Dibanding Era Habibie, Tekanan Rupiah Kini Dinilai Lebih Berat karena Utang Luar Negeri Membengkak

Dwi Bowo Raharjo, Hiskia Andika Weadcaksana

Senin, 18 Mei 2026 | 13:50 WIB
Dibanding Era Habibie, Tekanan Rupiah Kini Dinilai Lebih Berat karena Utang Luar Negeri Membengkak
Tempat penukaran mata uang asing di Jakarta. Nilai tukar rupiah melemah. (Ist)
baca 10 detik
  • Imamudin Yuliadi menyatakan pelemahan rupiah saat ini memiliki konteks ekonomi berbeda dibandingkan masa pemerintahan Presiden BJ Habibie.
  • Besarnya utang luar negeri dan tekanan geopolitik global menyebabkan pemerintah menghadapi dilema sulit dalam menjaga stabilitas pembangunan nasional.
  • Pelemahan rupiah berdampak pada meningkatnya beban utang luar negeri serta melonjaknya biaya produksi akibat harga barang impor yang mahal.

Suara.com - Guru Besar Ilmu Ekonomi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Imamudin Yuliadi, menilai kondisi pelemahan rupiah saat ini tidak bisa dibandingkan secara langsung dengan situasi pada masa Presiden BJ Habibie.

Menurutnya, konteks ekonomi makro saat ini jauh lebih kompleks. Terutama karena besarnya utang luar negeri dan tekanan global yang berbeda dibanding masa lalu.

Salah satu indikator penting adalah cadangan devisa yang menopang kekuatan fundamental makroekonomi, terutama untuk memenuhi kewajiban utang luar negeri.

"Situasi sekarang ini kan beda dengan zaman Habibie ya. Misalnya besarnya utang luar negeri kita jauh beda dengan era Habibie, gitu. Nah, kekhawatiran masyarakat itu kaitannya dengan utang kita yang semakin banyak," kata Imamudin kepada Suara.com, Senin (18/5/2026).

Imamudin menyebut pada masa Habibie, defisit APBN belum sebesar sekarang. Termasuk program pembangunan yang menyerap anggaran jumbo pun tidak sebanyak saat ini.

Kondisi tersebut membuat ruang gerak pemerintah kala itu dinilai lebih longgar dibanding sekarang. Menurut Imamudin, saat ini pemerintah menghadapi dilema besar.

Di satu sisi harus menjaga program-program pembangunan tetap berjalan. Sementara di sisi lain harus menghadapi tekanan pelemahan rupiah dan potensi pelebaran defisit APBN.

"Program-program pembangunan yang menyerap banyak anggaran di APBN juga enggak sebesar sekarang, ya. Termasuk utang luar negeri juga enggak sebesar sekarang, sehingga agak beda konteksnya begitu," ucapnya.

Ia membeberkan contoh paling nyata yakni gejolak global seperti konflik di Timur Tengah ikut memicu kenaikan harga minyak dunia yang berdampak pada perlambatan ekonomi negara-negara industri.

baca juga

Kondisi itu turut menekan ekspor Indonesia karena sebagian besar pasar ekspor nasional bergantung pada negara maju.

"Begitu mereka tertekan ekonominya, maka ekspor kita itu juga akan mengalami tekanan juga. Lah ini yang dikhawatirkan oleh para pelaku ekonomi itu," ujarnya.

Rupiah Melemah, JK Himbau Tidak Belanja Tas Branded (instagram)
Rupiah Melemah. (instagram)

Bank Indonesia (BI), kata Imamudin, saat ini terus melakukan intervensi pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan menenangkan sentimen pasar. Pemerintah juga berupaya agar pelemahan rupiah hanya bersifat sementara dan tidak memicu aksi besar-besaran pembelian dolar oleh pelaku pasar.

"BI itu berusaha menenangkan pasar ya, agar tidak semakin melemah. Ini akan menjadi semakin berat kalau kemudian diikuti dengan sentimen negatif dari pelaku pasar, mereka melakukan aksi beli dolar dan sebagainya," tandasnya.

Ia menjelaskan, dampak paling nyata dari menguatnya dolar AS saat ini adalah meningkatnya beban utang luar negeri Indonesia. Sebab, sebagian besar utang pemerintah masih dalam denominasi dolar.

"Dampaknya itu jelas ya, pertama beban utang luar negeri kita itu akan semakin meningkat. Utang kita itu kan rata-rata dalam bentuk dolar ya. Jadi, begitu dolar menguat ya, naik, sehingga otomatis ya beban utang luar negeri kita juga akan semakin meningkat," ungkapnya.

Selain itu, pelemahan rupiah juga membuat harga barang impor semakin mahal. Padahal, menurut dia, perekonomian Indonesia masih sangat bergantung pada bahan baku impor.

