Demonstrasi Bayaran Rusak Demokrasi, Dalangnya Harus Ditindak

Vania Rossa, Lilis Varwati

Jum'at, 26 Juni 2026 | 09:29 WIB
Demonstrasi Bayaran Rusak Demokrasi, Dalangnya Harus Ditindak
Ilustrasi demonstrasi mahasiswa saat mendatangi kawasan Gedung DPR/MPR Jakarta, Selasa (9/9/2025). ANTARA/Khaerul Izan
baca 10 detik
  • Jamiluddin Ritonga menilai demonstrasi berbayar sebagai ancaman serius yang merusak esensi demokrasi serta integritas opini publik nasional.
  • Praktik pengerahan massa bayaran bertujuan membentuk opini palsu untuk memengaruhi kebijakan pemerintah agar melayani kepentingan pihak tertentu.
  • Pemerintah didesak segera menindak tegas para dalang di balik aksi demonstrasi bayaran demi menjaga kemurnian aspirasi masyarakat.

Suara.com - Pengamat komunikasi politik Universitas Esa Unggul, Jamiluddin Ritonga, menilai praktik demonstrasi berbayar merupakan ancaman serius bagi demokrasi. Menurutnya, aksi yang digerakkan oleh pihak tertentu dengan memberikan imbalan kepada massa berpotensi menciptakan opini publik yang tidak mencerminkan aspirasi masyarakat.

Pernyataan itu disampaikan Jamiluddin merespons mencuatnya pengakuan mahasiswa BEM Universitas Bung Karno (UBK) yang mengaku menerima uang dari Wakil Presiden saat menjadi sorotan publik. Di sisi lain, Presiden Prabowo Subianto juga sempat menyatakan mengetahui pihak-pihak yang membiayai aksi demonstrasi.

"Demonstrasi bayaran tentu merusak demokrasi. Sebab, mereka demonstrasi bukan karena ingin menyampaikan dan memperjuangkan aspirasinya, tetapi untuk menyuarakan kepentingan pihak yang membayarnya," kata Jamiluddin kepada Suara.com, Jumat (26/6/2026).

Menurut dia, praktik tersebut menunjukkan adanya pihak yang memperalat massa demi mewujudkan kepentingannya sendiri. Bahkan, demonstran yang dibayar kerap diminta menyerang atau memaki individu maupun lembaga tertentu untuk membentuk persepsi publik.

Jamiluddin menilai tujuan utama demonstrasi berbayar adalah membangun opini publik terhadap seseorang atau lembaga. Namun, opini yang terbentuk bukan berasal dari aspirasi masyarakat yang sesungguhnya.

"Pendapat umum yang terbentuk melalui demo bayaran pada umumnya palsu," ujarnya.

Ia mengingatkan, opini publik yang tidak autentik berpotensi memengaruhi arah kebijakan pemerintah. Akibatnya, kebijakan yang diambil tidak lagi menjawab kebutuhan masyarakat, melainkan melayani kepentingan pihak yang berada di balik aksi tersebut.

"Kebijakan seperti itu tentu tidak tepat sasaran. Hal itu akan berpengaruh terhadap minimnya efektivitas kebijakan yang diambil pemerintah," katanya.

Karena itu, Jamiluddin menegaskan demonstrasi berbayar tidak boleh dianggap sebagai persoalan biasa. Menurutnya, pihak yang mengorganisasi maupun membiayai aksi semacam itu harus diproses sesuai hukum.

baca juga

"Karena dampaknya sangat besar dalam kehidupan berdemokrasi, maka selayaknya para dalang demonstran ditindak. Mereka sudah merusak dan memporak-porandakan pendapat umum," ujarnya.

Ia menjelaskan, dalam sistem demokrasi, pendapat umum menjadi salah satu pijakan penting pemerintah dalam menyusun kebijakan. Karena itu, aspirasi yang dijadikan dasar pengambilan keputusan harus benar-benar lahir dari masyarakat, bukan hasil rekayasa pihak tertentu.

"Tentu aspirasi yang dimaksud memang riil berkembang di tengah rakyat. Aspirasi itu bukan rekaan dari dalang yang didengungkan melalui demonstran bayaran," kata Jamiluddin.

