-
Timnas Iran tiba di Los Angeles untuk Piala Dunia 2026 bersamaan dengan pengumuman kesepakatan damai AS-Iran.
-
Konflik politik sempat memaksa Iran memindahkan sisa pemusatan latihan ke Meksiko akibat kendala visa dan keamanan.
-
Pertandingan perdana Iran diwarnai aksi unjuk rasa diaspora serta dukungan hangat suporter dari wilayah perbatasan.
Suara.com - Timnas Iran resmi menginjakkan kaki di Amerika Serikat untuk pertama kalinya dalam gelaran Piala Dunia 2026 kali ini. Kedatangan mereka di Bandara Internasional Los Angeles bertepatan dengan momentum pengumuman kesepakatan damai antara kedua negara yang selama ini berkonflik.
Skuad Team Melli mendarat setelah menempuh penerbangan pendek dari Tijuana, Meksiko, tempat mereka mendirikan pemusatan latihan darurat. Mereka langsung bersiap menghadapi laga perdana Grup G melawan Selandia Baru di Stadion Los Angeles.
"Saya sangat senang bisa mewakili bangsa Iran yang besar, bangga, dan kuat," ujar pelatih Iran, Amir Ghalenoei, melalui seorang penerjemah dalam konferensi pers di stadion, dikutip dari Reuters, Senin (15/6/2026).
![Timnas Iran mulai memanaskan mesin jelang Piala Dunia 2026 dengan menggelar latihan terbuka di Tijuana, Meksiko. [Istimewa]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/06/12/17317-timnas-iran.jpg)
"Saya berharap sepak bola akan menghadirkan kegembiraan dan kenikmatan, serta mendekatkan budaya dan negara."
Pertandingan perdana melawan Selandia Baru dipastikan diselimuti atmosfer emosional yang tinggi. Laga ini digelar tepat di tengah transisi perang menuju perdamaian resmi antara Washington dan Teheran, 2 negara yang belum pernah bertemu di ajang Piala Dunia.
Persiapan Iran sempat terganggu karena harus memindahkan markas latihan mereka dari Arizona ke Meksiko pada akhir bulan lalu. Pemindahan ini terjadi setelah militer AS dan Israel melancarkan serangan gabungan ke wilayah Iran sejak akhir Februari.
Akibat situasi tersebut, para pemain Iran harus bolak-balik dari Meksiko ke AS untuk melakoni 3 pertandingan di fase grup. Masalah diperparah oleh penolakan visa bagi sejumlah staf federasi, yang diakui Ghalenoei telah memberikan dampak psikologis negatif bagi timnya.

Di sisi lain, proses formal pengakhiran perang baru akan ditandatangani secara resmi di Swiss pada hari Jumat mendatang. Kabar baik ini disampaikan langsung oleh Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif melalui media sosial.
Meski ada pesan perdamaian dari elemen olahraga, situasi di sekitar Stadion Los Angeles tetap memanas oleh aksi demonstrasi. Kelompok demonstran pro-demokrasi berkumpul untuk menentang pemerintah Teheran sembari membentangkan berbagai poster tuntutan.
"Tidak ada Shah - Tidak ada Mullah di Iran - Perubahan Rezim oleh Rakyat Iran," demikian bunyi pesan tertulis di papan proyeksi massa. Foto-foto atlet yang tewas setelah ditangkap oleh otoritas Iran juga dipajang di sepanjang jalan protokol kawasan Inglewood.
Tindakan keras pemerintah Iran terhadap demonstran pada Januari lalu menjadi pemicu kemarahan mendalam bagi para diaspora. Gerakan pembungkaman tersebut dilaporkan telah menewaskan ribuan hingga puluhan ribu jiwa masyarakat sipil.
"Mereka menyandera rakyat mereka sendiri," kata Mojgan Ramezani, seorang warga Iran-Amerika berusia 56 tahun yang ikut turun ke jalan.
Seorang demonstran lain, Hassan Haddadi, menyatakan kekecewaannya terhadap sikap komunitas internasional yang dinilai pasif.
"Kami berharap bisa menumbuhkan kesadaran bagi dunia barat, untuk melakukan sesuatu yang lebih dari sekadar mengecam, untuk mengakhiri rezim ini," tutur Haddadi yang kini berusia 70 tahun.
Menanggapi dinamika politik yang mengelilingi timnya, Amir Ghalenoei menegaskan bahwa anak asuhnya hanya fokus pada target olahraga.