Antrean di SPBU Tak Sekadar Soal BBM, Ekonom Soroti Beban Sosial Kelompok Rentan

Vania Rossa, Hiskia Andika Weadcaksana

Senin, 29 Juni 2026 | 15:26 WIB
Antrean di SPBU Tak Sekadar Soal BBM, Ekonom Soroti Beban Sosial Kelompok Rentan
Ilustrasi antrean panjang SPBU. (Suara.com/Tsabita Aulia)
baca 10 detik
  • Dosen UMY Ahmad Ma'ruf menyoroti dampak ekonomi antrean panjang BBM bagi masyarakat rentan pada Senin, 29 Juni 2026.
  • Perpindahan konsumen ke BBM subsidi menyebabkan antrean panjang yang membebani masyarakat ekonomi menengah ke bawah karena kehilangan waktu.
  • Pemerintah disarankan mengalihkan dana penghematan subsidi untuk memperkuat program perlindungan sosial bagi kelompok masyarakat yang paling terdampak.

Suara.com - Antrean panjang kendaraan di sejumlah SPBU di berbagai wilayah Indonesia tak hanya menjadi persoalan distribusi bahan bakar. Di balik antrean tersebut, terdapat kelompok masyarakat rentan yang menanggung beban ekonomi kian berat.

Dosen Program Studi Ekonomi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Ahmad Ma'ruf, menilai pemerintah perlu menghitung dampak tidak langsung dari setiap kebijakan energi. Menurutnya, keberhasilan kebijakan tidak cukup diukur dari penghematan anggaran negara, namun dari biaya sosial yang harus ditanggung masyarakat.

"Jangan hanya melihat aspek efisiensi anggaran fiskal saja. Pemerintah juga harus menghitung nilai waktu rakyat yang hilang akibat antre," kata Ahmad, Senin (29/6/2026).

Dipaparkan Ahmad, kelompok yang paling rentan justru bukan masyarakat miskin ekstrem. Melainkan kelompok near poor atau hampir miskin. 

Pasalnya mereka berada sedikit di atas garis kemiskinan sehingga kerap tidak tercatat sebagai penerima bantuan sosial. Namun di sisi lain sangat terdampak ketika biaya hidup meningkat.

"Kelompok miskin ekstrem biasanya mendapat bantuan sosial dari pemerintah. Bantuan itu bisa berupa dana pendidikan atau kesehatan. Sementara kelompok near poor sering tidak terdata sebagai penerima bantuan," ujarnya.

Menurut Ahmad, antrean panjang di SPBU dipicu pula oleh perpindahan konsumen dari Pertamax ke Pertalite. MengingT selisih harga kedua jenis BBM yang sudah semakin lebar. 

"Warga yang sejak awal berhak menerima subsidi justru menjadi korban. Mereka sekarang harus berbagi ruang antri dengan mantan pengguna Pertamax," ungkapnya.

Fenomena tersebut, kata Ahmad, memperlihatkan adanya perbedaan cara masyarakat memandang nilai waktu. Sebagian orang memilih mengorbankan waktu demi memperoleh BBM dengan harga lebih murah, sementara kelompok lain rela membayar lebih mahal agar tidak kehilangan waktu produktif.

baca juga

"Sebagian masyarakat memilih mengorbankan waktu demi mendapatkan harga murah. Sebaliknya, sebagian lain memilih membayar lebih mahal untuk menghemat waktu," ujarnya.

Dalam perspektif ekonomi, ia memaparkan kondisi itu berkaitan dengan teori opportunity cost atau biaya peluang. Biaya yang dikeluarkan masyarakat bukan hanya uang yang dibayarkan di SPBU, namun waktu produktif yang hilang selama mengantre.

Oleh sebab itu, masyarakat berpenghasilan rendah umumnya lebih sensitif terhadap kenaikan harga dibandingkan hilangnya waktu. Di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih, mereka lebih memilih menghemat pengeluaran meski harus menghabiskan waktu lebih lama di antrean.

"Masyarakat menengah ke bawah menjadikan harga sebagai pertimbangan utama. Kondisi ekonomi saat ini belum pulih sepenuhnya. Oleh karena itu, mengorbankan waktu dianggap lebih menguntungkan daripada membeli BBM non-subsidi," tandasnya.

Ia mengingatkan bahwa biaya energi merupakan komponen ekonomi yang sangat sensitif. Kenaikan harga BBM berpotensi memicu inflasi yang pada akhirnya semakin membebani rumah tangga berpenghasilan rendah.

Sebagai solusi, Ahmad menyarankan agar penghematan anggaran dari kebijakan subsidi dikembalikan kepada masyarakat melalui penguatan program jaminan perlindungan sosial. Sehingga kelompok rentan memperoleh kompensasi atas beban yang mereka tanggung.

