-
Iran merespons gertakan politik Amerika Serikat dengan memperkuat daya gentar militer secara maksimal.
-
Pengamat menilai diplomasi AS hanya dimanfaatkan sebagai alat pemaksaan, bukan kompromi sejati.
-
Strategi gertak sambal Washington diprediksi gagal menundukkan posisi Iran di Selat Hormuz.
Suara.com - Iran menegaskan bahwa satu-satunya langkah efektif menghadapi tekanan keras Amerika Serikat adalah dengan membangun daya gentar setinggi mungkin.
Langkah pertahanan strategis ini diambil sebagai jawaban langsung atas kebijakan luar negeri Washington yang dinilai sarat akan paksaan.
Pakar akademis dari University of Isfahan, Mohsen Farkhani, menilai pemaksaan menjadi inti dari pendekatan politik yang diterapkan Gedung Putih.
![Harga minyak dunia, termasuk di Indonesia terancam naik akibat perang antara Amerika Serikat dan Israel vs Iran di Teluk, yang membuat jalur perdangan minyak dunia di Selat Hormuz tak bisa dilewati. [Suara.com/Syahda]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/03/02/68097-perang-iran-selat-hormuz-dan-harga-minyak-dunia.jpg)
Ia memperingatkan bahwa langkah agresif AS justru akan mendorong Teheran untuk melipatgandakan kekuatan penangkalnya di kawasan.
Farkhani membeberkan bagaimana mekanisme tekanan tersebut dijalankan secara sistematis oleh kepemimpinan AS dalam berbagai forum.
"Strategi Trump adalah mengandalkan gertak sambal dan konflik murni untuk memaksa negara lain mematuhi tuntutannya," kata Farkhani kepada Al Jazeera.
"Dan hal ini terlihat dalam penggunaan tarif yang agresif, ancamannya untuk memborbardir Oman, dan tindakan agresi tidak sah yang kini ditujukan terhadap Iran," ujar analis tersebut.
Diplomasi internasional yang dijalankan Washington juga dinilai tidak ditujukan untuk mencapai kesepakatan bersama yang adil.
"Meskipun Presiden AS memang menggunakan diplomasi, ia melakukannya terutama sebagai alat untuk merancang dan memaksakan gertak sambal daripada untuk mencapai akomodasi timbal balik yang sejati," tutur Farkhani.
Situasi serba menekan ini menuntut Teheran untuk mengambil tindakan balasan yang memiliki dampak kalkulatif tinggi.
"Dalam skenario seperti itu, satu-satunya respons efektif terhadap strategi tersebut bagi Iran adalah menjatuhkan biaya tertinggi yang dimungkinkan dan membangun daya gentar terkuat yang dimungkinkan," ucapnya.
Eskalasi perselisihan kedua negara turut membayangi stabilitas jalur pelayaran vital di kawasan Timur Tengah.
Farkhani optimistis bahwa taktik gertakan politik tersebut tidak akan membuahkan hasil, termasuk di wilayah strategis Selat Hormuz.
Hubungan AS dan Iran memang terus memanas akibat serangkaian sanksi ekonomi serta ancaman militer yang dilancarkan secara terbuka.
Pendekatan saling gertak ini menempatkan keamanan wilayah geopolitik Timur Tengah dalam posisi yang sangat rentan.