-
AS menolak bertemu Iran sebelum Teheran siap menggelar perundingan nuklir yang berdampak nyata.
-
Donald Trump mengancam akan menggempur lokasi material nuklir Iran dengan kekuatan militer sangat besar.
-
Serangan balasan AS merusak kesepakatan damai yang sebelumnya telah dimediasi oleh Pakistan.
Ketika ditanya apakah Iran telah memindahkan sentrifus nuklir ke Pickaxe Mountain, Trump menjawab, “Saya pikir mungkin saja. Kami tidak memiliki catatan yang memastikan hal itu.”
Kendati demikian, fokus utama intelijen AS berada pada pergerakan dan pelacakan material nuklir aktif yang tersimpan.
“Kami melacak materialnya. Di situlah inti persoalannya, dan kemungkinan besar kami akan mendatangi wilayah itu dalam waktu dekat,” tambahnya.
Pernyataan ini mengindikasikan bahwa gempuran lanjutan berdaya hancur tinggi tinggal menunggu waktu pelaksanaan.
“Biasanya saya tidak akan mengatakan ini. Jika saya pikir mereka bisa melakukan sesuatu untuk mengatasinya, saya tidak akan pernah mengatakannya. Namun kami akan menyerang wilayah itu dalam waktu dekat, dan dengan kekuatan yang sangat besar,” tambah Trump.
Sebelumnya, jajaran militer AS merancang beberapa opsi aksi balasan mematikan di Ruang Situasi Gedung Putih.
Rencana ofensif tersebut mencakup penguasaan terminal minyak utama Pulau Kharg hingga bombardir udara ke Pickaxe Mountain.
Gempuran balasan pun meletus setelah Iran menargetkan markas serta pangkalan sekutu AS di pelbagai kawasan regional.
Eskalasi berdarah ini secara praktis menghancurkan nota kesepahaman damai yang sempat dimediasi Pakistan pada Juni lalu.