Indonesia Dinilai Terjebak 'Carbon Lock-in', Mengapa Target Energi Bersih Berisiko Sulit Tercapai?

Bimo Aria Fundrika

Rabu, 15 Juli 2026 | 12:14 WIB
Indonesia Dinilai Terjebak 'Carbon Lock-in', Mengapa Target Energi Bersih Berisiko Sulit Tercapai?
Pemerintah berambisi dalam program dekarbonisasi Unsplash/ Marcin Jozwiak

Suara.com - Indonesia dinilai masih terjebak dalam kondisi carbon lock-in, yakni ketika sistem ketenagalistrikan masih bergantung pada bahan bakar fosil sehingga menghambat percepatan penggunaan energi terbarukan.

Temuan itu disampaikan dalam laporan kolaborasi Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Universitas Indonesia bersama Greenpeace Indonesia.

Menurut laporan tersebut, kondisi ini berpotensi menghambat target pemerintah memangkas emisi gas rumah kaca sebesar 5,42–18,24 persen pada 2030, sekaligus merealisasikan pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas 100 gigawatt.

Dalam konteks ini, carbon lock-in tidak berarti Indonesia kekurangan teknologi energi bersih. Persoalannya justru terletak pada sistem dan kebijakan yang masih memberikan ruang besar bagi pembangkit berbahan bakar fosil untuk terus mendominasi pasokan listrik nasional.

Kepala Greenpeace Indonesia, Leonard Simanjuntak, mengatakan pembangunan PLTS dalam skala besar berisiko tidak memberikan dampak maksimal jika sistem kelistrikan tidak ikut dibenahi.

"Program PLTS 100 GW yang dimulai tahun 2026 ini berisiko besar menjadi sekadar proyek seremonial jika jaringan transmisi kita masih dikunci oleh kepentingan pembangkit fosil. Tanpa reformasi tata kelola yang radikal, investasi hijau hanya akan menjadi tempelan di dalam sistem ketenagalistrikan yang masih kotor dan kaku," ujarnya.

Empat faktor yang menghambat transisi energi

Laporan tersebut mengidentifikasi sedikitnya empat faktor utama yang membuat sistem ketenagalistrikan Indonesia masih bergantung pada energi fosil.

Pertama, proses perencanaan dinilai masih bias terhadap batu bara. Kebijakan Domestic Market Obligation (DMO) membuat harga batu bara untuk pembangkit listrik dipatok lebih rendah dari harga pasar sehingga listrik dari pembangkit fosil tampak lebih murah dibandingkan energi terbarukan.

baca juga

Kedua, realisasi pembangunan energi terbarukan masih jauh dari target. Hingga 2025, kapasitas pembangkit energi terbarukan baru mencapai sekitar 51,4 persen dari target dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL).

Ketiga, kontrak jual beli listrik jangka panjang membuat PLN tetap harus menyerap listrik dari pembangkit fosil, meskipun kebutuhan sistem mulai berubah.

Keempat, keterbatasan jaringan transmisi dan fasilitas penyimpanan energi membuat listrik dari sumber yang bersifat intermiten, seperti tenaga surya, belum dapat dimanfaatkan secara optimal.

Kebijakan dinilai menjadi persoalan utama

Kepala Kajian Ekonomi Hijau dan Iklim LPEM UI, Alin Halimatussadiah, mengatakan hambatan utama bukan berasal dari kesiapan teknologi, melainkan dari desain kebijakan yang belum mendukung percepatan transisi energi.

"Selama sistem ketenagalistrikan Indonesia masih terkunci dengan bahan bakar fosil, akan sulit mempercepat pertumbuhan energi terbarukan untuk mencapai target bauran energi yang telah ditetapkan pemerintah," katanya.

Berdasarkan pemodelan dalam laporan tersebut, penurunan biaya pendanaan proyek energi surya berpotensi mempercepat investasi. Misalnya, jika pemerintah mampu menurunkan biaya pembiayaan PLTS dari sekitar 10 persen menjadi lima persen melalui skema jaminan investasi, kebutuhan pembangunan pembangkit listrik berbahan bakar gas diperkirakan dapat berkurang hingga 24,8 persen.

Karena itu, peneliti merekomendasikan sejumlah langkah, mulai dari meningkatkan transparansi dalam perencanaan sistem kelistrikan, menyusun kontrak jual beli listrik yang lebih mendukung energi terbarukan, hingga mempercepat pembangunan jaringan transmisi dan membuka partisipasi swasta melalui skema seperti power wheeling.

