-
Gempa bumi kuat mendadak mengguncang kota Caracas di tengah suasana libur Piala Dunia warga.
-
Ribuan penduduk terpaksa bertahan di jalanan akibat pemadaman listrik dan ketakutan gempa susulan.
-
Pakar struktur menyebut kerusakan parah dipicu oleh kegagalan konstruksi beton yang memakai kode lama.
Suara.com - Guncangan gempa bumi dahsyat tiba-tiba melanda ibu kota Venezuela dan mengejutkan jutaan warga yang sedang menikmati libur hari besar. Peristiwa mendadak ini seketika menyingkap kerapuhan sistem mitigasi bencana serta bahaya laten dari ribuan infrastruktur kuno di wilayah padat penduduk.
Noris Soto, seorang jurnalis lokal di Caracas, sedang berada di dalam rumahnya saat tanah mulai bergetar hebat. Layaknya mayoritas penduduk Venezuela, fokusnya saat itu sebenarnya tengah tersita oleh siaran langsung pertandingan Piala Dunia.
“Rasanya tidak seperti apa pun yang pernah saya rasakan sebelumnya,” ungkap Noris Soto kepada Elex Michaelson dari CNN.

Meskipun wilayah Caracas secara geografis membentang tepat di atas patahan seismik aktif utama, kota ini telah membisu tanpa aktivitas tektonik besar selama berpuluh-puluh tahun. Lindu destruktif terakhir tercatat meletus pada tahun 1967 silam, jauh sebelum generasi Soto dilahirkan.
“Kami sama sekali tidak siap,” tegas Soto menggambarkan situasi psikologis masyarakat yang panik.
Keadaan diperparah ketika jaringan listrik dan koneksi internet di seluruh kota tiba-tiba padam total pascaguncangan. Soto segera bergegas keluar rumah dan menemukan koridor-koridor jalan telah disesaki oleh ribuan tetangga yang ketakutan, bahkan banyak yang masih mengenakan pakaian tidur.
“Orang-orang takut untuk kembali ke bangunan mereka, ke rumah mereka, karena kami takut akan gempa susulan,” kata Soto menerangkan situasi darurat yang mencekam selama berjam-jam.
Kerumunan massa yang cemas memilih untuk tetap bertahan di ruang-ruang terbuka guna menghindari potensi reruntuhan. Di bawah bayang-bayang trauma, mereka saling menenangkan diri sembari berupaya keras mencari kabar mengenai keselamatan anggota keluarga lainnya.
“Orang-orang berada di jalanan. Mereka mencoba mengatasi syok dan mencari tahu tentang orang-orang yang mereka cintai,” tutur Soto.
Di balik kepanikan massal tersebut, tingkat kerusakan masif yang terjadi akibat gempa hari Rabu ini menyisakan pertanyaan besar. Seorang insinyur struktur senior membeberkan bahwa banyaknya bangunan modern yang gagal bertahan bersumber dari kesalahan regulasi masa lalu.
Kenneth O’Dell, yang menjabat sebagai Principal di MHP Structural Engineers, menegaskan bahwa bangunan-bangunan yang hancur rata-rata didirikan sebelum awal dekade 1970-an. Konstruksi era lama tersebut belum mengadopsi standar ketahanan gempa modern yang kini menjadi syarat wajib internasional.
“Jenis bangunan yang akan menunjukkan kerusakan adalah struktur beton dari bangunan rentan yang kemungkinan dibangun dengan kode bangunan versi lama yang mereka gunakan di sana di Venezuela,” ujar O’Dell, mantan Presiden Structural Engineers Association of California.
Menurut O'Dell, Venezuela sebenarnya telah memperbarui dan mengadopsi regulasi konstruksi internasional yang jauh lebih ketat setelah periode kelam tersebut. Pedoman baru ini termasuk mengacu pada standardisasi American Concrete Institute yang menjamin kekuatan bangunan modern dalam meredam energi getaran tektonik.
Kendati demikian, keberadaan arsitektur lama yang belum direnovasi total kini menjadi bom waktu yang nyata bagi penduduk Caracas. Kota metropolitan ini sekarang dipaksa menghadapi realitas bahwa sejarah panjang ketenangan patahan aktif telah melahirkan kepasrahan kolektif yang berbahaya.
Sebagai informasi latar belakang, ingatan kolektif warga Caracas terhadap risiko gempa bumi memang sempat memudar akibat absennya guncangan besar selama hampir enam dekade. Kelalaian dalam memperbarui kekuatan struktur bangunan tua peninggalan pertengahan abad ke-20 kini terbukti harus dibayar mahal dengan kepanikan masif dan kerusakan infrastruktur yang meluas.