Ketika Ketahanan Pangan Dibangun Lewat Pelabuhan, Kawasan Industri, dan Petani

Vania Rossa

Sabtu, 20 Juni 2026 | 16:34 WIB
Ketika Ketahanan Pangan Dibangun Lewat Pelabuhan, Kawasan Industri, dan Petani
Ilustrasi Ketahanan Pangan Tak Berakhir di Sawah. [elements.envato]
baca 10 detik
  • Gobel Group membangun ekosistem ketahanan pangan terpadu di Gorontalo untuk meningkatkan nilai tambah hasil pertanian dan kesejahteraan masyarakat.
  • Strategi hilirisasi melalui kawasan industri dan pelabuhan internasional dirancang untuk mempermudah distribusi hasil panen ke pasar global.
  • Kemitraan strategis dengan perusahaan internasional menghubungkan petani lokal ke dalam rantai pasok global agar memperoleh keuntungan lebih.

Suara.com - Selama bertahun-tahun, pembicaraan mengenai ketahanan pangan di Indonesia hampir selalu berpusat pada satu hal: bagaimana meningkatkan produksi. Bibit unggul, pupuk, mekanisasi pertanian, hingga perluasan lahan menjadi agenda yang terus diulang. Namun, pengalaman menunjukkan bahwa panen yang melimpah tidak otomatis membuat petani lebih sejahtera atau menjamin pasokan pangan nasional tetap kuat.

Masalahnya sering kali muncul justru setelah panen selesai.

Gambaran tersebut juga tercermin dalam berbagai laporan lembaga nasional maupun internasional. Badan Pangan Dunia (FAO) berulang kali menekankan bahwa ketahanan pangan tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan pangan, tetapi juga kelancaran distribusi, akses pasar, dan kemampuan menciptakan nilai tambah di sepanjang rantai pasok. Sementara itu, berbagai publikasi Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan sektor pertanian masih menjadi penopang kehidupan jutaan rumah tangga Indonesia, sehingga persoalan pascapanen dan distribusi memiliki dampak langsung terhadap kesejahteraan masyarakat.

Hasil pertanian yang melimpah kerap kehilangan nilai karena minimnya fasilitas pengolahan, mahalnya biaya distribusi, terbatasnya akses menuju pasar, hingga panjangnya rantai perdagangan yang membuat keuntungan terbesar tidak selalu dinikmati oleh petani maupun nelayan.

Di sinilah ketahanan pangan memasuki babak yang lebih kompleks. Ia bukan lagi sekadar persoalan menghasilkan lebih banyak pangan, melainkan bagaimana membangun sebuah ekosistem yang mampu menghubungkan produksi, industri, logistik, hingga pasar dalam satu rantai nilai yang saling menguatkan.

Cara pandang inilah yang kini coba diwujudkan Gobel Group melalui berbagai investasi strategis di Gorontalo.

Ketahanan Pangan Tak Berakhir di Sawah

Bagi banyak orang, Gobel Group identik dengan industri elektronik. Namun di balik perjalanan hampir tujuh dekade perusahaan tersebut, terdapat benang merah yang konsisten: membangun industri yang memberikan manfaat bagi masyarakat.

Komitmen itu bahkan telah dimulai sejak 1963 ketika pendiri Gobel Group, almarhum Thayeb Mohammad Gobel, mendirikan PT Pabrik Diesel dan Traktor (Paditraktor). Perusahaan tersebut menghadirkan berbagai alat mekanisasi pertanian, mulai dari traktor, pengering gabah, mesin pengolah beras, hingga penyemprot hama untuk membantu petani meningkatkan produktivitas.

baca juga

Warisan pemikiran itu kemudian berkembang mengikuti perubahan zaman.

Jika pada masa lalu tantangan pertanian adalah meningkatkan hasil panen, maka hari ini tantangannya adalah memastikan hasil panen tersebut memiliki nilai tambah yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Karena itulah Gobel Group tidak berhenti pada penyediaan teknologi pertanian. Perusahaan ini mulai membangun mata rantai berikutnya—mulai dari kawasan industri, pelabuhan internasional, akses pasar global, hingga kemitraan industri pengolahan.

Pendekatan tersebut diperkenalkan kembali kepada publik melalui partisipasi Gobel Group dalam Pekan Nasional (PENAS) Petani Nelayan XVII 2026 di Gorontalo.

"Bagi Gobel Group, ketahanan pangan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan meningkatkan produksi pertanian dan perikanan. Ketahanan pangan memerlukan ekosistem yang mampu menghubungkan petani dan nelayan dengan teknologi, infrastruktur, industri hilir, sistem logistik yang efisien, serta akses pasar yang berkelanjutan," ujar Chairman Gobel Group, Rachmat Gobel, dalam Pembukaan Pekan Nasional (PENAS) Petani Nelayan XVII 2026 di Gorontalo.

