Studi: Laju Dekarbonisasi Bangunan Global Belum Sejalan dengan Target Iklim, Apa Dampaknya?

Bimo Aria Fundrika

Kamis, 28 Mei 2026 | 15:35 WIB
Studi: Laju Dekarbonisasi Bangunan Global Belum Sejalan dengan Target Iklim, Apa Dampaknya?
Ilustrasi konstruksi bangunan. [Istimewa]
baca 10 detik
  • Sektor konstruksi global menyumbang 37 persen emisi serta 28 persen konsumsi energi, namun laju dekarbonisasinya kini melambat signifikan.
  • UNEP menekankan perlunya peningkatan investasi tahunan menjadi 592 miliar dolar AS demi mencapai target nol emisi bersih tahun 2050.
  • Pemerintah didorong mempercepat transisi bangunan rendah karbon melalui kebijakan efisiensi energi untuk meningkatkan ketahanan iklim dan keterjangkauan hunian.

Suara.com - Di tengah krisis iklim dan lonjakan biaya energi global, sektor bangunan dan konstruksi masih menjadi salah satu penyumbang emisi terbesar di dunia. Laporan terbaru Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP) dan Global Alliance for Buildings and Construction (GlobalABC) menunjukkan laju dekarbonisasi sektor ini justru melambat dalam beberapa tahun terakhir.

Padahal, pembangunan gedung dan kawasan perkotaan terus tumbuh pesat, terutama di negara berkembang termasuk kawasan Asia Tenggara. Setiap hari, dunia menambah sekitar 12,7 juta meter persegi bangunan baru atau setara luas Kota Paris setiap pekan.

Laporan Global Status Report for Buildings and Construction 2025-2026 mencatat sektor bangunan dan konstruksi kini menyumbang 37 persen emisi global, 28 persen konsumsi energi dunia, serta hampir setengah dari total ekstraksi material global.

Kondisi tersebut dinilai membuat sektor bangunan semakin rentan terhadap dampak perubahan iklim dan gejolak harga energi. Di sisi lain, kebutuhan hunian yang terus meningkat membuat pembangunan sulit dihentikan, sehingga tantangannya bukan lagi sekadar membangun lebih banyak, melainkan bagaimana membangun dengan lebih rendah emisi dan tahan terhadap krisis iklim.

Direktur Eksekutif UNEP, Inger Andersen, mengatakan bangunan memiliki peran besar dalam menentukan arah krisis iklim di masa depan.

“Bangunan bisa mengunci risiko iklim atau justru menghadirkan lingkungan hidup yang lebih sehat, aman, dan terjangkau,” ujar Andersen dalam laporan tersebut.

Menurut laporan itu, sekitar separuh bangunan dunia pada 2050 masih belum dibangun atau direnovasi. Situasi ini dinilai menjadi peluang bagi pemerintah untuk mempercepat pembangunan rendah emisi melalui kebijakan, standar bangunan, dan investasi hijau.

Meski sejumlah kemajuan tercatat sejak 2015, seperti meningkatnya sertifikasi bangunan hijau dan penurunan intensitas energi bangunan sebesar 8,5 persen, transisi menuju bangunan rendah karbon dinilai belum cukup cepat.

Penggunaan energi terbarukan di sektor bangunan, misalnya, baru memenuhi sekitar 17,3 persen kebutuhan energi global bangunan pada 2024. Angka tersebut masih jauh dari target jalur nol emisi bersih atau net zero.

baca juga

Laporan itu juga mencatat investasi global untuk efisiensi energi bangunan mencapai 275 miliar dolar AS sepanjang 2024. Namun, untuk mencapai target emisi nol bersih pada 2050, investasi tahunan dinilai perlu meningkat lebih dari dua kali lipat menjadi sekitar 592 miliar dolar AS per tahun hingga 2030.

Di tengah perlambatan tersebut, sejumlah negara mulai menunjukkan pendekatan yang dinilai lebih progresif. Uni Eropa memperkuat kebijakan pengurangan emisi bangunan, sementara India, Pakistan, dan Australia meningkatkan penggunaan energi terbarukan di gedung-gedung.

Beberapa negara berkembang, termasuk Indonesia, juga mulai menyusun peta jalan transformasi sektor bangunan yang lebih berkelanjutan. Laporan tersebut menilai langkah seperti pembaruan standar efisiensi energi bangunan, penggunaan material rendah karbon, hingga pengembangan kawasan hemat energi menjadi bagian penting dalam transisi tersebut.

