- Yunita Fauziah Putri merintis usaha fesyen sejak tahun 2016 yang kini berkembang menjadi jenama Dear June Official.
- Strategi pemasaran daring dan inovasi produk masker saat pandemi membantu bisnis menjangkau pasar nasional hingga mancanegara.
- Operasional bisnis kini mempekerjakan belasan penjahit lokal dan memberikan peluang kerja fleksibel bagi warga di sekitar produksi.
Suara.com - Berawal dari keinginan sederhana untuk berjualan pakaian saat masih duduk di bangku kuliah, Yunita Fauziah Putri (28) tak pernah menyangka usaha yang ia rintis pada 2016 kini berkembang menjadi jenama fashion perempuan yang mempekerjakan penjahit lokal dan menjangkau pembeli hingga luar negeri.
Di balik pertumbuhan itu, ada proses panjang, mulai dari mencari satu penjahit rumahan, melewati pandemi, hingga membangun rumah produksi sendiri.
Usaha yang kini dikenal sebagai Dear June Official sempat menggunakan nama Shop at Lokal. Pada 2021, Yunita memutuskan melakukan rebranding agar koleksi yang ditawarkan tidak hanya sebatas pakaian basic.
Namun memiliki sentuhan desain yang lebih beragam. Sasaran pasarnya adalah perempuan usia 18 hingga 30 tahun dengan ciri khas motif garis (stripe) yang tetap mengikuti tren.
"Jadi saat saya masuk kuliah, saya memutuskan untuk mau memulai bisnis fashion kayak gitu, sampai sekarang alhamdulillah bisa berjalan lancar," kata Yunita saat ditemui di rumahnya, Senin (29/6/2026).
Meski berlatar belakang pendidikan manajemen, Yunita mengaku belajar desain secara otodidak. Inspirasi pakaian ia tuangkan melalui diskusi dengan penjahit, kemudian dimodifikasi hingga menjadi produk yang sesuai dengan karakter mereknya.
Bertahan Saat Pandemi
Pandemi COVID-19 justru menjadi salah satu titik balik perjalanan usahanya. Ketika permintaan pakaian menurun, Yunita memilih mengubah strategi dengan memproduksi masker kain.
Langkah itu terbukti jitu, sebab keputusan tersebut membuat bisnisnya tetap bertahan sekaligus menjaga arus kas perusahaan.
"Jadi waktu itu kita pivot dari awalnya kita jualan baju ya, kita akhirnya mikir gimana ya caranya kita tetap berjalan dengan kondisi yang saat ini. Kayak gitu kita jualan masker, masker kain kayak gitu. Dan itu terjual puluhan ribu pieces, jadi cukup membantu cash flow kita juga sih," ungkapnya.
Sejak awal, pemasaran memang dilakukan secara daring. Mulanya melalui Instagram dan WhatsApp.
Baru kemudian sejak 2018, Yunita memanfaatkan marketplace seperti Shopee untuk melebarkan promosi produk-produknya.
Menurut Yunita, keberhasilan berjualan secara online bukan hanya soal membuka toko, tetapi juga memaksimalkan berbagai strategi dan fitur yang tersedia.

"Jadi kalau di Shopee itu sendiri enggak cuman asal upload katalog aja terus kita pasrah gitu ya tapi kita juga manfaatin semua fitur. Jadi tetap kita harus punya strategi yang jelas untuk gimana caranya kita bisa jualan di marketplace seperti Shopee," ujarnya.
Kini produk Dear June Official tidak hanya dikirim ke berbagai daerah di Indonesia, mulai dari Jogja hingga Papua. Namun sudah mulai menjangkau pasar Singapura dan Malaysia.
Diakui Yunita, Singapura menjadi pasar luar negeri yang paling responsif terhadap produknya.
"Kita itu kemarin paling banyak itu marketnya ternyata ada di Singapura," katanya.
Tumbuh Bersama Lingkungan
Perkembangan usaha tak hanya dirasakan oleh Yunita dan keluarganya tapi juga membawa dampak bagi lingkungan sekitar.
Jika dulu hanya bekerja sama dengan satu penjahit rumahan, kini Dear June Official memiliki lima penjahit di rumah produksi serta sekitar lima penjahit rumahan yang mengerjakan pesanan dari rumah masing-masing.
Produksi mereka sudah mampu mencapai ratusan potong pakaian setiap hari, bergantung pada model yang dikerjakan.
"Kalau resi (yang dikirim) sekarang puluhan sampai ratusan sehari," ujar dia.
Lebih dari itu, perusahaan Yunita turut membuka peluang kerja bagi warga sekitar. Termasuk ibu rumah tangga yang membutuhkan pekerjaan dengan waktu fleksibel.
Salah satunya adalah Efi Nia Astuti (38), yang bergabung beberapa bulan terakhir di bagian finishing.
"Sebelumnya saya ibu rumah tangga, kerja di sini lumayan buat tambah jajan anak-anak," kata Nia.
Nia mengatakan sistem kerja yang fleksibel membuatnya tetap bisa mengurus keluarga. Ia datang bekerja setelah mengantar atau menjemput anak sekolah.
Sementara ketika pesanan sedang membludak ia tak keberatan lembur hingga malam untuk membantu menyelesaikan produksi. Apalagi, Nia tinggal di desa yang sama dengan rumah produksi.
Tak jauh berbeda, Johan Siti Nur Aini yang bertugas sebagai penjahit turut merasakan manfaat bekerja di Dear June Official.
Ia terhitung sudah sekitar setahun terakhir bekerja bersama Yunita. Sebelumnya, Siti memiliki usaha modiste rumahan yang terdampak pandemi sehingga pesanan menurun.
"Saya di sini bekerja udah dari April 2025. Alhamdulillah, (penghasilan) lumayan, dan sangat-sangat lumayan," ungkap Siti.
Ke depan, Yunita berharap pertumbuhan bisnisnya tidak hanya tercermin dari peningkatan penjualan. Namun semakin banyak warga sekitar yang dapat diberdayakan dalam proses produksi.
Baginya, perkembangan usaha akan lebih bermakna jika turut membuka kesempatan kerja dan menggerakkan ekonomi di lingkungan tempat usahanya tumbuh.
"Kita pengennya ke depannya bertumbuh semakin tinggi lagi. Kita juga berharapnya bisa support dari tetangga-tetangga sekitar yang kita berdayakan juga untuk ikut produksi kita," pungkas Yunita.