"Begitu rupiah melemah, maka barang-barang impor jadi semakin mahal juga. Karena semakin mahal otomatis ya mendongkrak biaya produksi. Ini yang kemudian langsung dirasakan oleh masyarakat," pungkasnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Purbaya Akui Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Dibayar APBN 2 Tahun

Purbaya Akui Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Dibayar APBN 2 Tahun

Bisnis | Jum'at, 15 Mei 2026 | 11:27 WIB

Waspada, Ekonomi Indonesia Bakal Dihantam Tekanan Global

Waspada, Ekonomi Indonesia Bakal Dihantam Tekanan Global

Bisnis | Jum'at, 15 Mei 2026 | 08:44 WIB

BSI Habiskan Rp198 Miliar untuk Biayai Makan Bergizi Gratis

BSI Habiskan Rp198 Miliar untuk Biayai Makan Bergizi Gratis

Bisnis | Kamis, 14 Mei 2026 | 09:35 WIB

Lonjakan Harga Minyak dan Rupiah yang Melemah Bisa Tambah Defisit Fiskal hingga Rp200 Triliun

Lonjakan Harga Minyak dan Rupiah yang Melemah Bisa Tambah Defisit Fiskal hingga Rp200 Triliun

Bisnis | Rabu, 13 Mei 2026 | 17:59 WIB

Terkini

Bahlil Jadi Menko Hilirisasi Baru, Bagaimana Nasib Proyek Batu Bara di Sumsel?

Bahlil Jadi Menko Hilirisasi Baru, Bagaimana Nasib Proyek Batu Bara di Sumsel?

Sumsel | Kamis, 01 Oktober 2026 | 19:45 WIB

Bayar Rp546,5 Juta, 17 Calon Jamaah Umrah di Ngawi Kena Tipu, Gagal Berangkat Sesuai Jadwal

Bayar Rp546,5 Juta, 17 Calon Jamaah Umrah di Ngawi Kena Tipu, Gagal Berangkat Sesuai Jadwal

Jatim | Kamis, 01 Oktober 2026 | 19:45 WIB

Stok Beras Bulog 4,5 Juta Ton, Aman untuk Nataru hingga Ramadan

Stok Beras Bulog 4,5 Juta Ton, Aman untuk Nataru hingga Ramadan

News | Kamis, 01 Oktober 2026 | 19:41 WIB

Melihat Dunia dari Sudut Pandang Berbeda, Bekal Penting Generasi Muda Hadapi Masa Depan

Melihat Dunia dari Sudut Pandang Berbeda, Bekal Penting Generasi Muda Hadapi Masa Depan

Lifestyle | Kamis, 01 Oktober 2026 | 19:33 WIB

Lapas Overcapacity hingga Sulit Disidak, Komnas HAM: Tata Kelola Pemasyarakatan Perlu Reformasi!

Lapas Overcapacity hingga Sulit Disidak, Komnas HAM: Tata Kelola Pemasyarakatan Perlu Reformasi!

News | Kamis, 01 Oktober 2026 | 19:32 WIB

LIAR GAME Season 2 Resmi Diumumkan, Seiyuu Utama Bagikan Komentar Antusias

LIAR GAME Season 2 Resmi Diumumkan, Seiyuu Utama Bagikan Komentar Antusias

Your Say | Kamis, 01 Oktober 2026 | 19:30 WIB

Jerit Pedagang Rawa Belong Tercekik Galian Trotoar, Sudin Bina Marga Janji Tuntas Desember

Jerit Pedagang Rawa Belong Tercekik Galian Trotoar, Sudin Bina Marga Janji Tuntas Desember

News | Kamis, 01 Oktober 2026 | 19:26 WIB

Gambut Tak Kenal Batas Konsesi, Mengapa Tata Air Jadi Kunci Cegah Karhutla?

Gambut Tak Kenal Batas Konsesi, Mengapa Tata Air Jadi Kunci Cegah Karhutla?

Sumsel | Kamis, 01 Oktober 2026 | 19:25 WIB

Setting Spray Apa yang Bagus? Ini 3 Pilihan dengan Review Positif, Mulai Rp30 Ribuan

Setting Spray Apa yang Bagus? Ini 3 Pilihan dengan Review Positif, Mulai Rp30 Ribuan

Lifestyle | Kamis, 01 Oktober 2026 | 19:20 WIB

Bitcoin Cs Melonjak, Indeks CFX10 Mulai Naik Lagi ke Level 1.011,7

Bitcoin Cs Melonjak, Indeks CFX10 Mulai Naik Lagi ke Level 1.011,7

Bisnis | Kamis, 01 Oktober 2026 | 19:20 WIB

×