Laporan tersebut menyimpulkan bahwa percepatan transisi energi tidak hanya bergantung pada pembangunan pembangkit energi bersih, tetapi juga pada pembenahan tata kelola sistem kelistrikan agar investasi energi terbarukan dapat berkembang secara optimal.

Penulis: Chairunisa

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Tanaman Malapari Berpotensi Jadi Komoditas Bioenergi, Bagaimana BRIN Dorong Pengembangannya?

Tanaman Malapari Berpotensi Jadi Komoditas Bioenergi, Bagaimana BRIN Dorong Pengembangannya?

News | Rabu, 15 Juli 2026 | 12:08 WIB

Koalisi Perempuan Indonesia: Transisi Energi yang Adil Harus Melibatkan Perempuan Sejak Awal

Koalisi Perempuan Indonesia: Transisi Energi yang Adil Harus Melibatkan Perempuan Sejak Awal

News | Selasa, 14 Juli 2026 | 14:50 WIB

Energi Bersih Tak Cukup Ramah Lingkungan, Tetapi Juga Harus Bisa Dipercaya

Energi Bersih Tak Cukup Ramah Lingkungan, Tetapi Juga Harus Bisa Dipercaya

Lifestyle | Senin, 13 Juli 2026 | 15:22 WIB

Terkini

9 Fakta Film Narnia: The Magician's Nephew Karya Greta Gerwig

9 Fakta Film Narnia: The Magician's Nephew Karya Greta Gerwig

Entertainment | Rabu, 14 Oktober 2026 | 11:20 WIB

Melihat Data, Mengapa Warga RI Makin Matang alias Makan Utang?

Melihat Data, Mengapa Warga RI Makin Matang alias Makan Utang?

Bisnis | Rabu, 14 Oktober 2026 | 11:19 WIB

Dugaan Korupsi Program Stunting Rp1,68 Miliar di Aceh Barat: 126 Saksi Diperiksa, Negara Rugi Segini

Dugaan Korupsi Program Stunting Rp1,68 Miliar di Aceh Barat: 126 Saksi Diperiksa, Negara Rugi Segini

News | Rabu, 14 Oktober 2026 | 11:19 WIB

Blackout Hari Ketiga, Warga Bintan Kesulitan Air Bersih dan Komunikasi

Blackout Hari Ketiga, Warga Bintan Kesulitan Air Bersih dan Komunikasi

Batam | Rabu, 14 Oktober 2026 | 11:19 WIB

Dunia Makin Terkoneksi: Kecerdasan Buatan Diproyeksi Hapus Hambatan Bahasa Lintas Negara

Dunia Makin Terkoneksi: Kecerdasan Buatan Diproyeksi Hapus Hambatan Bahasa Lintas Negara

News | Rabu, 14 Oktober 2026 | 11:19 WIB

KTT Manila Bakal Panas, Krisis Kebakaran Hutan Kalimantan dan Sumatera Jadi Bahasan Utama

KTT Manila Bakal Panas, Krisis Kebakaran Hutan Kalimantan dan Sumatera Jadi Bahasan Utama

News | Rabu, 14 Oktober 2026 | 11:17 WIB

Hadapi Dakwaan Pemerasan dan TPPU Rp354 Miliar, Febrie Ajukan Dua Nota Perlawanan

Hadapi Dakwaan Pemerasan dan TPPU Rp354 Miliar, Febrie Ajukan Dua Nota Perlawanan

News | Rabu, 14 Oktober 2026 | 11:16 WIB

DPRD DKI Usul Satgas Sampah Tingkat Kelurahan, Pengelola Bank Sampah Diusulkan Dapat Insentif

DPRD DKI Usul Satgas Sampah Tingkat Kelurahan, Pengelola Bank Sampah Diusulkan Dapat Insentif

News | Rabu, 14 Oktober 2026 | 11:16 WIB

OTT KPK di BNPB, Eks Menkeu Purbaya Pernah Ingatkan Jangan Mark Up Dana Bencana

OTT KPK di BNPB, Eks Menkeu Purbaya Pernah Ingatkan Jangan Mark Up Dana Bencana

Bisnis | Rabu, 14 Oktober 2026 | 11:13 WIB

5 Pesan Moral Four Hands Two Sonatas: Sisipkan tentang Trauma dan Ambisi

5 Pesan Moral Four Hands Two Sonatas: Sisipkan tentang Trauma dan Ambisi

Your Say | Rabu, 14 Oktober 2026 | 11:10 WIB

×