Wapres Gibran Rakabuming bersama Rachmat Gobel, Chairman Gobel Group dalam Pembukaan PENAS Petani Nelayan XVII 2026. (dok. Gobel Group)
Wapres Gibran Rakabuming bersama Rachmat Gobel, Chairman Gobel Group dalam Pembukaan PENAS Petani Nelayan XVII 2026. (dok. Gobel Group)

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa ketahanan pangan tidak lagi dipandang sebagai persoalan sektoral, melainkan sebuah sistem yang saling terhubung dari hulu hingga hilir.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Giliran Kelompok Tani Geruduk Patung Kuda, Suarakan Pengaruh MBG Hingga Reforma Agraria

Giliran Kelompok Tani Geruduk Patung Kuda, Suarakan Pengaruh MBG Hingga Reforma Agraria

News | Jum'at, 19 Juni 2026 | 12:42 WIB

Evaluasi MBG dan Krisis Regenerasi Petani Jadi Sorotan, Dudung Akui Program Perlu Ditata Ulang

Evaluasi MBG dan Krisis Regenerasi Petani Jadi Sorotan, Dudung Akui Program Perlu Ditata Ulang

News | Minggu, 14 Juni 2026 | 09:20 WIB

Indonesia Gandeng Uni Emirat Arab Ajak Investasi Ketahanan Pangan Nasional

Indonesia Gandeng Uni Emirat Arab Ajak Investasi Ketahanan Pangan Nasional

Bisnis | Kamis, 11 Juni 2026 | 20:30 WIB

Terkini

Aktivis 98 Kritik Kondisi Ekonomi hingga Ruang Demokrasi, Sebut Reformasi Belum Tuntas

Aktivis 98 Kritik Kondisi Ekonomi hingga Ruang Demokrasi, Sebut Reformasi Belum Tuntas

News | Sabtu, 20 Juni 2026 | 16:04 WIB

Imigrasi Bakal Perluas Autogate hingga Perbatasan RI

Imigrasi Bakal Perluas Autogate hingga Perbatasan RI

News | Sabtu, 20 Juni 2026 | 15:34 WIB

Posisi Fleksibel PDIP Bikin Parpol Koalisi Pemerintah Gelisah

Posisi Fleksibel PDIP Bikin Parpol Koalisi Pemerintah Gelisah

News | Sabtu, 20 Juni 2026 | 15:02 WIB

AMMSI Dukung BGN Sesuaian Operasional SPPG: Tak Ada Ruang Bagi Dapur Bermasalah

AMMSI Dukung BGN Sesuaian Operasional SPPG: Tak Ada Ruang Bagi Dapur Bermasalah

News | Sabtu, 20 Juni 2026 | 14:26 WIB

Konvoi Berubah Maut, Tiga Remaja Diciduk dalam Kasus Pengeroyokan di Depan Terminal Grogol

Konvoi Berubah Maut, Tiga Remaja Diciduk dalam Kasus Pengeroyokan di Depan Terminal Grogol

News | Sabtu, 20 Juni 2026 | 14:20 WIB

KPK Dalami Asal-Usul Aset Silmy Karim yang Disita dalam Kasus Izin Tinggal WNA

KPK Dalami Asal-Usul Aset Silmy Karim yang Disita dalam Kasus Izin Tinggal WNA

News | Sabtu, 20 Juni 2026 | 13:44 WIB

GKR Hemas Ajak Generasi Muda Bangun Kepemimpinan Berbasis Nilai Budaya

GKR Hemas Ajak Generasi Muda Bangun Kepemimpinan Berbasis Nilai Budaya

News | Sabtu, 20 Juni 2026 | 13:22 WIB

GERD Kambuh, Dokter Tifa Pakai Kursi Roda usai Pemeriksaan di RS Polri

GERD Kambuh, Dokter Tifa Pakai Kursi Roda usai Pemeriksaan di RS Polri

News | Sabtu, 20 Juni 2026 | 12:41 WIB

Maraton Geledah Tiga Lokasi di Bali, KPK Amankan Barang Bukti Kasus Pemerasan WNA

Maraton Geledah Tiga Lokasi di Bali, KPK Amankan Barang Bukti Kasus Pemerasan WNA

News | Sabtu, 20 Juni 2026 | 12:28 WIB

Penyakit Bawaan Ditemukan Saat Pemeriksaan, Roy Suryo dan Dokter Tifa Dirawat di RS Polri

Penyakit Bawaan Ditemukan Saat Pemeriksaan, Roy Suryo dan Dokter Tifa Dirawat di RS Polri

News | Sabtu, 20 Juni 2026 | 12:24 WIB