Atas dasar itu, ia menilai Presiden Prabowo Subianto tidak cukup hanya mengetahui siapa pihak yang diduga berada di balik pembiayaan demonstrasi apabila memang memiliki informasi tersebut.

"Prabowo juga selayaknya menindak para dalang tersebut karena sudah merusak demokrasi," pungkasnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Menggugat Orkestrasi Dukungan MBG: Gerakan Murni atau Pertunjukan Politik?

Menggugat Orkestrasi Dukungan MBG: Gerakan Murni atau Pertunjukan Politik?

Your Say | Kamis, 25 Juni 2026 | 09:00 WIB

Bantah Mobilisasi Massa Demo Pro MBG, Bakom RI: Itu Tidak Benar!

Bantah Mobilisasi Massa Demo Pro MBG, Bakom RI: Itu Tidak Benar!

News | Rabu, 24 Juni 2026 | 14:59 WIB

Berdemokrasi dengan Sehat: Bicara Politik itu Hak Warga Negara

Berdemokrasi dengan Sehat: Bicara Politik itu Hak Warga Negara

Your Say | Rabu, 24 Juni 2026 | 13:55 WIB

Terkini

Pemerintahan Prabowo Dorong Investasi Hijau dan Ketahanan Energi di PBB

Pemerintahan Prabowo Dorong Investasi Hijau dan Ketahanan Energi di PBB

Bisnis | Kamis, 24 September 2026 | 22:57 WIB

Bikin Tenang! Tren Baru Transaksi QRIS Biar Penjual Enggak Kena Tipu

Bikin Tenang! Tren Baru Transaksi QRIS Biar Penjual Enggak Kena Tipu

Lifestyle | Kamis, 24 September 2026 | 22:45 WIB

Presiden dan DPR Tak Siap Beri Keterangan, Sidang Gugatan UU Cipta Kerja Ditunda

Presiden dan DPR Tak Siap Beri Keterangan, Sidang Gugatan UU Cipta Kerja Ditunda

News | Kamis, 24 September 2026 | 22:08 WIB

Rapat BI-Kemenkeu Alot, Bahas Likuiditas hingga Aliran Modal Asing

Rapat BI-Kemenkeu Alot, Bahas Likuiditas hingga Aliran Modal Asing

Bisnis | Kamis, 24 September 2026 | 22:01 WIB

Karhutla Sumsel Tak Kunjung Padam, Bisakah Perusahaan yang Diduga Lalai Digugat?

Karhutla Sumsel Tak Kunjung Padam, Bisakah Perusahaan yang Diduga Lalai Digugat?

Sumsel | Kamis, 24 September 2026 | 21:59 WIB

Punya Kayu Melimpah, Ekspor Furnitur Indonesia Kalah dari Vietnam

Punya Kayu Melimpah, Ekspor Furnitur Indonesia Kalah dari Vietnam

Bisnis | Kamis, 24 September 2026 | 21:56 WIB

Keracunan MBG Terulang, Mantan Bupati Batang Desak BGN Perketat Pengawasan SPPG

Keracunan MBG Terulang, Mantan Bupati Batang Desak BGN Perketat Pengawasan SPPG

Jawa Tengah | Kamis, 24 September 2026 | 21:55 WIB

Dua Karung Tepung Jadi Mahar, Gadis Gaza 14 Tahun Dipaksa Nikah Demi Tidak Kelaparan

Dua Karung Tepung Jadi Mahar, Gadis Gaza 14 Tahun Dipaksa Nikah Demi Tidak Kelaparan

News | Kamis, 24 September 2026 | 21:55 WIB

Eko Yuli Gagal Raih Medali di Asian Games 2026, Belum Mau Menyerah: Bidik Olimpiade 2028

Eko Yuli Gagal Raih Medali di Asian Games 2026, Belum Mau Menyerah: Bidik Olimpiade 2028

Sport | Kamis, 24 September 2026 | 21:54 WIB

Enam Dekade Menunggu, UU Reforma Agraria Disahkan: Akankah Tanah Kembali ke Petani?

Enam Dekade Menunggu, UU Reforma Agraria Disahkan: Akankah Tanah Kembali ke Petani?

Sumsel | Kamis, 24 September 2026 | 21:48 WIB

×