- Industri energi surya di Indonesia mengalami pertumbuhan pesat, namun menghadapi kendala kesiapan tenaga kerja yang berkualitas.
- Riset Coaction Indonesia memproyeksikan jutaan lapangan kerja hijau, tetapi perusahaan kesulitan menemukan tenaga kerja dengan keterampilan teknis praktis.
- Xurya mendirikan Solar Academy Indonesia sejak 2024 untuk menjembatani kesenjangan antara teori pendidikan dengan kebutuhan operasional di lapangan.
Ia mencontohkan pekerjaan instalasi dan desain sistem PLTS. Secara teori, pekerja memahami tahapan dan prosedur pemasangan. Namun ketika mengerjakan langsung, detail teknis yang tampak kecil sering kali terlewat.
Padahal, dalam sistem energi, detail tersebut dapat memengaruhi performa bahkan aspek keselamatan.
Menurut Edwin, tantangan ini menunjukkan bahwa pengembangan SDM tidak cukup hanya mengandalkan pendidikan formal.
Yang dibutuhkan adalah ruang yang memungkinkan tenaga kerja menghubungkan teori dengan praktik.
Menjembatani kebutuhan industri lewat pelatihan
Salah satu pendekatan yang mulai dicoba adalah memperkuat pelatihan berbasis industri. Sejak 2024, Xurya menjalankan Solar Academy Indonesia, program pelatihan yang ditujukan bagi mitra EPC (Engineering, Procurement, Construction).
Materi pelatihan dikembangkan dari proses pembelajaran internal perusahaan—mulai dari praktik yang terbukti efektif hingga kesalahan yang pernah terjadi di lapangan.
“Kesalahan yang pernah kami alami dan tidak ingin terulang, kami jadikan bahan pembelajaran lalu dibagikan kepada mitra,” kata Edwin.
Program ini juga menekankan praktik langsung melalui penggunaan peralatan dan simulasi kondisi kerja nyata bersama mitra pelatihan.
Tujuannya bukan menggantikan pendidikan formal, tetapi membantu mempercepat proses adaptasi tenaga kerja terhadap kebutuhan industri yang berkembang.