hotel, dengan tambahan ketersediaan Wi-Fi, peralatan olahraga. Jika karantina diperpanjang, hal-hal tersebut akan penting untuk memastikan mereka nyaman,” kata Wadman.
Tim medis spesialis penyakit menular dan dokter perawatan kritis akan mendampingi seluruh proses karantina hingga dinyatakan aman.
Wabah ini bermula di atas kapal MV Hondius milik perusahaan Belanda yang menyebabkan tiga orang tewas, yakni pasangan suami istri asal Belanda dan seorang wanita asal Jerman.
Virus hanta umumnya berasal dari tikus kerdil Amerika Selatan, namun strain Andes memicu kekhawatiran global karena kemampuan transmisi antarmanusia.
Hingga saat ini, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) telah mengaktifkan Pusat Operasi Darurat tingkat 3 untuk mengoordinasikan respons nasional terhadap ancaman kesehatan ini.