-
Kematian remaja Australia menjadi kasus fatal pertama akibat alergi daging pemicu kutu.
-
Gigitan kutu menyebabkan tubuh menolak zat gula daging mamalia hingga memicu anafilaksis.
-
Kesadaran masyarakat dan penanganan medis yang cepat sangat krusial untuk mencegah kematian.
Ancaman terbesar justru mengintai warga yang memiliki antibodi namun belum menunjukkan gejala klinis. Kelompok ini berisiko mengalami reaksi fatal saat menjalani prosedur medis tertentu.
Penggunaan obat-obatan bersalut gelatin atau transfusi darah dapat memicu reaksi anafilaksis mendadak. Kasus kematian akibat komplikasi medis semacam ini diduga kuat pernah terjadi sebelumnya.
"Mereka langsung mengalami status asthmaticus dan... kecuali Anda melakukan intubasi pada mereka dalam waktu tertentu, jika mereka mengalami henti napas, Anda memiliki waktu empat menit, jika tidak mereka akan mati otak," jelasknya.
Anak-anak dan remaja dengan riwayat asma menjadi kelompok paling rentan terhadap komplikasi alergi ini. Serangan saluran pernapasan yang terlambat ditangani dapat berujung pada kematian otak.
Ibu dari alm. Jeremy kini aktif mengampanyekan kesadaran publik mengenai bahaya sindrom alpha-gal. Langkah ini diambil guna memastikan tidak ada lagi keluarga lain yang mengalami tragedi serupa.
Kondisi MMA pertama kali teridentifikasi oleh pakar alergi di Sydney hampir dua dekade lalu. Perkembangan permukiman manusia yang semakin mendekati habitat alami kutu dinilai menjadi faktor utama lonjakan kasus ini di berbagai negara.
"Sekarang sudut pandang positif [Jeremy] benar-benar membantu orang-orang, meskipun dia telah meninggal," katanya. "Saya pikir dia akan sangat senang dengan kita."