-
Kematian remaja Australia menjadi kasus fatal pertama akibat alergi daging pemicu kutu.
-
Gigitan kutu menyebabkan tubuh menolak zat gula daging mamalia hingga memicu anafilaksis.
-
Kesadaran masyarakat dan penanganan medis yang cepat sangat krusial untuk mencegah kematian.
Suara.com - Seorang remaja di Australia meninggal dunia setelah gigitan kutu. Penyesalan mendalam masih membayangi Myfanwy Webb atas tragedi kehilangan putra terkasihnya. Ia menyadari ada petunjuk vital yang terlewatkan sebelum nasib naas menimpa sang anak.
Gejala fatal tersebut muncul tak lama setelah pesta ulang tahun keluarga beberapa tahun silam. Jeremy yang kala itu berusia 15 tahun mendadak kesulitan bernapas hingga muntah-muntah.
Tim medis hospitalisasi memang sempat mencurigai adanya indikasi alergi daging pada tubuh Jeremy. Namun, penanganan medis justru berfokus pada riwayat asma masa kecilnya hingga ia diperbolehkan pulang.

"Saya mengambil keputusan yang salah," kata Webb.
Webb amat menyesal tidak mendesak pemeriksaan laboratorium yang lebih mendalam kala itu. Ketidaktahuan tersebut berujung fatal saat Jeremy menghembuskan napas terakhir usai menyantap sosis sapi.
Ruang forensik akhirnya menyimpulkan bahwa gigitan kutu memicu reaksi mammalian meat allergy (MMA). Reaksi parah inilah yang memicu serangan asma mendadak hingga merenggut nyawanya.
Kematian Jeremy tercatat sebagai kasus fatal pertama di dunia yang terkonfirmasi akibat sindrom alpha-gal. Pakar kesehatan kini memperingatkan bahwa ancaman alergi ini terus meningkat drastis.
Secara medis, alergi MMA terpicu oleh paparan molekul gula dalam air liur kutu. Paparan berulang membuat sistem kekebalan tubuh menolak segala jenis produk turunan mamalia.
Kawasan pesisir timur Australia kini dikategorikan sebagai wilayah berisiko tinggi penyebaran kutu. Pergeseran pemukiman warga ke area semak-semak turut memperluas potensi interaksi dengan vektor ini.
"Jika orang-orang tahu apa yang bisa dilakukan oleh seekor kutu," kata van Nunen.
Riset menunjukkan bahwa paparan ganda gigitan kutu meningkatkan antibodi alpha-gal secara signifikan. Fenomena ini memicu risiko alergi daging pada sebagian besar penderitanya.
Diagnosis kasus ini terbilang rumit karena reaksinya sering kali tertunda beberapa jam. Ditambah lagi, gejala alergi sering kali menyerupai serangan asma biasa pada umumnya.
Penderita tingkat lanjut bahkan bisa bereaksi hanya karena menghirup asap masakan daging. Benda sehari-hari yang mengandung lemak hewan pun mampu memicu serangan mendadak.
"[Mereka berkata] 'Kamu menjadi sedikit hipokondria - ini bukan anafilaksis - lupakan saja'," kenangnya.
Ketidakpastian diagnosis memberikan tekanan mental yang sangat berat bagi para penyintas. Banyak penderita harus mengisolasi diri dari lingkungan sosial demi menghindari paparan pemicu.