Selain menekan emisi, UNEP menilai pembangunan rendah karbon juga dapat membantu masyarakat menghadapi kenaikan biaya hidup. Bangunan yang lebih efisien energi dinilai mampu menurunkan tagihan listrik, meningkatkan kualitas hunian, sekaligus memperkuat ketahanan terhadap cuaca ekstrem.

Karena itu, laporan tersebut menekankan bahwa upaya dekarbonisasi sektor bangunan tidak hanya berkaitan dengan target iklim global, tetapi juga menyangkut akses masyarakat terhadap hunian yang layak, terjangkau, dan lebih tahan menghadapi krisis di masa depan.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Ekonom Senior AMRO: Disrupsi Energi Timur Tengah 4 Kali Lebih Ngeri Dibanding Perang Rusia-Ukraina

Ekonom Senior AMRO: Disrupsi Energi Timur Tengah 4 Kali Lebih Ngeri Dibanding Perang Rusia-Ukraina

News | Selasa, 26 Mei 2026 | 15:30 WIB

PHE Masih Jadi Raja Migas RI, Tapi Produksi Alamiah Terancam Turun Tajam

PHE Masih Jadi Raja Migas RI, Tapi Produksi Alamiah Terancam Turun Tajam

Bisnis | Selasa, 26 Mei 2026 | 15:14 WIB

Kebijakan Iklim Dibuat untuk Warga Terdampak, Tapi Mengapa Mereka Jarang Dilibatkan?

Kebijakan Iklim Dibuat untuk Warga Terdampak, Tapi Mengapa Mereka Jarang Dilibatkan?

News | Selasa, 26 Mei 2026 | 11:50 WIB

Terkini

84 Persen Perusahaan Indonesia Optimistis AI Bisa Ubah Pengelolaan Keuangan

84 Persen Perusahaan Indonesia Optimistis AI Bisa Ubah Pengelolaan Keuangan

Bisnis | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 07:36 WIB

Rencana Rusuh Demo di Balai Kota Malang Digagalkan, 12 Penyusup Bawa Molotov & Positif Narkoba

Rencana Rusuh Demo di Balai Kota Malang Digagalkan, 12 Penyusup Bawa Molotov & Positif Narkoba

Malang | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 07:30 WIB

Dompet Ayah Sepatu Ibu: Novel yang Membuat Saya Lebih Menghargai Perjuangan Orang Tua

Dompet Ayah Sepatu Ibu: Novel yang Membuat Saya Lebih Menghargai Perjuangan Orang Tua

Your Say | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 07:30 WIB

20 Kode Redeem FF Hari Ini 30 Oktober 2026: Klaim Skin M1887 dan Diamond Gratis

20 Kode Redeem FF Hari Ini 30 Oktober 2026: Klaim Skin M1887 dan Diamond Gratis

Tekno | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 07:26 WIB

Niat Cari Madu, Petani Pesawaran Temukan Kerangka Manusia di Tebing 1.150 MDPL

Niat Cari Madu, Petani Pesawaran Temukan Kerangka Manusia di Tebing 1.150 MDPL

Lampung | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 07:22 WIB

3 Alasan Disney Adventure Bisa Jadi Pilihan Menarik untuk Liburan Keluarga

3 Alasan Disney Adventure Bisa Jadi Pilihan Menarik untuk Liburan Keluarga

Lifestyle | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 07:00 WIB

Review Film Love of Your Life: Sajikan Kisah Cinta Modern yang Penuh Makna

Review Film Love of Your Life: Sajikan Kisah Cinta Modern yang Penuh Makna

Your Say | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 07:00 WIB

Dicecar Soal Dugaan Terima Mobil dan Apartemen, Legislator Bengkulu Vinna Ledy: No Comment, Sorry Ya

Dicecar Soal Dugaan Terima Mobil dan Apartemen, Legislator Bengkulu Vinna Ledy: No Comment, Sorry Ya

News | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 07:00 WIB

5 Shio Paling Hoki 30 Oktober 2026: Panen Rezeki di Hari Kerbau Api

5 Shio Paling Hoki 30 Oktober 2026: Panen Rezeki di Hari Kerbau Api

Lifestyle | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 06:56 WIB

Digugat di PTUN, Kuasa Hukum Beberkan Rute Pendidikan Wapres Gibran dari O Level hingga S1

Digugat di PTUN, Kuasa Hukum Beberkan Rute Pendidikan Wapres Gibran dari O Level hingga S1

News | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 06:33 WIB

×