Suara.com - Konsentrasi karbon dioksida (CO2) di atmosfer bumi kembali mencetak rekor. Pada Mei 2026, para ilmuwan dari Scripps Institution of Oceanography mencatat kadar CO2 di Observatorium Mauna Loa, Hawaii, mencapai 432 bagian per juta (ppm)—angka tertinggi sejak pengamatan modern dimulai.
Angka ini naik sekitar 1,8 ppm dibandingkan periode yang sama tahun lalu dan memperlihatkan satu hal: emisi gas rumah kaca dunia masih terus bertambah.
Kenaikan tersebut menjadi sinyal bahwa atmosfer bumi kini menyimpan jauh lebih banyak karbon dibandingkan era sebelum revolusi industri. Semakin tinggi konsentrasi CO2, semakin besar pula panas yang terperangkap di atmosfer dan semakin sulit dunia menahan laju pemanasan global.
Direktur Program CO2 Scripps Institution of Oceanography, Ralph Keeling, mengatakan tren tersebut menunjukkan dunia belum berhasil mengurangi emisi dalam skala yang dibutuhkan.
“Konsentrasi CO2 di atmosfer terus meningkat tanpa henti selama setahun terakhir, mencapai rekor tertinggi lainnya dan membawa kita semakin dalam ke dunia dengan konsentrasi CO2 yang tinggi,” ujar Keeling.
Menurutnya, setiap kenaikan konsentrasi karbon membuat target pembatasan kenaikan suhu global semakin sulit dicapai apabila emisi tidak ditekan secara signifikan.
Bukan Sekadar Angka, Dampaknya Bisa Sampai ke Indonesia
Karbon dioksida merupakan gas rumah kaca utama yang memerangkap panas di atmosfer. Ketika jumlahnya terus meningkat, dampaknya tidak berhenti pada kenaikan suhu rata-rata bumi.
Perubahan pola hujan, cuaca ekstrem yang lebih sering, kekeringan berkepanjangan, hingga meningkatnya risiko kebakaran hutan menjadi sebagian konsekuensi yang mulai terlihat di berbagai wilayah dunia.
Bagi Indonesia, ancaman ini memiliki konsekuensi yang lebih kompleks.
Sebagai negara kepulauan tropis, Indonesia termasuk wilayah yang rentan terhadap dampak perubahan iklim. Kenaikan permukaan laut berpotensi memperparah banjir pesisir, sementara perubahan musim dapat memengaruhi hasil pertanian dan ketersediaan pangan.
Ekosistem pesisir seperti mangrove dan terumbu karang juga menghadapi tekanan yang semakin besar. Di saat yang sama, sektor perikanan dan kesehatan masyarakat diperkirakan ikut terdampak seiring meningkatnya suhu dan perubahan kondisi lingkungan.
Pengurangan Emisi Dinilai Perlu Dipercepat
Di tingkat nasional, tantangan pengurangan emisi juga masih besar. Data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menunjukkan emisi gas rumah kaca Indonesia pada 2023 mencapai sekitar 1,36 miliar ton CO2, dengan kontribusi terbesar berasal dari sektor energi.
Di tengah kebutuhan energi dan pembangunan ekonomi yang terus tumbuh, pengurangan emisi menjadi pekerjaan yang semakin mendesak.
Sejumlah langkah mitigasi mulai dilakukan, mulai dari percepatan transisi energi bersih, rehabilitasi hutan dan mangrove, hingga pengembangan kendaraan listrik. Namun, tren peningkatan emisi global menunjukkan upaya tersebut masih perlu dipercepat.
Rekor baru konsentrasi CO2 ini menjadi pengingat bahwa krisis iklim bukan lagi ancaman di masa depan. Dampaknya sudah mulai dirasakan saat ini, dan tanpa penurunan emisi secara nyata, tekanan terhadap lingkungan dan kehidupan manusia diperkirakan akan semakin besar.
Penulis: Natasha Suhendra