- Sejumlah SD Negeri di Pulau Jawa mengalami krisis murid baru pada tahun ajaran 2026/2027 akibat pergeseran ekspektasi masyarakat.
- Penurunan jumlah siswa menyebabkan dana BOS menyusut sehingga para guru terpaksa menggunakan dana pribadi untuk kebutuhan operasional.
- Mendikdasmen merespons kondisi tersebut melalui kebijakan regrouping sekolah guna meningkatkan efisiensi dan optimalisasi layanan pendidikan bagi siswa.
Suara.com - Pagi itu, bel masuk sekolah berbunyi nyaring, namun halaman terasa senyap. Di saat beberapa sekolah favorit kebanjiran pendaftar, kenyataan pahit justru menampar sejumlah Sekolah Dasar Negeri (SDN) di berbagai penjuru Pulau Jawa.
Fenomena ruang kelas kosong pada Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Tahun Ajaran 2026/2027 menjadi alarm keras: pamor SD Negeri perlahan memudar, tergerus oleh perubahan zaman dan ekspektasi masyarakat.
Minimnya pendaftar bukan lagi sekadar kasuistik, melainkan fenomena yang merata. Berikut adalah gambaran drastisnya penurunan jumlah siswa baru di berbagai daerah
Menyedihkan, namun dedikasi para pendidik tidak luntur. Di SDN Purwoyoso 01 Semarang, meski hanya tiga murid yang masuk, mereka tetap disambut meriah dengan maskot badut sirkus. Di Boyolali, Andiyani Mudrikah tetap mengajar penuh semangat meski Khanza menjadi murid tunggal di kelasnya.
Mengapa Pamor SD Negeri Menurun?
Krisis ini bukanlah murni karena kualitas pengajaran yang buruk, melainkan akumulasi dari berbagai faktor sistemik dan sosiologis.
![Infografis sekolah yang kekurangan murid. [Dok Suara.com]](https://media.suara.com/pictures/original/2026/07/20/54220-infografis-sd-negari.jpg)
Perjuangan Ekstra di Tengah Minimnya Bantuan
Kekurangan murid membawa efek domino pada pendanaan. Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) yang cair berdasarkan "kepala" siswa menyusut drastis.
Ironisnya, biaya operasional sekolah tidak ikut mengecil.
Demi menjaga napas pendidikan dan agar siswa tidak merasa sekolahnya sedang berjuang untuk bertahan hidup, para guru rela merogoh kocek pribadi.
"Kalau ada kegiatan yang tidak bisa ter-cover BOS, kami patungan. Itu yang membuat kami tetap bersemangat," aku Sri Puji Haryanti, Kepala SDN Pingit, Yogyakarta.
Hal serupa terjadi di Tulungagung, di mana guru-guru SDN 2 Plandaan patungan membelikan seragam bagi dua siswa baru mereka.
Antara Regrouping dan Reformasi Mutu
![Ilustrasi fenomena SD Negeri sepi peminat, hingga tak ada murid yang mendaftar. [Dok Suara.com/AI]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/07/14/56035-ilustrasi-sd-negeri-sepi-peminat.jpg)
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu'ti, merespons fenomena ini dengan memerintahkan pendataan sekolah yang memiliki murid di bawah 60 orang.
Ia juga telah menjalin komunikasi dengan Mendagri Tito Karnavian untuk mengadakan rapat khusus.
Sebagai langkah taktis, kebijakan regrouping atau penggabungan sekolah mulai diterapkan. Di Kota Serang, SDN 04, SDN 8, dan SDN 16 dilebur menjadi satu institusi demi efisiensi dana BOS dan optimalisasi layanan.
Namun, solusi ini tidak bisa dipukul rata. Di wilayah pegunungan seperti Temanggung, regrouping justru akan menyulitkan akses geografis siswa.
Ketua DPR RI, Puan Maharani, menegaskan bahwa fenomena ini harus menjadi momentum evaluasi total, bukan sekadar penutupan sekolah.
"Negara tidak dapat meminta masyarakat memilih sekolah negeri tanpa memastikan sekolah tersebut benar-benar menawarkan layanan yang dipercaya dan dibutuhkan keluarga," tegas Puan.
Fenomena ini adalah potret perubahan demografi dan ekspektasi masyarakat yang bergerak lebih cepat dari birokrasi pendidikan.
SD Negeri dituntut untuk segera bertransformasi—memperkuat pendidikan karakter, menghadirkan program ekstrakurikuler unggulan, dan merangkul inovasi—jika tidak ingin lonceng sekolah mereka benar-benar berhenti berbunyi selamanya.
Kontributor: All Regional