-
Donald Trump menolak proposal damai Iran dan menyebutnya sebagai tawaran yang tidak dapat diterima.
-
Iran menegaskan tidak akan menyerah dan menuntut ganti rugi serta kedaulatan Selat Hormuz.
-
Harga minyak dunia melonjak tajam akibat ancaman keamanan jalur energi dan kegagalan negosiasi.
Suara.com - Kebuntuan diplomatik antara Amerika Serikat dan Iran mencapai titik nadir setelah tawaran perdamaian dari pihak Iran ditolak secara sepihak.
Langkah ini memastikan perang sepuluh minggu di Timur Tengah akan terus berlanjut dengan risiko gangguan energi yang semakin nyata.
Dikutip dari CNBC, sikap keras kedua negara kini mempertaruhkan stabilitas ekonomi global akibat tersendatnya jalur logistik minyak di Selat Hormuz.
![Ilustrasi fasilitas minyak mentah di mana harga mulai melonjak kembali. [Pexels].](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/04/09/21722-harga-minyak-dunia-fasilitas-minyak-mentah.jpg)
“Saya baru saja membaca tanggapan dari pihak yang disebut sebagai 'Perwakilan' Iran. Saya tidak menyukainya — SANGAT TIDAK DAPAT DITERIMA!” ujar Trump dalam unggahan Truth Social pada hari Minggu.
Teheran memandang persyaratan yang diajukan Amerika Serikat bukan sebagai jalur damai melainkan sebuah paksaan untuk bertekuk lutut.
Pihak Iran menuntut ganti rugi kerusakan perang, kedaulatan penuh atas Selat Hormuz, serta pembebasan aset-aset mereka yang dibekukan.
Tuntutan ini menjadi tembok besar bagi upaya deeskalasi yang diharapkan banyak pihak bisa mendinginkan suasana di kawasan Teluk.

Donald Trump secara tegas menilai poin-poin tersebut sebagai penghinaan terhadap posisi tawar Amerika Serikat dalam konflik ini.
“Kami tidak akan pernah menundukkan kepala di hadapan musuh, dan jika muncul pembicaraan mengenai dialog atau negosiasi, itu bukan berarti menyerah atau mundur,” tegas Presiden Iran Masoud Pezeshkian di platform X.
Benjamin Netanyahu juga menyatakan bahwa misi militer belum berakhir karena Iran belum sepenuhnya melucuti kemampuan pengayaan uranium mereka.
Pasar minyak langsung bereaksi negatif terhadap kegagalan negosiasi ini dengan kenaikan harga Brent mencapai kisaran 105 dolar AS.
Kekhawatiran akan penutupan total Selat Hormuz membuat para pelaku pasar bersiap menghadapi skenario terburuk pasokan energi dunia.
Meski sebuah kapal tanker Qatar sempat diizinkan melintas, hal itu dianggap hanya sekadar gestur simbolis yang tidak merubah keadaan.
“Minyak tetap sangat sensitif terhadap berita utama, dengan pasar terjebak di antara harapan deeskalasi dan risiko bahwa bentrokan sporadis tetap menanamkan premi risiko energi dalam valuta asing dan suku bunga,” jelas Christopher Wong, pakar strategi mata uang di OCBC Bank.
Ketidakpastian ini diperparah dengan serangan drone Iran ke beberapa negara tetangga seperti Uni Emirat Arab, Qatar, dan Kuwait.
Militer Iran kini memperingatkan adanya opsi kejutan jika pihak lawan melakukan kesalahan perhitungan dalam mengambil langkah ofensif.
“Opsi yang mengejutkan” ini disebut akan menyasar area-area yang selama ini tidak pernah diantisipasi oleh pihak intelijen musuh.
Pemimpin Agung baru Iran juga dikabarkan telah memberikan instruksi operasional militer yang sangat menentukan bagi pasukan di lapangan.
“Opsi yang mengejutkan jika musuh membuat kesalahan perhitungan lagi, yang menyatakan bahwa agresi di masa depan akan membawa konflik ke area yang tidak diantisipasi oleh musuh,” peringat juru bicara Angkatan Darat Iran, Brigadir Jenderal Mohammad Akraminia.
Kini sorotan dunia tertuju pada pertemuan tingkat tinggi antara Donald Trump dan Xi Jinping yang akan segera berlangsung di Beijing.
Konflik ini berakar dari perang sepuluh minggu yang melumpuhkan Selat Hormuz dan memutus rantai pasok energi global secara signifikan.
Amerika Serikat bersikeras agar Iran menghentikan total program nuklirnya selama 20 tahun, sementara Iran hanya bersedia melakukan pembatasan jangka pendek dengan syarat sanksi ekonomi dicabut sepenuhnya.
Ketegangan ini semakin rumit dengan adanya keterlibatan proksi regional dan serangan pesawat tanpa awak yang menyasar infrastruktur serta kapal kargo di perairan internasional.