-
Donald Trump mengancam pembalasan berlipat jika Iran kembali menewaskan personel militer Amerika Serikat.
-
Tiga tentara Amerika Serikat dilaporkan tewas dalam insiden serangan terpisah di Yordania dan Irak.
-
Kedua negara kini mempertimbangkan opsi gencatan senjata 10 hari demi memulihkan jalur diplomasi.
Suara.com - Perang Timur Tengah mencapai titik didih baru setelah tiga prajurit Amerika Serikat dilaporkan gugur dalam serangan terbaru.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump langsung melayangkan gertakan keras dan mengancam bakal menghancurkan Iran jika ada lagi darah tentara kawasannya yang menetes.
Peringatan tegas ini menandai kerapuhan kesepakatan damai yang baru saja dirintis kedua negara beberapa bulan lalu.

“Setiap kali Iran membunuh seorang tentara Amerika, mereka akan membayar berkali-kali lipat atas tindakan itu,” tulis Trump melalui platform media sosial Truth Social pada Senin (20/7).
Instruksi perang tersebut telah diteruskan langsung ke pimpinan tertinggi militer AS, mulai dari Menteri Pertahanan Pete Hegseth hingga Ketua Kepala Staf Gabungan Jenderal Daniel Caine.
Ancaman itu diutarakan bersamaan dengan aksi jet tempur AS yang terus menggempur titik-titik krusial di wilayah selatan Iran.
Tidak tinggal diam, Teheran membalas gempuran tersebut dengan merudal sederet fasilitas dan basis pertahanan yang diduga menjadi sarang militer AS.
Pentagon memvalidasi gugurnya tiga personel mereka, yakni dua prajurit di pangkalan Yordania serta satu lainnya di Irak utara.
Peluang Gencatan Senjata dan Latar Belakang Konflik
Baku tembak mematikan ini ironisnya pecah di tengah komitmen nota kesepahaman damai yang dimediasi Pakistan sejak Juni lalu.
Guna meredam pertumpahan darah yang lebih luas, kedua belah pihak kini sedang mengkaji opsi gencatan senjata selama 10 hari.
Rencana jeda kemanusiaan ini digadang-gadang bakal menjadi pintu masuk pembukaan jalur pelayaran vital di Selat Hormuz.
Gedung Putih menegaskan bahwa jalur diplomasi tetap diretas tanpa mengendurkan tekanan militer terhadap Teheran.
“Saat ini, Presiden Trump berfokus memastikan Iran mempertanggungjawabkan pelanggaran terhadap nota kesepahaman serta aksi terorisme yang terus dilakukan di Selat Hormuz,” kata seorang pejabat AS.
Pemerintahan Trump memastikan bakal menuntut ganti rugi penuh atas nyawa para prajurit yang telah gugur.
“Pukulan telak ini akan terus berlanjut sampai presiden memutuskan sebaliknya, tetapi pembicaraan antara negara kita terus berlanjut,” ujarnya.
Ketegangan antara Washington dan Teheran berakar dari perselisihan panjang terkait pengaruh geopolitik serta keamanan jalur maritim internasional di kawasan Gulf. Meskipun nota kesepahaman telah ditandatangani pertengahan tahun ini untuk meretas jalan perdamaian, saling serang di pangkalan militer Yordania dan Irak membuktikan bahwasanya friksi kedua negara masih sangat rentan meletus kembali.