"Dana subsidi yang dihemat harus digunakan untuk kesejahteraan masyarakat rentan. Langkah ini penting agar mereka mendapat kompensasi yang adil atas waktu yang hilang," pungkasnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Prabowo: Belum Ada Profesor Ekonomi yang Bisa Bantah Saya, Matematik Adalah Matematik!

Prabowo: Belum Ada Profesor Ekonomi yang Bisa Bantah Saya, Matematik Adalah Matematik!

Bisnis | Sabtu, 27 Juni 2026 | 13:33 WIB

Ekonom UGM Bongkar Stress Test APBN, Rupiah Rp18.200 Jadi Ambang Kritis

Ekonom UGM Bongkar Stress Test APBN, Rupiah Rp18.200 Jadi Ambang Kritis

Bisnis | Rabu, 10 Juni 2026 | 18:40 WIB

Pemerintah Diminta Tidak Perkeruh Ekonomi dengan Regulasi yang Membingungkan

Pemerintah Diminta Tidak Perkeruh Ekonomi dengan Regulasi yang Membingungkan

News | Rabu, 10 Juni 2026 | 16:50 WIB

Terkini

Jutaan Anak Tak Sekolah, Gus Ipul Minta Kepala Daerah Dukung Sekolah Rakyat

Jutaan Anak Tak Sekolah, Gus Ipul Minta Kepala Daerah Dukung Sekolah Rakyat

News | Senin, 29 Juni 2026 | 15:25 WIB

KPK Buka Peluang Tetapkan Tersangka Baru di Kasus Imigrasi Silmy Karim

KPK Buka Peluang Tetapkan Tersangka Baru di Kasus Imigrasi Silmy Karim

News | Senin, 29 Juni 2026 | 15:22 WIB

Buntut Intimidasi Dokter di IGD, Sekjen Golkar Pastikan Sanksi Tegas bagi Kader yang Buat Onar

Buntut Intimidasi Dokter di IGD, Sekjen Golkar Pastikan Sanksi Tegas bagi Kader yang Buat Onar

News | Senin, 29 Juni 2026 | 15:16 WIB

Jokowi Safari Politik, Golkar: Beliau Bukan Presiden Lagi, Kami Tegak Lurus ke Pak Prabowo!

Jokowi Safari Politik, Golkar: Beliau Bukan Presiden Lagi, Kami Tegak Lurus ke Pak Prabowo!

News | Senin, 29 Juni 2026 | 15:11 WIB

5 Peserta SPPI Meninggal saat Latsarmil, Mengapa Calon Manajer Koperasi Ikut Pelatihan Militer?

5 Peserta SPPI Meninggal saat Latsarmil, Mengapa Calon Manajer Koperasi Ikut Pelatihan Militer?

News | Senin, 29 Juni 2026 | 15:02 WIB

Pengamat UMY Soal Safari Politik Jokowi dan PSI: Upaya Amankan Oligarki Lewat Politik 'Bagi Uang'

Pengamat UMY Soal Safari Politik Jokowi dan PSI: Upaya Amankan Oligarki Lewat Politik 'Bagi Uang'

News | Senin, 29 Juni 2026 | 14:59 WIB

Siapa Bertanggung Jawab? Polisi Usut Kelalaian Proyek yang Tewaskan Bocah 4 Tahun di Tebet

Siapa Bertanggung Jawab? Polisi Usut Kelalaian Proyek yang Tewaskan Bocah 4 Tahun di Tebet

News | Senin, 29 Juni 2026 | 14:57 WIB

Uang Saku MagangHub II Tembus Rp6 Juta! Kemnaker Buka Jalur Profesi dan Fokus Pemerataan di Daerah

Uang Saku MagangHub II Tembus Rp6 Juta! Kemnaker Buka Jalur Profesi dan Fokus Pemerataan di Daerah

News | Senin, 29 Juni 2026 | 14:43 WIB

Siapkan Bukti Video, Roy Suryo Serang Balik Prosedur Polisi Lewat 3 Poin Praperadilan

Siapkan Bukti Video, Roy Suryo Serang Balik Prosedur Polisi Lewat 3 Poin Praperadilan

News | Senin, 29 Juni 2026 | 14:43 WIB

Mobil Boks di Bekasi Terobos Lampu Merah Hingga Tabrak 5 Motor, Satu Pemotor Tewas

Mobil Boks di Bekasi Terobos Lampu Merah Hingga Tabrak 5 Motor, Satu Pemotor Tewas

News | Senin, 29 Juni 2026 | 14:24 WIB

×